Kalau Kamu Cinta…

Kalau kamu cinta si dia, semuanya akan tampak baik. Bahkan hal-hal yang nggak ngenakin sekalipun, selalu ada pembenaran dari tiap hal yang dia lakukan. Iya, kan? Iya, dong?

Dulu, sekitar 2,5 tahun lalu saya benci banget ketika ditugaskan di Boarding. “Ruangan apaan nih? Nggak jelas, nggak punya departemen, ruangan buangan.” kata saya dalam hati. Kalau kata anak kekinian: kzl.

Kian hari kian repot. Banyak pasien, pasiennya banyak tindakan, tindakannya banyak persiapan, persiapan banyak makan tenaga, tenaganya nggak ada!

Jangan tanya how complicated Boarding is? Ter-rusuh, ter-grasak-grusuk, ter-chaos. Kalau mau masuk ke dalam daftar tempat ter-semraut, Boarding ada diurutan ke-4 setelah IGD, Poli, dan, UPPJ (versi saya, hehehe). Mana lagi ruangan yang depannya berjejer pasien-pasien selasar? Nggak ada, cuma Boarding. Ah pokoknya kalau diceritakan panjang lah.

Nggak sabar. Terlalu banyak ‘kapan’ yang selalu kami tanyakan. Kapan Boarding berubah? Kapan bisa tertata rapi dan punya departemen sendiri? Kapan nggak akan dihiasi pasien selasar lagi? Kapan? Kapan? Jangan jawab kapan-kapan, please!

Learn to wait. There’s always time for everything.

Waktu berlalu. Hingga akhirnya kami perlahan masuk dalam tahap acceptance. Menerima bahwa beginilah Boarding — ruangan kami — dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Boarding memang kacau. Tapi kalau mau dilihat lebih dekat, banyak hal yang bisa kita petik.

Seperti kebun buah, kita bisa memetik buah apa saja yang mau kita makan. Yang manis — segala keseruan, kegilaan, kebersamaan, dan hal-hal sepele yang-diketawain-aja-jangan-dijadiin-beban. Yang asem — dapet reservasian yang jelek-jelek mulu, gontok-gontokan sama petugas admisi, farmasi, dan laboratorium. Yang pedes — transfer pasien ke ruangan lain dan nggak balik sebelum kenyang dimaki kakak perawat yang ‘katanya’ lebih senior: INGAT PASAL 1, DEK! Apa, dek? Senior selalu benar. Yang pahit — code blue beruntun, berminggu-minggu jaga apek diruangan yang jelek semua pasiennya dan kebal banget nggak ke-bye-bye. Dari sekian yang disebutkan, yang paling berharga adalah ilmu yang kita dapatkan selama di Boarding. Banyak sekali tindakan dan persiapannya, istilah medis, obat-obatan, prosedur ini-itu mengenai jaminan, transfer pasien, dan lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu yang bisa kita pelajari di Boarding, baik dari penyakit dalam, bedah, neurologi, psikiatri, rehab medik, dan lain-lain. Bahkan, pelajaran berharga tak jarang sering kita dapatkan dari pasien dan keluarganya. Makna tentang perjuangan, kekeluargaan, toleransi, cinta, dan kasih sayang. Semua ada di Boarding laiknya ensiklopedia. Buka halaman berapa saja, akan kita temukan apa yang kita cari.

Enak-nggak-enaknya kita berada di suatu tempat memang tergantung sudut pandang kita sendiri. Yang belum pernah jaga Boarding mungkin males dan mungkin sama seperti saya dulu — benci banget. Tapi ketimbang melihat bebatuan tinggi dan jurang yang dalam nan terjal, lebih baik kita melihat pegunungan dengan hamparan kebun teh serta warna-warni bunga di antara hehijauan. Sekali lagi, tergantung kita mau lihat ke arah mana.

Never stop learning, because life never stops teaching.

Boarding adalah wadah bagi saya, kamu — dan kita semua, untuk sama-sama belajar. Kita belajar tapi dibayar. Dibayar secara materi sekaligus mendapatkan bonus pengalaman-pengalaman luar biasa yang saat kita kenang kelak bikin kita senyum-senyum sendiri — kemudian terharu, dan menangis tersedu-sedu karena rindu berat sama Boarding.

Boarding = IPD?

Rumor tersiar, Boarding akan masuk departemen Penyakit Dalam ditahun 2017. Artinya? Nggak ada boarding. Boarding bukan IPD, bukan Neuroscience, bukan bedah. Boarding adalah…

Tunggu. Saya tak bisa jelaskan. Ini adalah jawaban pertanyaan ‘kapan’ kami beberapa tahun lalu. Kapan Boarding berubah? Kapan kami tertata rapi dan punya departemen sendiri? Kapan nggak akan dihiasi pasien selasar lagi?

Crystal clear. Boarding akan hilang, tak lagi sama. Sungguh, rasanya ingin kembali ke beberapa tahun silam dan berhenti menyuarakan ‘kapan’ kepada pimpinan. Saya ingin Boarding tetap ada — karena cinta mulai terasa. Jatuh cinta sama Boarding dengan segala keunikan dan keberagamannya.

Lantang saya melafalkan saya benci Boarding — nggak suka banget. Dan, mengacuhkan suara hati — kamu cinta Boarding, Ka. Tak mau mendengar hati yang berteriak-teriak pada diri. Sungguh manusia memang kadang tak pandai bersyukur, meminta apa yang tak dimiliki. Sekalinya diberi, malah lari dan mencari yang lain lagi. Dan sungguh hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi kami.

There is no real ending. It’s just the place where you stop the story.
Kamu cinta juga kan sama Boarding?

Depok, 21 November 2016. Pukul 15.00 WIB

©ikaputrimardiani