Sabar.

Sus, sabar itu ternyata susah ya. Kita mah gampang ngasih tau orang biar sabar, giliran kita sendiri boro-boro kuat..”.
Iya ya, bu..

Cuplikan obrolan antara saya dan pasien saya — Ibu Leni — siang hari itu meninggalkan kesan mendalam bagi saya pribadi. Betapa tidak, saya sendiri merasa tertampar.

Masih saya ingat jelas siang itu ketika Ibu Leni tiba-tiba berkata demikian sambil kedua bola matanya menatap kosong, seolah sedang menatap sesuatu yang jauh, jauh sekali. Entah ia sedang merasa bahwa harapan untuk sembuh baginya itu sangat jauh atau kosong samasekali, atau saat itu ia sedang berusaha menatap Sang Pencipta dan bertanya mengapa cobaan baginya terasa begitu berat. Ada banyak ‘mengapa’ dalam tatapannya. Mengapa penyakitnya terasa begitu menyiksa? Mengapa ia tak kunjung sembuh? Mengapa harus ia yang mengalami semua itu?

Lama Ibu Leni larut dalam lamunannya hingga 4 cc Transamin — obat antiperdarahan — berhasil memecah keheningan. Ibu Leni mual muntah setiap kali disuntikkan obat tersebut, ia bilang mulutnya terasa pahit. Setelah memberikannya minum, saya memegang bahunya — mencoba menguatkan.

“Bu, ibu nggak sendiri. Banyak yang kayak ibu. Ibu harus tetap semangat, istighfar jangan sampai putus. Ibu lagi diuji, mudah-mudahan sakitnya ibu ini bisa jadi penggugur dosa.”

Ibu Leni hanya tersenyum.

“Makasih ya, Sus..”

Saya tinggalkan Ibu Leni, masih dalam tatap nanar diwajahnya. Dalam pandangan saya, Ibu Leni justru sosok yang kuat. Saya sendiri belum tentu sanggup bila mengalami hal yang sama. Saya mungkin lebih terpuruk dibandingkan beliau.

PNH atau Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria adalah penyakit kelainan darah yang jarang dan masih belum diketahui pasti penyebabnya. Tentu jika saya didiagnosa penyakit seperti ini maka saya juga akan sama tertekannya seperti Ibu Leni. Denial, itulah yang saya rasakan ketika sedang berinteraksi dengan beliau. Walau tampaknya beliau ikhlas menerima penyakitnya, tak jarang beliau berulang kali menanyakan pertanyaan yang sama tentang penyebab penyakit yang dideritanya. Seolah berharap bahwa ada jawaban berbeda yang saya berikan. Sering kali saya pun tak kuasa menahan air mata. Ketika mata saya mulai berkaca-kaca, saya mencari alasan untuk meninggalkan Ibu Leni. Sayang, kami — tenaga kesehatan — tak boleh meneteskan airmata di depan pasien.

“Istighfar terus ya, Bu. InsyaAllah dikuatkan..”

Betul ternyata. Sabar itu memang terasa mudah sebatas kata tapi praktiknya sungguh membutuhkan usaha yang luar biasa. Namun kita tak boleh lupa, ada Dia Yang Maha Kuasa. Allah SWT, yang memberikan bahu yang lebih kuat dari beban yang bagi kita terasa berat.

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. [Al-Baqarah : 177]

Ibu Leni, semangat terus! Kuat ya, Bu. Ada Allah ☺

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.