
Hanya aku, dan angin sepoi-sepoi, dan mungkin juga kursi yang berjejer rapi di depan pagar besi. Bagaimana mungkin aku dan tas lesu di punggungku mampu menari-nari di dalam pikiranmu? atau dengan sepatu bernoda cokelat sedikit kekuningan yang hampir saja mengotori halamanmu.
Kau menjawab bagaimana-ku dengan memberikan bagaimana yang lain padaku; bagaimana jika aku dan kau menari bersama di taman-taman yang tak takut akan noda cokelat sepatuku. Begitu katamu. Seolah kau memberikan jaminan permen kepada seorang anak perempuan jika ia rela ditinggal ibunya ke supermarket.
Lalu, bagaimana jika kau tetap saja di sampingku, di depanku, di belakangku, dimanapun aku berada, ajari aku menari dan awasi aku menari. Umpama aku jatuh, kau tentu paham gerakan seperti apa yang membuat lenganmu menjadi tempat paling aman, seperti siswa kelas 2 SD yang baru saja diajarkan 2+2=4, bagaimana?