Pada hari-hari yang tidak terlalu cerah, kau selalu menyirami pohon jambumu. Warna buahnya lebih merah dari sebelumnya. Kau mengharapkan buah yang manis. Tentu saja tak selalu kau dapatkan. Tapi harapmu padanya barangkali tak pernah habis. Sebab itu ia masih tumbuh walau tak jarang pula ia menangis.

Pada hari-hari lain, kau justru memetik daunnya satu persatu. Membuatnya gugur dan rantingnya kau biarkan kesepian. Ia terjatuh pada jalan-jalan yang hampir kau lalui. Sesekali membuatmu celaka lalu kau membunuh sebagian dirinya untuk pergi.

Andai saja hari-hari lain itu tak ada, kau akan mendapatkan pohon jambu itu tumbuh subur di ujung matamu. Menjadi alasan datangnya kabar-kabar baik yang menjadi tempat untuk berteduh.

Sayang sekali, hari lain itu terjadi lagi hari ini. Untuk kesekian kali, pohon jambu itu menangis untuk dirinya sendiri.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.