Teori Kontrak dan Tindakan Kolektif

Setelah memahami biaya transaksi maka selanjutnya kita akan membahas tentang kontrak. . Kontrak secara umum menggambarkan kesepakatan satu pelaku untuk melakukan tindakan yang memiliki nilai ekonomi kepada pihak lain, tentunya dengan konsekuensi adanya tindakan balasan atau pembayaran. kontrak tidak beda jauh dengan perjanjian bedanya itu tertulis. seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya pembuatan kontrak termasuk biaya transaksi sehingga kita harus memaksimalkan efisiensi, hal yang dapat membuat inefisiensi adalah asimetris informasi

dalam kegiatan ekonomi moderen tipe kontrak setidaknya dipilah dalam tiga jenis, yakni teori kontrak agen, teori kesepakatan otomatis, dan teori kontrak relasional.

  1. Teori Kontrak Agen

Dalam teori agency diandaikan setidaknya terdapat dua pelaku yang berhubungan, yakni prinsipal dan agen. Prinsipal adalah pihak yang mempekerjakan agen untuk melaksanakan pekerjaan atau layanan yang diinginkan oleh prinsipal. Di luar itu, prinsipal juga memfasilitasi bagi keberhasilan sebuah aktivitas yang telah didelegasikan kepada pihak agen, misalnya otoritas untuk mengambil keputusan.

2. T eori Kesepakatan Otomatis

dalam teori kontrak agensi diasumsikakn kesepakatan bisa ditegakkan secara hukum, maka dalm teori kesepakatan otomatis diandaikan tidak seluruh hubungan atau pertukaran bisa ditegakkan secara hukum . Disini dinyatakan bahwa sistem hukum sangat mungkin tidak sempurna atau informasi yang relevan tidak bisa diverifikasi oleh pengadilan. Oleh karena itu, salah satu kemungkinan bagi relasi bisnis dalam jangka panjang adalah membuat atau menemukan sebuah kontrak yang berisi kesepakatan yang dapat ditegakkan secara otomatis. Kontrak semacam ini didesain untuk memastikan bahwa keuntungan dari berbuat curang selalu lebih rendah dari laba yang didapatkan dengan mematuhi kontrak yang telah disepakati. Jadi, disini tidak ada pihak ketiga yang melakukan intervensi. Model seperti ini juga disinonimkan dengan istilah kontrak implisit

3. Teori Kontrak Relasional

kontrak relasional dapat dipahami sebagai kontrak yang tidak bisa menghitung seluruh ketidakpastian di masa depan, tetapi hanya berdasarkan kesepakatan dimasa silam. saat ini dan ekspektasi terhadap hubungan masa depan diantara pelaku yang terlibat kontrak Lebih bersifat informal dan longgar. Jika terjadi persoalan dalam hubungan kontrak tidak diselesaikan lewat pengadilan. Misalnya Kontrak kerjasama dalam usaha keluarga/ usaha yang sudah berjalan sangat lama.

Pilihan Rasional dan Tindakan Komunikatif

Setidaknya terdapat dua pendekatan dalam teori pilihan rasional, yakni pendekatan kuat (strong approach) dan pendekatan lemah (weak approach). Pendekatan kuat melihat rintangan sosial dan kelembagaan sebagai produk dari tindakan rasional dan tindakan rasional itu sendiri menjadi sebab munculnya analisis pilihan rasional. Sedangkan pendekatan lemah menempatkan halangan sosial dan kelembagaan sebagai suatu kerangka yang pasti ada (given framework) karena aktor-aktor rasional berupaya memaksimalisasikan keuntungan atau meminimalisasikan biaya.

Dengan mencermati deskripsi tersebut, secara sederhana dapat dinyatakan bahwa rintangan sosial, dan kelembagaan sama-sama eksis dalam pendekatan kuat maupun lemah. Namun, dalam pendekatan kuat diandaikan hambatan sosial dan kelembagaan sebagai pemicu munculnya tindakan rasional. Sebaliknya, dalam pendekatan lemah hambatan sosial dan kelembagaan lahir akibat pertarungan rasional antara individu yang berupaya memaksimalisasikan laba dan meminimalisasikan ongkos. Tentunya, jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan tindakan kolektif dari dua versi teori pilihan rasional tersebut berbeda, tergantung pendekatan mana yang eksis.

Daftar Pustaka

Yustika, Ahmad Erani. 2012. Ekonomi Kelembagaan : Paradigma, Teori, dan Kebijakan. Jakarta. Erlangga.
TEORI KONTRAK DAN TINDAKAN KOLEKTIF
 — http://kebijakanmoneter.blogspot.co.id/2016/09/ekonomi-kelembagaan-teori-kontrak-dan.html

Ekonomi Kelembagaan
#TUGAS5

Ikrar Persada B. Tjaru

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.