Image by: widiaputrarie

Da Aku Mah Apa Atuh

Da aku mah apa atuh/slang/ 1 siapa sih diriku ini; kalimat untuk menggambarkan seseorang yang menganggap dirinya sendiri rendah, terkadang dilanjutkan dengan kalimat yang menunjukkan keinginan untuk tetap melakukan sesuatu yang berarti. ~www.tukangteori.com

Kalimat canda yang seringkali dibuat jenaka “Da aku mah apa atuh” sempat tenar beberapa waktu lalu, dan bahkan seringkali jadi bahan guyon di berbagai situs media sosial dan juga di banyak meme.

Walaupun kalimat ini sebenarnya muncul dengan tujuan sebagai lelucon atau bahan bercanda, ada satu hal unik yang sebenarnya bisa di-’pelajari’ oleh kita sebagai orang yang mengaku sebagai umat Kristen, yaitu keberanian untuk mengakui diri kita ini ‘bukan siapa-siapa'.

1 Petrus 1 : 18–19
18 “
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, 19 melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”

Teringat khotbah dari Pdt. Joseph Theo beberapa waktu lalu mengenai spiritualitas ketiadaan (I am nobody) yang semestinya menjadi spirit yang terus dikejar oleh pengikut Kristus, mengejar keintiman dengan Tuhan, bukan terjebak dengan mengejar kebanggaan diri oleh segala status duniawi dan hal kedagingan.

Kekristenan seringkali di-salah-artikan sebagai kegiatan aktivitas dan rutinitas bergereja, dari tidak ke gereja jadi pergi ke gereja, dari tidak ikut aktivitas jadi ikut aktif masuk kepanitiaan ataupun pelayanan komisi, kegiatan fisiknya berubah, tapi sifat dan pola pikir kedagingannya masih sama dan tidak ditinggalkan.

Masih begitu banyak spiritualitas “I am somebody” berkeliaran di gereja dan merasa dirinya adalah paling benar dan lebih baik daripada orang lain. Begitu banyak orang Kristen ‘sakit’, mengaku Kristen tapi masih memegang mentalitas mengejar dihormati dan dihargai oleh manusia, bukan mencari status berkenan di mata Tuhan.

Ketika seseorang memegang prinsip “I am somebody”, pribadinya akan selalu terjebak ke dalam kebanggaan diri dan perasaan bahwa dirinya paling dibutuhkan, paling berkontribusi dan tidak jarang merasa dirinya yang paling hebat dan pintar. Kondisi ini akan menjadikannya begitu tipis telinga, sangat sensitif untuk mendapatkan saran terlebih lagi kritikan. Setiap masukan yang didapat akan sering dilihat sebagai sebuah tindakan menyerang dirinya secara personal dan sibuk mencari perisai pembenaran diri. Karakter ini akan menyeret ke dalam sebuah kondisi dimana pribadinya menjadi sangat anti-kritik tapi begitu rajin mengkritik dan menilai orang lain melalui kacamatanya sendiri.

“Da aku mah apa atuh, hanya manusia berdosa! Anugerah luar biasa kalau Tuhan masih berikan aku kesempatan bernafas untuk berjuang memberikan hidup yang berkenan bagiNya.”

Betapa indah dan bermaknanya kehidupan ini apabila setiap pribadi bisa berani untuk hidup dalam spiritualitas ketiadaan, berani untuk mengatakan kepada dirinya sendiri “I am nobody” dan menyadari dengan segenap hati dan pikiran bahwa hidupnya adalah sebuah anugerah dari Tuhan semata. Kalau dirinya masih bisa bangun pagi ini dan bernafas sampai detik ini adalah semata karena Tuhan masih mengizinkan dan sebuah kesempatan yang Dia anugerahkan untuk terus belajar membenahi dan memperbaiki diri agar bisa memberikan hidupnya yang berkenan di hadapan Tuhan.

Kesadaran penuh “I am nobody” akan menjauhkan kita dari merasa diri paling hebat dan mencegah diri dari merasa layak untuk menilai orang lain. Kita juga akan dapat dengan sadar untuk rendah hati menerima masukan bahkan kritik dan teguran tanpa melihat posisi dan jabatan yang dipercayakan kepada kita. Kita akan dimampukan untuk menyadari bahwa sebagai manusia berdosa kita tidak kebal dari melakukan kesalahan.

Karena pada ujungnya kelak, ketika kematian menghampiri, tidak ada jabatan, harta, kekuasaan atau kehormatan apapun yang dapat melepaskan kita dari jemputan kematian. Ketika saat itu datang, yang muncul dalam kepala kita mungkin hanyalah kilas balik kehidupan yang telah dijalani, ingatan atas kehidupan seperti apa yang telah kita ‘berikan’ bagiNya.

Renungan sederhana yang rasanya layak kita gumuli di awal tahun ini, “Ketika kematian itu menghampiri, seberapa siapkah kita mempertanggungjawabkan kehidupan yang Dia anugerahkan ini kepadaNya?”


Selidiki Aku
SELIDIKI AKU
Selidiki aku lihat hatiku
apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus
Kau yg maha tau
dan menilai hidupku
tak ada yg tersembunyi bagi-Mu
Reff:
T’lah kulihat kebaikanMu
yang tak pernah habis di hidupku
ku berjuang sampai akhirnya
Kau dapati aku tetap setia
Like what you read? Give leonardus a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.