Buah Pikir, Logika dan Kebenaran Mutlak

Artwork by Tommy Ingberg

Saya seringkali menemukan kata ‘buah pikir’. Diksi itu biasanya digunakan sebagai pengganti kata ‘ide’ atau ‘gagasan’. Lalu mengapa disebut dengan buah? Apakah ada persekongkolan antara ‘buah pikir’ ini dengan berbagai buah-buahan lain, seperti ‘anak buah’ dan ‘buah dada’? Barangkali pertanyaan ini tidak ada pentingnya bagi indeks prestasi anda atau pengaruhnya terhadap gaji lembur yang tak kunjung dibayar itu. Akan tetapi, sebagai insan budiman yang gemblung, saya merasa perlu sedikit berpikir lebih jauh soal itu.

Bicara tentang buah, maka ijinkan saya mengutip kata mutiara yang berbunyi: ‘pohon dikenal dari buahnya’. Meski di kancah perpohonan kita lebih sering mendengar ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’. Keduanya memiliki tujuan makna yang berbeda. Saya merasa lebih perlu mengantar penelusuran ini dari kata mutiara yang pertama tadi.

Dalam belantika kepohonan kita tahu jika ada banyak sekali varian pohon. Beberapa diantaranya memiliki bentuk yang mirip. Entah memang dari jenis pohon yang sama, atau sekedar mirip saja. Contoh sederhananya pohon pisang. Kita mengenali pohon pisang karena bentuknya yang khas. Gambaran pohon pisang yang saya tahu dan anda tahu barangkali sama. Tapi kita baru tahu itu pohon pisang ambon atau pisang koja setelah melihat buahnya.

Pohon dikenal dari buahnya.

Persis seperti manusia yang baru diketahui siapa dirinya setelah terlihat ‘buah’ apa yang sudah ia hasilkan. Maka kata ‘buah pikir’ berarti hasil dari suatu pemikiran. Sebagai individu yang barangkali pernah mengaku sebagai milenial kreatif, tentu berpikir adalah sebuah keharusan. Berpikir yang saya maksud adalah upaya mengolah akal di luar pikiran sehari-hari.

Pohon dikenal dari buahnya. Manusia pun dikenal dari buahnya, yakni buah-buah pikirannya. Buah yang masih mentah menunjukkan manusia itu mentah. Buah yang matang menunjukkan manusia itu matang. Maka dewasa dan belum dewasa tidak ditentukan dari berapa banyak timbunan umur dan kelebatan bulu. Tapi dari kualitas pikirnya.

Saya sering menemui adu argumen dari beberapa orang di belantara maya. Ada yang membuat saya mengangguk setuju, namun ada dan banyak yang membuat kepala saya joget tori-tori karena saking gemesnya. Pada titik ini, saya rasa kita perlu sedikit lagi mengupas duduk perkara pikir-memikir ini. Melalui Widyamartaya, Lic.Phil, saya mendapati jika berpikir dibagi menjadi tiga; berpikir logis, berpikir non-logis, dan berpikir ilogis.

Saya berpikir logis jika saya menyatakan, “Saya lapar. Saya mau makan.” Lalu jika saya bilang, “PRO ATT itu sepatu yang bagus. Yeezy itu biasa saja.” Maka saya sedang memberikan pernyataan non-logis. Sementara itu jika saya mengatakan, “Kemarin saya mendengar seekor burung gagak memanggil-manggil nama saya.” Itu merupakan pernyataan ilogis.

Lalu di mana posisi kata ‘tidak logis’? Apakah masuk dalam pengertian non-logis atau ilogis? Perbedaan dari keduanya saya rasa cukup jelas. Pernyataan ilogis sama halnya dengan irasional/tak masuk akal. Yang berarti sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Pernyataan ilogis bisa disangkal dengan pernyataan logis. Maka kata ‘tidak logis’ lebih tepat digunakan sebagai penerjemahan kata ilogis.

Sedangkan non-logis ini biasanya berkaitan pada selera. Seperti tadi, saya meyatakan tidak suka Yeezy dan saya suka PRO ATT. Jika saya lebih menyukai PRO ATT daripada Yeezy, saya tidak lantas ‘berdosa’ terhadap logika. Sebab saya sedang menyatakan selera, hal yang sama sekali tak perlu diperdebatkan. Setiap orang memiliki selera yang berbeda-beda. Tergantung pada kepercayaan, perasaan, pengalaman dan keadaan orang tersebut.

Selain kedua hal tersebut, masih ada gaya berpikir logis yang perlu diulas lebih kemaki lagi. Salah satunya dengan berangkat dari pemikiran René Descartes. Hal menarik yang sering saya jadikan acuan dalam berpikir adalah teori beliau tentang perbedaan pendapat. Menurutnya, perbedaan pendapat itu bukan karena logika (good sense/pikiran sehat) orang yang satu lebih baik dari daripada logika yang lain, melainkan karena kita menjalankan pikiran-pikiran melalui rute yang berbeda-beda. Yang berbahaya adalah ketika adu logika ini terjebak pada hal-hal non-logis. Seperti adu pendapat soal pemilu yang semestinya saling adu pemikiran atau program kerja, kini berubah jadi adu selera. Masing-masing pihak mendewakan seleranya, menjahanamkan selera yang berlainan.

Agar terhindar dari kekeliruan adu pendapat, debat, atau diskusi macam itu, maka perlu kita melirik metode berpikir René Descartes. Metodenya mencakup empat langkah:

1. Jika anda tidak megetahui dengan jelas bahwa sesuatu adalah benar, jangan anda percaya akan hal itu.

2. Pecah-pecahkanlah setiap masalah menjadi banyak bagian yang lebih kecil.

3. Mulailah menangani hal-hal yang paling sederhana dan paling mudah untuk dipahami, kemudian meningkat pada masalah-masalah yang lebih sulit.

4. Bila anda membuat daftar unsur-unsur suatu masalah, upayakanlah sungguh-sungguh daftar ini secara lengkap, dan tidak ada satu hal pun yang disisihkan.

Di era postmodernitas ini, kebenaran menjadi sesutau yang nisbi. Masing-masing memiliki parameter kebenaran yang berbeda-beda. Dalam ranah kajian budaya, ada beberapa kebenaran absolut yang sering dipelajari. Kebenaran Agama, Kebenaran Sains, dan Kebenaran Filsafat. Tapi selain itu, seringpula seni juga dianggap memiliki kebenaran mutlaknya sendiri.

Sebagai contoh; tubuh manusia. Filsafat memandangnya sebagai suatu bahan kajian, perenungan, dan analisa. Sains melihatnya sebagai objek penelitian dan eksperimen. Agama (sebagai contoh Islam) menganggapnya sebagai kesucian, hingga tubuh hanya boleh dilihat dan disentuh dengan syarat terntentu. Sedangkan seni menempatkan tubuh sebagai objek dan subjek estetika. Masing-masing memiliki dasar kebenarannya sendiri. Sehingga sulit mencapai titik temu dari ‘kebenaran bersama’.

Sebagai penunjang ilmu pengetahuan, tubuh perlu disentuh bahkan dibedah. Namun dalam seni kita sering menemukan larangan yang berbunyi “don’t touch the artwork”. Kacamata seni menempatkan tubuh sebagai estetika visual yang hanya boleh dilihat. Maka kita kerap melihat model-model yang nyaris telanjang atau bahkan memang telanjang, mengatur pose agar menghasilkan keindahan visual. Jika dicerna dengan sudut pandang agama maupun filsafat, bisa beda lagi. Bahkan bertentangan.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, bahwa kebenaran dipengaruhi pada kepercayaan, perasaan, pengalaman dan keadaan seseorang. Kebenaran objektif hanya berlaku pada kelompok tertentu. Tidak bagi kelompok lain. Kebenaran bahwa ‘bumi itu bulat’ sekalipun ternyata masih ditentang oleh sebagian orang. Satu tambah satu sama dengan dua juga mulai banyak ditemukan alternatif jawabannya. Postmodern membawa kita pada kesimpulan-kesimpulan absurd yang tidak pernah selesai. Banyak hal yang sudah ‘dipercaya’ benar di era modern, kini kembali dipertanyakan, diragukan, dan dicari kebenaran alternatifnya. Sehingga menjadi lucu jika kita masih menemukan orang-orang yang begitu ambisius mendeklarasikan dirirnya paling benar dan segala yang bertentangan dengannya dianggap salah total.

Benar dan salah menjadi ambigu. Aturan-aturan yang sudah dibuat sebagai standar kebenaran mulai digulingkan. Orang-orang mulai menentang standarisasi. Mulai berani berargumentasi. Akan tetapi, pada sisi lain hal itu rentan memicu persengketaan. Sehingga perlu kiranya bagi kita untuk sebanyak-banyaknya belajar. Agar apa yang disuarakan itu memiliki kualitas. Logika kita tidak akan ‘sampai’, jika hanya mengandalkan insting untuk menyatakan mana benar dan mana salah.

Saya merasa perdebatan yang terjadi di sosial media sudah berada pada taraf yang genting. Terlebih ketika informasi rekaan (hoax) disebar. Tanpa ilmu, orang-orang melahapnya mentah-mentah seolah itu nyata adanya. Lalu meyebarluaskan lagi. Dan siklus itu terjadi terus-menerus. Sampailah kita pada kemunduran berpikir yang semestinya sudah dimerdekakan oleh Oemar Said Tjokroaminoto melalui triloginya, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”.

Miris memang, ketika khasanah keilmuan hanya dibicarakan di dalam ruang kelas dengan iming-iming nilai bagus. Begitupun masih banyak yang memilih untuk tidur. Jangankan mencari alternatif belajar di luar ruang akademis. Lha wong fotokopian materi ujian saja enggan disentuh, apalagi buku-buku dan tulisan-tulisan digital yang mengasah ketajaman berpikir. Mau bagaimana lagi, chit-chat hahahihi lebih mengasyikan. Merapikan feed instagram lebih melelahkan. Mencari tempat kece, kuliner unik, dan fashion hits lebih penting bagi kebahagiaan. Apakah memang generasi milenial hanya disiapkan untuk melek teknologi saja?

Apa yang saya tulis tentang buah pikir, logika dan kebenaran absolut bukan bermaksud menggurui. Tulisan ini bergerak dari rasa resah yang mendiami diri saya, bahwa slogan ‘bebas bersuara’ mulai banyak diperlakukan semena-mena. Salah satunya kasus Bambang Tri yang menulis buku Jokowi Undercover. Saya tidak berani berkomentar jauh karena memang saya belum membaca buku tersebut. Namun, dari pihak kepolisian dan kalangan intelektual menyebut jika apa yang Bambang tulis tidak memiliki tubuh pengetahuan sama sekali. Dalam proses menulisnya, Bambang tidak menggunakan metode penelitian yang jelas dan tidak ada sumber data primer maupun sekunder. Sehingga buku Jokowi Undercover dianggap sebagai rekaan semata.

Untuk itulah, belajar menjadi sebuah keharusan. Belajar tidak melulu soal sanggup tidaknya mengerjakan ujian. Belajar tidak pula tentang besar kecilnya nilai yang didapat atau banyaknya piala yang diraih. Belajar tidak harus kita lakukan untuk mendapat penghargaan dan uang. Meski kesemua itu tidak pula salah. Namun, menjadikannya tujuan belajar saya rasa kurang tepat saja. Sebaik-baik belajar adalah upaya memenangkan alam pikirnya sendiri. Dan sehebat-hebat belajar adalah mereka yang tak pernah berhenti hingga mampu memetik buah pikirnya untuk disajikan kepada orang lain.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.