Dialog Tentang Perspektif

Kuda Pengelana

Di sebuah masa ketika evolusi kecerdasan jatuh kepada hewan, tinggallah sebuah kelompok besar yang bernama Animalia Kuda. Kelompok ini terdiri dari ratusan kuda dengan berbagai macam jenisnya. Subkelompok yang paling banyak berasal dari kuda berwarna hitam. Sedang kelompok terkecil adalah kuda berwarna putih.

Suatu ketika ada seekor kuda pengembara yang datang ke wilayah Animalia Kuda. Ia berniat untuk tinggal beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan mengelilingi semesta. Ia tergiur melihat ada banyak kawanan yang sejenis dengan dirinya. Maka wajar saja jika ia kemudian memutuskan untuk bercengkrama.

Awalnya ia mendekat kepada kuda-kuda berwarna hitam. Tentu saja karena memang kuda dalam subkelompok ini adalah yang paling mudah dijumpai. Perbincangan berjalan seru ketika keduanya saling menceritakan pengalaman masing-masing dan menjawab rasa keingintahuan satu sama lain. Hingga Kuda Pengelana ini menanyakan tentang subkelompok terkecil, Kuda Putih.

Kuda Hitam: “Hahaha. Mereka itu kuda-kuda dungu.”

Kuda Pengalana kaget bukan kepalang. Sebab menjelekkan bagian dari kawanan sendiri tidak pernah ada dalam prediksinya. Berbekal semangat kepo, kuda pengembara menanyakan mengapa Kuda Putih dikatakan dungu.

Kuda Hitam 1: “Mereka itu menganggap seolah kami berlaku jahat pada mereka. Mereka merasa kami kucilkan. Padahal kami sama sekali tidak mengurus soal mereka. Hahaha. Mereka pikir mereka siapa? Buat apa kami lelah-lelah membuang waktu untuk mengurusi mereka.”

Kuda Hitam 2: “Ya, lucunya itu tadi, mereka merasa kami diskriminasikan. Sesungguhnya, merekalah yang mengucilkan diri sendiri.”

Kuda Hitam 3: “Mungkin itu yang disebut quality time.”

Serentak kuda-kuda hitam itu tertawa terbahak-bahak seolah ada kemoceng yang menggelitik ketiak mereka. Sejurus kemudian, Kuda Pengelana melahap banyak informasi tentang subkelompok kuda putih. Cerita demi cerita berdesakan masuk dalam ruang pikirnya. Lama kelamaan kuda pengembara jadi pusing sendiri.

Kuda Pengelana: “Baiklah kawan-kawan. Terima kasih atas obrolannya. Kupikir aku harus kembali ke penginapan.”

Kuda Pengelana berjalan dengan langkah yang lesu menuju tempat singgahnya. Ia tak habis pikir tentang subkelompok putih yang sedemikian dramatisnya. Sampai-sampai ada cerita tak masuk akal tentang sihir kuda putih.

Konon, mereka memiliki sihir untuk mengubah warna hitam menjadi warna putih. Otomatis sistem pembedaan warna kulit ini menjadikan kuda hitam yang disihir tadi bergabung dengan subkelompok kuda putih. Kuda Pengelana masih setengah tak percaya. Ia bertekad untuk menemui kuda putih keesok harinya.

Beberapa saat kemudian ia mencium aroma yang sangat sedap. Ternyata ia tiba di depan warung makan yang sangat ramai. Dengan senyum mesum, ia memasuki warung makan itu sambil memberi aba-aba, “Tumis rumput asam manis satu, Bang”.

Kuda Pengelana berlari dengan kencang setelah sebelumnya ia meminum susu kedelai saat sarapan. Ia mendapat informasi jika subkelompok kuda putih berkumpul di balik bukit BulBul. Seperti di kejar singa, kencang larinya menarik perhatian kuda-kuda lain. Bahkan tak jarang beberapa pantat terpaksa tersenggol ketika Kuda Pengelana berbelok tanpa perhitungan.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di bukit BulBul, Kuda Pengelana langsung bertemu dengan seekor kuda putih. Situasi di bukit itu jelas berbeda dengan tempat berkumpulnya kuda lain yang sangat riuh. Lekas saja kuda pengelana mengajak kuda putih itu bercerita.

Kuda Putih: “Tuh, kan. Mereka memang begitu. Suka membicarakan kami di belakang.”

Kuda Pengelana semakin bingung. Sejauh yang ia tahu bahawa kuda putih ini merasa kegeeran dan memilih untuk menghindar dari kelompok. Kemudian datanglah dua kuda putih lain.

Kuda Putih 2: “Ya, mereka mulai membicarakan kami ketika kami masih ada dalam kerumunan itu. Maka wajar saja jika kami memilih untuk memisahkan diri.”

Kuda Putih 3: “Itu pun tetap tidak menghentikan perbincangan mereka soal kami. Padahal kami sudah menepi sejauh ini.”

Kuda Pengelana: “Lalu, mengapa kalian tidak mencari tempat lain yang benar-benar jauh dari lingkaran mereka?”

Kuda Putih 1: “Kami sudah merencanakan hal itu. Tapi sejauh ini mereka masih terlihat lucu.”

Kuda Pengelana menimang-nimang curhatan kuda putih dengan cerita yang ia dengar kemarin. Alam pikirnya dibuat berputar-putar dengan cerita-cerita yang tidak sinkron. Ada kebuntuan dalam pikirannya untuk menemukan sebuah cerita yang SESUNGGUHNYA.

Sebelum mendapat jawaban dari apa yang dipikirkannnya iitu, Kuda Pengelana seketika ingat dengan cerita mistis tentang kekuatan sihir. Ketika pertanyaan itu terlontar, secara serempak kuda-kuda putih terkekeh-kekeh.

Kuda Putih 1: “Yang benar saja? Tidak ada sihir-sihir macam itu. Kamu percaya dengan mitos murahan macam itu?”

Kuda Putih 2: “Memang ada bagian kawanan mereka yang bergabung dengan kami. Tapi kami tidak pernah menghasutnya. Apalagi melakukan sihir. Hahaha.”

Kuda Pengelana: “Kalau begitu, kalian bisa tunjukkan di mana kuda hitam yang membelot itu”

Kuda Pembelot: “Di sini.”

Kuda pengelana kaget sekali ketika ia menoleh setelah mendapat jawaban itu. Ia melihat seekor kuda berwarna abu-abu!

Kuda Pengelana: “Bukankah kau dulunya berwarna hitam? Lalu kenapa sekarang kau berwarna abu-abu?”

Kuda Pembelot: “Tidak. Dari awal aku memang sudah begini. Ketika aku akrab dengan kuda hitam, mereka melihatku berwarna hitam. Ketika aku memilih bersama kuda putih, mereka melihatku berwarna putih. Namun dari awal, aku selalu berwarna abu-abu.”

Kuda Pengelana: “Mengapa bisa begitu?”

Kuda Pembelot: “Karena mereka suka membandingkan diri mereka dengan kelompok lain. Secara tak sadar, mereka membagi apa saja yang mereka lihat dalam definisi-definisi. Dan merasa diri mereka adalah acuan kebenaran.”

Kuda pengelana mengangguk paham. Pikirannya mulai menerawang jauh. Sejenak ia merasa hampir mengerti jawaban dari persoalan ini. “Aha!” Kuda pengelana langsung berlari meninggalkan bukit BulBul tanpa sempat mengucapkan salam.

Dalam larinya menyebrangi padang rumput yang luas, ia melihat ada kerumunan kuda berwarna putih dengan garis-garis hitam. Zebra! Pekiknya dalam hati. Kuda pengelana seolah mendapat ilham, larinya semakin mantap. Ia menuju tongkongan kuda hitam.

Kuda pengelana menghampiri beberapa kuda hitam yang sedang asik melahap oseng-oseng rumput.

Kuda Pengelana: “Hey. Ada yang ingin kutanyakan pada kalian.”

Kuda Hitam 1: “Wah, kamu lagi. Ada apa?”

Kuda Pengalana: “Jika kuda putih mau turun dari bukit, lalu bergabung lagi dengan kalian. Apa kalian mau menerima mereka?”

Kuda Hitam: “Oh, ya jelas. Wong dari awal kami tidak ada masalah apa-apa sama mereka.”

Kuda Hitam 2: “Benar. Tapi memangnya mereka mau bergabung lagi? Mereka saja katanya malah ketawa-ketawa lihat kami.”

Kuda Hitam 3: “Aneh betul mereka. Sudah tahu jika di sini mereka jadi bahan perbincangan, bukannya introspeksi diri, e malah ketawa-ketawa. Sadar diri aja susah banget.”

Kuda Pengelana: “Kalian tidak ingin ke bukit BulBul untuk mengajak mereka kembali ke sini?”

Kuda Hitam 1: “Bukan urusan kami. Kami punya banyak hal yang harus dilakukan.”

Kuda Hitam 2: “Ya, buat apa juga gitu. Daripada makin mendrama kayak alay, hambok biar mereka mau ngapain terserah.”

Kuda Hitam 3: “Kalau benar mereka orang pintar, mestinya mereka tahu berada dalam posisi apa dan harus menempatkan diri seperti apa. Bukannya malah repot menunjukkan kalau mereka baik-baik saja.”

Kuda Pengelana: “Tapi aku sudah ke sana. Dan mereka memang baik-baik saja.”

Kuda Hitam 1: “Drama.”

Setelah itu tidak ada satu kata yang terucap. Kuda pengelana berjalan meninggalkan tongkrongan kuda hitam dan beralih haluan ke padang rumput terbuka. Kakinya mengayuh ringan di atas rumput-rumput yang segar. Setapak demi setapak ia lalui untuk berpikir. Lalu, sampailah ia pada tujuan berikutnya. Kelompok Zebra.

Kuda Pengelana: “Hey, Zebra. Ee.. Boleh aku bertanya pada kalian?”

Secara serentak para zebra itu tertata rapi mengelilingi kuda pengelana. Ia agak gemetar ketika seekor zebra yang tampak keriput maju menghampirinya.

Zebra Tua: “Ada apa?”

Kuda Pengelana: “Begini, apa salah satu dari kelompok kalian ada yang pergi ke kelompok lain?”

Zebra Tua: “Tidak. Zebra hanya berkumpul dengan zebra.”

Kuda pengelana: “Mengapa begitu?”

Zebra Tua: “Memang begini cara hidup kami. Garis-garis hitam yang ada di tubuh kami bisa membuat bingung para singa. Asalkan kami terus bersama.”

Kuda Pengelana: “Jadi kalian memiliki peraturan untuk selalu dalam kelompok?”

Zebra Tua: “Tidak. Kami tidak terikat peraturan.”

Kuda Pengelana: “Lalu apa yang menguatkan kalian untuk terus bersama?”

Zebra Tua: “Hmm.. Tidak ada. Kami sudah asal bersama saja. Memangnya kenapa?”

Kuda Pengelana: “Aku hanya merasa heran. Sepertinya loyalitas kalianlah yang benar-benar tinggi. Kau pasti tidak akan pernah merasa kecewa.”

Zebra Tua: “Kecewa? Kami tidak pernah kecewa. Meski jika memang suatu saat nanti ada salah satu dari kami yang keluar dari kelompok, kami tetap tidak merasa kecewa.”

Kuda Pengelana: “Ha? Kok bisa?”

Zebra Tua: “Karena kami tidak pernah menggantungkan harapan apapun satu sama lain. Kami mengurusi urusan masing-masing saja.”

“Aha!” Kuda pengelana berseru kegirangan. Kakinya segera berpijak memutar badan. “Permisi!” Tubuhnya lekas saja melesat melewati kerumunan itu. Seperti kue yang dipotong, sekumpulan zebra yang mengitarinya itu langsung terbelah untuk memberi jalan luncur bagi Kuda Pengelana.

Tanah-tanah bergoyang ketika kuda pengelana berlari riang di atasnya. Tapakannya sudah mantap. Ia merasa telah menemukan jawaban.

Kuda Pembelot. Teryata dia bukan bijak melihat perspektif, tapi karena matanya ketutupan poni ala Andhika Kasela

“Kuda abu! Kuda abu! Di mana kau?”, Kuda pengelana lompat-lompat di bukit BulBul sembari terus meneriakan nama Kuda Pembelot. Lalu justru kuda putih yang datang menghampiri. Kuda putih memberi tahu jika Kuda Pembelot sedang menyendiri di pinggir anak sungai Sinarmas.

Tidak jauh dari bukit BulBul, kuda pengelana dengan segera berhasil mendapati kuda abu-abu yang tengah duduk di sebuah batu seukuran tubuhnya.

Kuda Pengelana: “Aku sekarang mengerti.”

Kuda abu-abu menoleh. Ia membenahi posisi duduknya lalu menatap kuda pengelana untuk menyimak.

Kuda Pengelana: “Kuda hitam menganggap kuda putih yang salah. Begitupun sebaliknya. Jika merujuk pada perkataanmu soal definisi-definisi, mereka semua memang terjebak dalam kebiasaan untuk membandingkan. Membandingkan warna putih dan warna hitam, lalu setiap warna yang melekat pada tubuh mereka anggap yang paling benar. Mereka lupa jika baik hitam atau putih sebenarnya sama-sama seekor kuda. Mereka memiliki bentuk tubuh yang hampir sama. Perbedaannya hanya ada pada warna kulit. Mereka tidak fokus pada persamaan, tapi justru pada perbedaan. Lalu semakin lama, semakin dicarilah perbedaan-perbedaan lain yang pada akhirnya membuat mereka benar-benar berbeda. Dari yang semula hanya beda warna, sekarang mereka berbeda prisnsip.

Kuda Pembelot: “Ya, seperti itu. Lalu apa menurutmu mereka bisa berdamai?”

Kuda Pengelana: “Selama mereka masih membandingkan satu sama lain tentu tak mungkin muncul kata damai. Dan satu lagi, ekspektasi!”

Kuda Pembelot: “Apa maksudmu?”

Kuda Pengelana: “Kawanan zebra tidak pernah terpisah karena antara zebra yang satu dengan yang tidak memiliki ekspektasi apa-apa. Mereka berkawan ya berkawan saja. Mereka tidak pernah kecewa bukan karena tidak ada yang rese, tapi karena tiap individu tidak menaruh ekspektasi apa-apa. Sedangkan kuda hitam dan putih justru berekspektasi yang lebih. Maka ketika ekspektasinya tidak tercapai, mereka lantas kecewa. Dan melemparkan kekecewaannya itu dengan cerita-cerita, gosip, olok-olok, dan semacamnya.”

Kuda Pembelot: “Tepat sekali. Yang pertama membandingkan. Mereka terlalu sering berkata, ‘Si itu lho sukanya gini-gini, kalau aku kan gitu-gitu’. Mereka tak pernah jemu untuk menstandarkan sesuatu terhadap diri masing-masing. Lalu pengharapan. Mereka juga gemar bilang, ‘Bukan salahku, dia yang salah, dia yang harusnya berubah.’ Klaim mana yang benar dan salah menjadi semakin bias.”

Kuda Pengelana: “Ya. Jadi jawabannya adalah perspektif!”

Kuda Pembelot: “Betul. Tubuh pipih seekor kuda memiliki dua sisi, kanan dan kiri. Satu mata untuk masing-masing sisinya agar kita bisa melihat dua sudut pandang. Kau tak bisa berjalan lurus jika kau hanya punya satu mata kanan atau satu mata kiri. Kedua matamu bekerja untuk melihat keseluruhan kejadian.”

Kuda Pengelana: “Lalu, kenapa kau memilih bersama kuda putih?”

Kuda Pembelot: “Hmm.. Kau menanyakan yang tak perlu. Kau bisa terjebak dalam definisi.”

Kuda Pengelana: “Ah, iya. Pertanyaan itu hanya bisa dijawab secara subjektif. Jika aku tidak menyetujui jawabanmu, maka aku akan mendefinisikan kamu bersalah. Bukan, begitu?”

Kuda Pembelot: “Betul. Lalu kau akan mencari seribu argumen untuk menegaskan jika aku bersalah dan menganggap diriku harus berubah. Berubah sesuai pendapatmu. Karena bagimu, aku tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.”

Kuda Pengelana: “Paham. Paham. Toh aku memiliki budaya, kondisi, wawasan dan cetakan sejarah yang berbeda denganmu. Sudah tentu standar kebenaran kita berbeda.”

Mereka berdua berhenti bersahutan. Ada angin semilir yang bemain-main di tubuh kekar dua kuda itu. Kuda Pengelana yang enerjik mulai merasa bosan dengan situasi ini.

Kuda Pengelana: “Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

Kuda Pembelot: “Aku ingin menulis.”

Kuda Pengelana: “Menulis apa?”

Kuda Pembelot: “Tentang seorang manusia yang datang ke sebuah desa. Lalu di desa itu ia mendapati dua kubu. Ia tertarik akan hal itu. Maka ia ke sana ke mari untuk mencari tahu apa yang terjadi.”

Kuda Pengelana: “Hahahaha. Bukankah itu mirip dengan diriku? Kau menulis tentangku?”

Kuda Pembelot: “Bisa begitu. Tapi sebenarnya aku ingin menulis tentang perspektif.”

Kuda Pengelana: “Baiklah. Tapi, mengapa kau tiba-tiba peduli?”

Kuda Pembelot: “Tidak ada alasan. Tidak semua yang kita lakukan itu butuh alasan yang konkret. Kadang kita hanya tiba-tiba ingin melakukannya saja.”

Kuda Pengelana: “Ah, iya ya. Ini nanti juga akan kembali lagi pada alasan-alasan yang sukar diterima pihak lain. Sehingga menimbulkan standar-standar yang tak jelas. Jadi, benar kau tidak bertujuan apa-apa menuliskannya? Bagaimana jika ada yang tidak suka?”

Kuda Pembelot: “Kitab suci yang jelas-jelas rahmat seluruh alam semesta saja ada kok yang tidak suka. Kita tidak bisa menjadi sosok yang disukai siapa saja. Bahkan, di dalam kawanan kuda hitam pun ada yang saling menebar kejelakan.”

Kuda Pengelana: “Hah? Ada kuda hitam yang menjelekkan sesama kuda hitam?”

Kuda Pembelot: “Jangan kaget. Bukankah kau sudah paham jika akar masalah ini adalah perbedaan prinsip?”

Kuda Pengelana: “Ya, dan di samping prinsip kelompok, ada pula prinsip individu. Aku semakin bingung saja dengan hidup ini. Aku harus bagaimana?”

Kuda Pembelot: “Jika kau tidak ingin mengalami singgungan sosial, kau tak perlu bersosial.”

Kuda Pengelana: “Atau menjadi zebra.”

Kuda Pembelot: “Kau bukan zebra. Lagi pula selama ini kau berkelana sendirian.”

Kuda Pengelana: “Ya. Ternyata hidup dalam kelompok besar tak semenyenangkan yang kukira. Aku akan pergi esok hari. Hey! Mengapa kita tak berkelana bersama saja?”

Kuda Pembelot: “Emoh. Kalaupun aku memutuskan untuk berkelana, aku akan melakukannya. Tapi tidak denganmu.”

Kuda abu-abu bangkit dari duduknya. Ia menyambut seekor kuda putih dengan senyum yang bungah. Mereka berdua melompat-lompat mencoba melakukan toss ala Dora dan Boots. Tubuh mereka sudah siap meninggalkan tempat itu. Namun, kuda berwarna abu-abu itu seperti teringat akan sesuatu. Ia kembali menghampiri Kuda Pengelana yang masih bengong.

Kuda Pembelot: “Apa kau baru saja berpikir jika kami tadi melakukan hal yang tak pantas?”

Kuda Pengelana mengangguk.

Kuda Pembelot: “Bagi kami itu hal yang pantas-pantas saja.”

Kali ini Kuda Pembelot mendahului Kuda Pengelana dalam hal meninggalkan obrolan. Seperti petir yang menaiki angin, kuda abu-abu melesat beriringan dengan kuda putih. Mereka melaju dengan riang gembira.

Kuda pengelana tersenyum melihat hal itu. Kepalanya menonggak ke langit. Sinar mentari seolah sedang mencabut nyawanya dalam keadaan khusnul khotimah.

“Pantas atau tidak adalah soal perspektif. Kehidupan bersosial bukan hitungan matematis yang salah rumus bisa rusak sebelangga. Mungkin otak-otak kita terlalu terbiasa dengan sistem mencari kebenaran seperti saat menjadi anak sekolah. Otoritas kebenaran dipegang oleh guru. Guru menjadi standarnya. Maka yang tidak sama dengan guru adalah sebuah kesalahan. Selama bertahun-tahun mengenyam pendidikan semacam itu tanpa disadari kita terbiasa hidup ala guru. Kita merasa punya kesewenangan untuk menentukan apakah orang lain bersalah atau tidak. Bedanya, guru memiliki bekal keilmuan. Sedangkan kita yang masih cunguk begini, cuma punya ego.”

Kuda pengelana berjalan pelan sembari terus menggumam

“Membandingkan yang lain dengan diri sendiri. Lalu berharap yang lain berubah seperti pendapat pribadi. Jelas tidak mungkin. Bahkan utusan Tuhan sekali pun ketika membawa risalah kebenaran dari langit, masih saja tak bisa mengubah semua jiwa menjadi penyembah langit yang sama.”

Badan Kuda Pengelana mulai menderu. Ia langsung melejit jauh dengan larinya yang mantap. Matanya menusuk tajam pada sebuah kesimpulan.

“Berkawan adalah memberi tanpa membandingkan dan menerima tanpa ekspektasi.”
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.