Transportasi Umum untuk Kota Malang (Part 1)
Jika pembaca warga Malang, atau orang yang pernah berkunjung ke Malang, apa kata yang belakangan ini sering terbersit di benak pembaca? Mungkin ada beberapa, namun saya kira salah satunya pasti ada kata “macet”. Lembaga survei Inrix mencatat, Kota Malang berada di peringkat ketiga termacet di Indonesia, di bawah Jakarta dan Bandung. Catatan yang menarik di mana Kota Malang dianggap lebih macet daripada Ibukota Provinsi Jawa Timur, Surabaya.
Kalau kita tilik ulang, Kota Malang kini sudah berpenduduk sekitar 900.000 jiwa. Seluruh penduduk itu berjubel di dalam wilayah yang berukuran sekitar 150 km2. Jika ditambah dengan penduduk Kabupaten Malang dan Kota Batu, jumlah itu membengkak hingga sekitar 2 juta penduduk. Jumlah penduduk sebanyak itu tidak hanya diam di rumah, mereka bergerak secara rutin setiap hari: dari rumah menuju kantor/sekolah, atau ke area pertokoan. BPS Kota Malang mencatat, ada sekitar 500.000 sepeda motor dan 90.000 mobil dimiliki warga Malang. Dengan jumlah kendaraan sebesar itu, tentu bisa kita bayangkan kemacetan yang mungkin terjadi.

Salah satu cara menanggulangi kemacetan adalah dengan transportasi umum. Bagaimana keadaan transportasi umum di Kota Malang? Jujur menurut saya mengenaskan. Moda transportasi umum yang ada di Kota Malang hanyalah angkutan kota (angkot) berupa mobil kecil. Pembaca pasti pernah menaiki kendaraan ini, di kota manapun di Indonesia. Pembaca pasti tahu, angkot sangat lekat dengan kata-kata: lambat, duduk yang sempit dan berjubel, serta waktu menunggu datangnya angkot yang sangat lama. Kekurangan-kekurangan angkot itulah yang mengakibatkan masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, angkot-angkot menjadi sepi, dan jalanan semakin macet.
Berangan-angan
Sejak lama, saya selalu berangan-angan betapa hebatnya jika Kota Malang suatu saat punya transportasi umum yang memadai. Keinginan ini semakin kuat muncul saat saya merasakan mudah dan cepatnya bepergian di Jakarta menggunakan bus Transjakarta. Selama sekian lama, saya mulai membuat rancangan transportasi umum bus kota bohong-bohongan di Kota Malang. Berikut saya sampaikan.
Ide Dasar 1. Koridor transportasi dalam kota
Secara pribadi, saya membagi Kota Malang menjadi dua koridor:

1) Koridor Utara-Selatan (Biru)
Koridor ini terdiri jalan lurus yang membentang dari ujung utara ke ujung selatan Kota Malang. Koridor ini juga termasuk jalan utama provinsi Jawa Timur, menghubungkan Malang dengan Surabaya dan Blitar. Sepanjang koridor ini kita akan melewati daerah perumahan, perkantoran, dan perindustrian.
2) Koridor Timur-Barat
Koridor ini terdiri dari jalan berbentuk horizontal di sepanjang Kota Malang, berawal dari Perumahan Sawojajar di ujung timur hingga Kampus UMM di ujung barat. Sepanjang jalan kita melewati wilayah perumahan, perkantoran dan pertokoan.
Kedua koridor di atas, menurut saya, adalah jalur transportasi utama di dalam Kota Malang. Sehingga, jalur bus kota akan terpusat pada dua koridor tersebut. Tepat di tengah, di titik silang bertemunya kedua koridor, adalah Stasiun Malang Kotabaru (ditandai bintang). Posisinya yang begitu strategis akan menjadikan Stasiun Malang Kotabaru sebagai halte pusat bus Kota Malang.
Ide Dasar 2: Malang Raya

Malang Raya tidak hanya terdiri dari Kota Malang, tetapi juga Kabupaten Malang dan Kota Batu. Oleh karena itu, pembangunan sarana transportasi pun juga harus memperhatikan daerah sekitar Malang ini
1) Malang-Lawang (Merah)
Jalur Malang dan Lawang akan menyambungkan pintu masuk Kota Malang (Arjosari) dengan daerah-daerah sekitar seperti Karanglo, Singosari dan Lawang.
2) Malang-Kepanjen (Oranye)
Jalur ini akan menghubungkan pintu selatan Kota Malang (Gadang) dengan wilayah Malang Selatan. Terminal Kepanjen akan menjadi hub utama dari daerah Malang Selatan menuju ke Kota Malang
3) Malang-Batu (Biru)
Jalur ini akan menghubungkan Kota Wisata Batu dengan ujung barat laut Kota Malang (Landungsari). Jalur ini akan sangat baik untuk membantu wisatawan yang turun dari stasiun atau bandara menuju objek wisata di Kota Batu.
Dengan hubungan antarketiga wilayah di Malang Raya yang saling ketergantungan, menghubungkan ketiganya akan sangat baik, secara ekonomi maupun social.
Objek Strategis Kota Malang dan Koridor Lingkar

Transportasi umum tentunya harus menjangkau objek-objek strategis di Kota Malang. Berikut objek-objek strategis tersebut
1) Stasiun Malang Kotabaru, sebagai hub utama seluruh jalur bus, sehingga begitu penumpang turun dari kereta api, opsi transportasi public telah tersedia.
2) Bandara Abdulrahman Saleh, perlu dibuat sebuah hubungan berupa shuttle bus (warna putih) dari bandara yang terkoneksi dengan jaringan bus kota, misalnya ke halte Stasiun Kotabaru
Kemudian, perlunya dibuat jalur bus lingkar untuk melakukan bypass kepadatan di dalam kota. Sehingga contohnya, apabila ada penumpang dari daerah Dinoyo ingin menuju ke Terminal Arjosari, ia tak perlu harus transit di tengah kota. Jalur lingkar akan terkoneksi dengan bis bandara.
1) Universitas Brawijaya, akan menjadi pusat koridor ketiga (kuning.) dan lokasi transit menuju koridor timur-barat
2) Masjid Sabilillah, akan menjadi pusat koridor ketiga dan lokasi transit menuju koridor utara-selatan.
3) Mergan, sebagai ujung barat pemberhentian koridor lingkar
4) Mendit, sebagai ujung timur pemberhentian koridor lingkar
Begitulah kira-kira gambaran umum di benak saya seperti apa transportasi umum di Kota Malang sebaiknya dibangun. Selengkapnya, peta lengkap jaringan transportasi tersebut saya lampirkan di bawah ini.
