Suar #1 Mahasiswa Teknik Industri Kampus Cirebon

Waktunya mempersiapkan diri sebelum lepas landas

suar/su·ar/ n 1 nyala api (suluh, pelita) untuk tanda (isyarat): memberi — , memberi tanda isyarat dengan suar;

Sudah setahun lebih kita bersama, berbahagia, menderita, bersua, saling menyampaikan asa, dan memiliki musuh yang sama, ketidakjelasan. Setahun kemarin saya rasa kita resah terhadap hal-hal yang sama, kampus, kebijakan, perkuliahan, kemahasiswaan, dan juga himpunan. Bahkan sudah sedari dulu kita memikirkan himpunan kita nanti bagaimana. Sekarang? Masih berputar di bundaran yang sama. Bukan, bukan tidak ingin memutuskan, namun perlu pertimbangan yang panjang dan berbelit. Tidak cukup dengan satu kepala saja.

Lalu pertanyaan muncul, sebenarnya siapa penentu nasib kita? Tentu saja, kita sendiri. Namun tetap ada batasan. Sebuah kondisi yang membuat ini menjadi mungkin dan tidak mungkin.

Banyak kajian yang telah kita lewati atau orang lain kaji untuk kita. Setiap hasil harus dihormati. Karena tak mudah mengkaji. Apalagi kasus baru seperti ini.

Dua himpunan dengan keprofesian atau bidang studi yang sama dalam satu universitas/institut ini, bukan kah aneh? Pertanyaannya mungkin perlu diganti menjadi, “Aneh atau unik?”.

Jarak. Sebuah kata yang telah memisahkan kita. Sesuatu yang jelas ada. Walaupun relatif ukurannya. Namun aku ingin, pertimbangan ini bukan lah menjadi alasan utama mengapa kita harus terus membangun dan berkembang.

Waktu. Akan terus berjalan meninggalkan kita semua. Membiarkan kita dilahap oleh zaman. Namun tenang, ada cara untuk mencegahnya. Yaitu berjalan bersama zaman. Masalahnya, sekarang saja masih di bundaran yang sama, jadi mau bagaimana?

Aku kira lebih dari setengah kita semua sudah bulat menjawabnya. Berpisah lalu membangun rumah baru. Berisikan kawanan-kawanan kita yang bernasib sama. Siap belajar, berkembang, saling membantu sesama. Memenuhi kebutuhan pribadi, kita bersama, dan juga banyak orang. Mewadahi manusia-manusia haus aktualisasi diri. Memberikan manfaat kepada sekitarnya. Menuju yang terhebat dengan cara jadi yang paling berdampak.

Aku tau jalanan tidak rata. Tidak perlu diteriakan. Tidak perlu dicemaskan. Bahkan mungkin tidak akan pernah jelas. Tapi jangan takut. Karena itu lah hidup. Mungkin lebih tidak jelas lagi jika kita semua semakin tua nanti.

Aku rasa kita sudah siap. Katanya sudah punya hal yang paling berharga yang tidak bisa ditemukan di tempat yang lain. Dibangun tanpa keterpaksaan ataupun tuntutan. Ada karena sendirinya. Tumbuh di antara kita. Mengharumkan diri kita sendiri. Tanpa perlu disadari lagi, sudah mengerti arti pentingnya peduli kepada sesama.

Kekeluargaan, bukan sesuatu yang perlu diteriakan. Dijunjung tinggi nilainya. Dijelaskan apa esensinya. Ia akan datang dengan sendirinya, jika memang dibutuhkan dan orang-orang siap dengan konsekuensinya. Memikul beban-beban yang sama. Membuang ego untuk kepentingan bersama.

Tegakkan kepala. Janganlah malu. Kita semua calon pelopor. Ketika yang lain sudah berjaket, maka kita akan buat milik kita sendiri. Ketika yang lain belajar logo dan esensinya, maka kita akan buat milik kita sendiri. Ketika yang lain belajar struktur, landasan, asas-asas dan semacamnya, maka kita akan buat milik kita sendiri. Ketika yang lain sudah berjalan, maka kita akan membuat jalan itu sendiri. Orang lain membaca sejarah, maka kita akan menjadi bagian dari sejarah.

Tantangan baru dan nyata ada di depan kita. Tantangan-tantangan itu siap melahap masing-masing dari kita. Menenggelamkan kita dengan kekejiannya yang tak kasat mata. Maka pilihannya, bentuk himpunan atau tidak usah sama sekali.

Ilham Muzakki,
Mahasiswa Teknik Industri ITB Kampus Cirebon.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.