Tahap Persiapan Bersama

Tahap Persiapan Bersama(Guru Les) dan makna “persiapan” yang terus bergeser

Ilham Muzakki
Feb 23, 2017 · 8 min read

Saya sebelumnya tidak tahu apa judul yang pas pada tulisan yang akan saya buat malam ini. Dan ini bukan tentang susah senang saya di TPB. Karena terlalu cepat jika saya menuliskan mengenai hal tersebut. Keyword paling penting ada di subjudul tulisan ini. Hehehe. Dimulai dengan iseng karena waktu tidur sudah terlanjur bergeser, tetapi sudah mumet melakukan hal-hal lain terkait perkuliahan. Ya akhirnya saya memilih menulis.

Saya selalu menulis berdasarkan apa yang memang saya lihat, saya dengar, saya perhatikan, dan saya pahami. Karena menurut saya, ada baiknya hal-hal yang sudah kita dengar dan perhatikan itu ditulis. Dengan menulis kita ‘memastikan’ ilmu yang sebenarnya kita dapatkan.

Menulislah, karena dengan begitu kamu akan mengetahui apa yang sebenarnya kamu ketahui

Kita terkadang merasa tahu sesuatu. Namun lupa untuk ‘memanggilnya’ kembali sehingga lama-lama terlupakan. Dan menulis bisa menjadi salah satu cara untuk memanggil ilmu-ilmu yang sebetulnya sudah sampai kepada kita, namun kita tidak tahu letaknya di mana. Ibarat games, menata barang-barang kita di inventory.

Waduh memang ya, kalau udah nulis, segalanya pengen dikeluarkan. Jadi tidak fokus ke pembahasan sebenarnya.

Foto Diambil oleh Saya Sendiri. Hehehe.

Perkenalkan, Saya Ilham Muzakki, seseorang yang sedang mengemban studi di salah satu (yang katanya) tempat terbaik yang dimiliki bangsa ini. Itu masih katanya. Ketika saya masuk ke dalamnya, banyak hal yang membuat terkagum-kagum dan semakin mengakui kehebatan kampus ini, tapi ternyata ada juga yang membuat saya sedikit merasa… kecewa mungkin? bukan kecewa sih. Hanya merasa aneh dan memunculkan keresahan.

Setiap orang mungkin memiliki perspektif masing-masing mengenai hal ini. Setiap orang memiliki pendapat. Dan izinkan saya, dalam tulisan ini berpendapat terhadap fenomena ini. Fenomena yang mungkin secara kasat mata biasa-biasa saja. Namun coba pikir ulang, apakah wajar?

Kita semua mahasiswa (wahai para pembaca yang sudah mahasiswa). Ada kata maha di depan siswa itu yang menjadikan status pelajar tertinggi bagi siapapun yang mengembannya. Orang yang memiliki ilmu, kecerdasan, intelektual dan moral yang (seharusnya) dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sosial. Tidak perlu panjang lebar membahas mahasiswa menurut saya apa, mungkin Anda bisa baca sendiri di tulisan saya sebelumnya yang berjudul: Saya Mahasiswa, Benarkah?

Sadar atau tidak sadar (atau mungkin memang tidak sadar), kita sudah ada di tingkat perguruan tinggi. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Maka dari itu beruntunglah mereka yang memiliki kesempatan tersebut. Namun selain merasa beruntung, hal itu juga harus diiringi dengan bentuk tanggung jawab. Ilmu yang dipelajari sudah sejatinya diterapkan untuk membantu masyarakat menyelesaikan masalah-masalahnya. Harapan mereka ada di pundak-pundak kita para mahasiswa. Sadar kah? Banyak orang di luar sana menunggu kelulusan kita. Menunggu pertolongan datang dari kita para penimba ilmu.

Tadi di awal saya bilang ada yang membuat saya kecewa, aneh, dan resah. Apa itu? Statusnya mahasiswa tapi kok masih butuh les? Maaf-maaf teman-teman, konsep mahasiswa-masih-ikut-les belum masuk di otak saya. Mungkin otak ini masih ortodoks. Mungkin otak ini masih ketinggalan zaman. Tapi saya yakin otak ini masih mampu berpikir rasional.

Statusnya mahasiswa, tapi kok masih ?

Saya melihat fenomena ini mungkin hanya terjadi di kampus yang memiliki sistem TPB dan memilih jurusan di tahun kedua. Karena statusnya di tahun pertama masih mahasiswa fakultas sedangkan baru di tahun kedua ia bisa menjadi mahasiswa jurusan. Sehingga di tahun pertama, yang disebut dengan Tahap Persiapan Bersama, orang-orang berlomba-lomba mendongkrak IP demi memasuki jurusan yang (katanya ) favorit atau alasan lain, jurusan yang diinginkannya. Lalu saya baru sadar, ternyata yang memiliki sistem fakultas dulu baru jurusan, mungkin hanya di sini… di institut (yang sayangnya) terbaik bangsa. Tempat di mana, fenomena mahasiswa-bimbingan-belajar (sayangnya) hanya terjadi.

Ada sebuah kekhawatiran di mana input mahasiswa sekarang masih ketergantungan les. Sehingga di jurusan terseok-seok karena tidak bisa dan biasa untuk belajar sendiri. Belajarnya masih perlu dibimbing orang lain. Bahkan lama-lama menyusahkan orang lain. Sampai kapan mau dibimbing terus? Sampai bisa? Ketika sudah bisa materi tersebut, ujian, setelahnya muncul materi baru, perlu dibimbing lagi? Kapan mandirinya? Mau sampai kerja minta dibimbing terus? Ditunjukan bagaimana cara menyelesaikan pekerjaan tanpa ada usaha mempelajari sendiri?

Tahap Persiapan Bersama bagi saya bukan hanya tentang memasukan banyak-banyak ilmu dasar kepada otak Anda sehingga di jurusan bisa diaplikasikan. Tahap persiapan bersama adalah sebuah wahana bagi kita untuk mempersiapkan. Mempersiapkan apa? Pola pikir, kebiasaan, cara belajar, bahkan cara mengatur waktu agar sesuai dengan dunia perkuliahan kedepannya, serta persiapan-persiapan lainnya. TPB adalah wahana di mana Anda mulai mencari bagaimana cara terbaik Anda dalam mempelajari sesuatu. TPB membukakan jendela Anda bagaimana pola pikir seharusnya terhadap ilmu-ilmu yang kita pelajari. TPB membentuk kebiasaan Anda agar sesuai dengan dunia perkuliahan nantinya di jurusan. Lalu sekarang Anda les? Pft. Anda melewatkan tahap persiapan bersama tanpa persiapan. Jika Anda mengharapkan mendapatkan IP tinggi, kalian akan mendapatkannya. Tapi yang kalian akan dapatkan hanya IP tinggi tersebut. Keberkahan dari ilmu yang saya rasa nikmatnya luar biasa lebih besar dari IP, mungkin.. kemungkinan tidak akan mendapatkannya. Karena ketika Anda memutuskan masuk les berarti Anda membuktikan bahwa Anda memiliki daya juang yang rendah, sehingga Anda menggantungkan sisa usaha kepada orang lain. Sedangkan bagaimana dengan cara Anda memecahkan soal persoalan yang real di luar sana? Bahkan Anda mungkin tidak peduli.

Anda lebih peduli lulus dengan IP tinggi dan masuk jurusan favorit, atau ya bisa kita katakan, yang Anda inginkan. Pola pikirnya, ketika kuliah dan mendengarkan penjelasan dosen, “saya paham untuk lulus ujian”. Atau mungkin malah Anda karena sudah merasa ada tempat les, maka Anda tidak perlu lagi mendengarkan penjelasan dosen. Atau tidak perlu kuliah sekalian.

Lalu berangkat ke tempat les untuk membatasi pola pikir Anda menjadi sama seperti pola pikir pengajar les. Padahal setiap orang bisa mengembangkannya dengan cara masing-masing. Sangat mubazir waktu Anda di perguruan tinggi. Karena menurut saya justru lebih banyak yang saya bisa dapatkan di dalam kelas selain ilmu-ilmu yang diberikan. Bukan berarti ilmunya tidak penting, justru sangat penting. Namun memahami dan membentuk pola pikir di dalam kelas adalah salah satu hal yang tidak bisa orang lain miliki kesempatannya. Lalu kita membiarkan kesempatannya begitu saja?

Pembentukan kebiasaan juga menjadi salah satu kesempatan yang bisa kita ambil dari tahap persiapan bersama. Penyesuaian waktu dan aktivitas. Kapan Anda harus belajar, kapan Anda berkemahasiswaan, kapan Anda istirahat, kapan waktu untuk keluarga, dan lain-lain. Ketika waktu belajar di les tidak fleksibel, maka mungkin akan kesulitan menghadapi penyesuaian waktu yang dinamis. Ketika tiap minggu mungkin jadwal Anda berbeda, namun porsi dari masing-masing aktivitas harus tetap sama (atau bahkan perlu ganti-ganti porsi?). Bagaimana jika tidak pandai mengatur waktu tersebut? Tidak les berarti tidak belajar? Les tubrukan berarti tidak berkemahasiswaan? Tidak bisa rapat karena alasan les sudah keterlaluan sih hehehe.

Baik, agar fair mari kita membicarakan manfaat les. Anda bisa tahu bab apa yang akan dipelajari lebih dulu daripada yang lain (yang tentu tidak perlu les pun Anda bisa lakukan sendiri), Anda bisa memperdalam konsep (yang tentunya Anda sendiri bisa lakukan), jam belajar Anda lebih terjadwal dan terstruktur (yang Anda bisa lakukan sendiri tanpa bantuan guru les). Lalu? Ya kalau ada tambahan lain, comment aja di bawah. Saya suka diajak berdiskusi. Jangan berdebat tapi hehehe.

Selain kebiasaan les yang tidak baik untuk kedepannya di jurusan, karena tentunya tidak akan pernah ada les jurusan, ada yang bahaya juga dari pola pikir yang dibentuk. Yaitu pola pikir mengejar IP (SAJA). Segala hal mungkin akan dilakukan orang ini untuk mendapatkan nilai yang maksimum. Tanpa mendapatkan keberkahan dari ilmu. Padahal IP sekarang kata perusahaan-perusahaan pun tidak penting.

Masih ingat pesan Bapak Anies Baswedan pada Hari Peringatan Sumpah Pemuda tahun 2014? “ IP yang tinggi akan mengantarkan Anda pada panggilan wawancara, titik.” (Sumpah bukan kampanye). Kepemimpinan, kemampuan analitik, dan komunikasi menjadi sesuatu yang penting di dunia pekerjaan nanti. Skill-skill seperti ini di luar sana dibutuhkan oleh banyak orang. Bagaimana Anda bisa mendapatkannya jika tidak membina dari TPB? Bagaimana ada waktunya jika pulang kuliah Anda sudah di tempat les?

Sekali lagi, bukan nilai yang dikejar. Tapi keberkahan dari ilmu itu sendiri. Anda belajar dalam pola pikir akan mengaplikasikan ilmu yang Anda pakai. Di situ Anda akan mengerti dan mencoba paham dengan apa yang Anda pelajari. Dengan niat seperti ini, bagi saya lebih mudah diri ini menerima ilmu-ilmu yang diajarkan. Soal nilai? Itu bonus.

Hal lain yang merugikan dari les adalah… bayar. hehehe. Anda akan merasa sangat merugi dan mungkin desperate ketika Anda les, tetapi hasil dari ujian Anda sama-sama saja. Atau bahkan mungkin Anda tidak mengerti apa-apa sampai dekat-dekat ke ujian. Berbeda mungkin bagi mereka yang memiliki pola belajar yang dibentuknya sendiri. Ketika nilai kecil yang akan dievaluasi apa? Tentunya cara belajar sendiri. Ya walaupun tidak semua orang yang tidak les ketika mendapat nilai kecil tidak down. Tapi kemungkinan besar, jika mereka yang les tapi tetap menghasilkan hasil yang sama saja, “Lah saya udah bayar.. saya udah meluangkan waktu.. saya udah blablabl..” yang akan keluar dari pikiran Anda. Atau kalau engga Anda, ya orang tua Anda sendiri.

Di luar mahasiswa-les, memang fenomena menjamurnya bimbingan belajar ini menjadi salah satu bukti kurang baiknya pendidikan di Indonesia. Berarti yang diajarkan di sekolah belum cukup untuk membawa wawasan kepada siswa. Lalu untuk apa sekolah? Yang bikin miris bahkan ada yang sampai merasa sekolah di les, les di sekolah. Ironi.

Saya sendiri adalah produk les. Di setiap akhir tahun di setiap jenjangnya, saya selalu mengikuti les. Namun ketika akhir-akhir di kelas 3 SMA, saya berpikir ketika sedang mengikuti kelas di les, “nanti ketika sudah berstatus mahasiswa, apakah iya saya akan les terus? Nanti sampai besar saya harus dibimbing terus dong”. Sejak saat itu saya memutuskan untuk mulai mencari cara dan membiasakan berlatih sendiri. Memasang puzzle-puzzle ilmu itu sendiri. Sehingga menjadi terbiasa. Saya mendapat potongan-potongan puzzle itu dari dosen, lalu saya akan menyusunnya sendiri dengan bantuan pola pikir. Jadi menurut saya, “saya tipe belajarnya harus ditemani dan dibimbing”, sudah menjadi alasan yang tidak bisa diterima.

Ingat, kelompok belajar berbeda dengan les menurut saya. Di sana terjadi tukar pikiran. Terjadi diskusi. Pemasangan puzzle bersama. Ditambah dengan interaksi sosial yang memang kita butuhkan. Lebih positif bagi saya mungkin untuk membuat kelompok belajar ketimbang mengikuti les.

Tahap persiapan bersama harus dimanfaatkan dengan baik. Dengan cara yang benar. Karena tahun pertama, maka inilah waktu yang tepat untuk penyesuaian. Sesuaikan cara belajar dengan dunia perkuliahan di tahun-tahun berikutnya. Jangan dibalikan pola pikirnya. Jangan jadi menjustifikasi diri sendiri dengan menggunakan label ‘tahun pertama’ sebagai tahun penyesuaian yang dilakukan dengan mengikuti les. Maka dari itu les bagi saya bukan solusi untuk persiapan tersebut. Karena ternyata banyak kerugian yang akan didapatkan dari mengikuti les. Kerugian yang paling utama adalah penyesuaian cara belajar dan pola pikir hanya-mengejar-nilai yang tidak cocok di dunia perkuliahan, serta ketergantungan terhadap orang lain dalam hal menuntut ilmu.


Tulisan ini saya tulis karena keresahan saya terhadap fenomena yang terjadi. Yang membuat mahasiswa tidak terlihat seperti mahasiswa (Lalu apa pula mahasiswa itu?!). Mungkin memang tiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk survive di kawah candradimuka ini. Tetapi justru memanjakan diri dengan mengikuti les pada tahun pertama ibarat ‘mempersiapkan’ diri sendiri untuk lebih tidak bisa survive lagi di tahun-tahun selanjutnya. Saya peringatkan, saya bukan orang yang paling benar. Namun setidaknya tulisan saya rasional, bukan? Ataukah keresahan ini memang salah? Apakah hanya diri saya yang merasakan resahnya? Semoga tidak.

    Written by

    Capture Moments, Write Stories.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade