Tenggelam di Lautan

Ilham Muzakki
Jul 20, 2017 · 3 min read
salah satu foto pantai yang saya punya

Aku menulis ini hanya untuk mengeluarkan isi hati dan pikiran. Tidak harap disetujui atau bahkan dibaca sekalipun. Biarkan aku menulis, apa yang ada di hati dan kepala ku.

Kita yang sedang berada pada bulan-bulan kaderisasi ini, sebagai peserta kader, mungkin sedang hectic-hectic-nya. Sedang menjadi manusia paling patuh. Mengerjakan semua tugas yang diberikan. Memenuhi semua panggilan. Memberikan jiwa raga ini kepada sistem yang sudah kita percayai karena nyatanya mampu mencetak orang-orang hebat.

Niatku di awal memang sudah seperti itu. Aku ingin tenggelam. Menikmati segala prosesnya. Menerima apapun yang diberikan. Tak perlu repot mengkritisi. Itu sudah ada yang mengerjakan. Bahkan mungkin sudah dikritisi berkali-kali sebelumnya.

Cukup tenggelam saja dalam lautan kaderisasi ini.

Namun nyatanya diri ini dipaksa keluar dari lautan walaupun hanya untuk beberapa saat. Menghirup udara di luar yang ternyata lebih menyegarkan. Bahkan menjanjikan serta menyenangkan. Penuh kebahagiaan dalam menjalankannya, tapi tetap menantang, juga menghasilkan. Sama-sama bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Lalu kenapa aku memilih untuk tenggelam ya? Kalau ternyata tak perlu menahan napas pun bisa.


Sebenarnya aku hanya sedang bertanya-tanya. Baru kali ini aku melihat sebuah jalan tanpa ada ujungnya. Banyak orang berkata, jika aku berhasil melewati ini, maka aku akan menjadi seperti A.

Namun aku tanyakan kembali kepada diriku, memang aku ingin menjadi seperti A?

Ku sadar sesuatu. Yang penting bukan menjadi seperti A. Tapi bagaimana kita tetap menjadi sukses dalam definisi kita. Sukses dalam definisi yang bebas.


Sebenarnya aku bingung, memang jalan sukses se sempit itu ya? Kenapa kita seperti dikacamata kuda kan? Dipersempit pandangannya, bahwasanya yang sukses adalah orang yang bisa aktif di kampus. Manusia yang berhasil adalah mereka yang menjadi aktivis-aktivis yang berhasil melewati sebuah tahapan atau jalan tertentu di kampus. Aku menjadi bertanya-tanya, apakah iya hanya itu jalannya? Lalu bagaimana orang-orang yang aktif di luar? Atau bahkan sudah mencari pengalaman dalam bekerja?

Maka aku coba untuk sejenak keluar dari lautan. Nyatanya, perkembangan diri menjadi lebih terasa dengan banyak cara. Wawasan menjadi lebih luas. Pandangan menjadi lebih terbuka. Waktu tidak merasa tersia-siakan.


Aku menjadi takut, waktu ku di dalam lautan menjadi sia-sia. Aku memang terlalu berpikir jauh. Terlalu egois, memikirkan waktuku yang padahal belum tentu bisa dihabiskan dengan sesuatu yang berharga pula.

Aku pernah melihat keluar lautan. Nyatanya banyak yang terlihat lebih menarik. Lebih menjanjikan. Lebih menghasilkan. Namun yang aku pilih? Kembali tenggelam ke lautan.

Hamparan luas yang katanya banyak orang sudah ditempa dengan baik dan menghasilkan. Mungkin lautan tidak tepat menggambarkannya. Namun kawah. Seperti candradimuka. Tempat penempaan para ‘pahlawan’ yang siap menjadi garda terdepan untuk membela rakyat (katanya). Menjadi manusia yang cakap memangku jabatan dan disegani banyak orang. Menjadi manusia yang pandai berdialektika bahkan berbicara di depan publik. Menjadi manusia percontohan serta kebanggaan kerabat dekat. Siapa yang tidak mau menjadi manusia-manusia itu?


Yasudahlah, kalau begitu aku tenggelam lagi saja. Tidak perlu bertanya-tanya, mengkritisi berlebihan karena akan hanya menghasilkan lelah. Percaya saja dengan apa yang sudah dikerjakan. Nyatanya memang menghasilkan manusia-manusia hebat kan? Semoga apa yang kulakukan ini benar. Dadah.

)

    Written by

    Capture Moments, Write Stories.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade