Ditolak Visa Schengen. Duh!

Tulisan ini adalah bahan pelajaran untuk siapapun yang mau buat visa Schengen. Supaya rencana vacation ke Eropa ga berantakan kayak aku hiks.

Jadi, rencananya aku dan Daniar mau pergi ke Swiss tanggal 30 Juni ini. Daniar diterima Openlab Program di CERN, aku nemenin aja. Berhubung pengumuman diterimanya di awal Mei, kami langsung beli tiket pesawat tanggal 15 Mei. Kami beli 2 flights yang berbeda dari Bandung ke Singapura, baru dari Singapura ke Geneva karena harganya yang miring. Bandung-Singapura 600ribuan, Singapura-Geneva 4.8jutaan. Ternyata hal ini normal guys, buat dapetin tiket murah karena keberangkatannya yang masih berkisar 2 bulan ke depan. Soalnya pas aku cek lagi beberapa minggu sebelum keberangkatan di situs yang sama (Traveloka) harganya minimal udah di 6jutaan untuk Singapura-Geneva.

Nah, kami pun cari info buat bikin visa Schengen, mulai dari cari di internet, nanya temen, juga bolak-balik nanya Administrative Officer Openlab Student Program (lets call her sebagai humasnya aja lah, ya) di CERN yang ngasih info soal visa dan kebutuhan lainnya untuk ke sana dan saat di sana. Terutama karena Daniar bakal bawa istri. Hal ini tentu aja bakal lebih kompleks daripada temen-temen dari Indonesia yang udah pernah pergi ke Swiss dengan alasan serupa.

Diringkas aja ya, langkahnya. Jadi kami harus buat akun di TLScontact. TLScontact ini third party yang dipakai sama Kedubes Swiss dan Kedubes Perancis buat ngumpulin dokumen dan ngerekamin data biometric orang-orang yang mau bikin visa ke dua negara itu. Udah buat akun dan aktivasi akunnya via email, langsung isi form aplikasi. Isinya berhubungan dengan identitas dan segala hal yang diperlukan buat visa. Kan aku mau buat visa untuk 2 orang, dalam 1 keluarga. Jadi cukup 1 akun aja dan dibuat dua aplikasi sekaligus (bisa lebih, kok. Yang penting sekeluarga). Setelah disubmit dokumennya (di validasi), aku nentuin tanggal buat dateng ke kantor TLScontact nya. Meskipun aku buat aplikasi secara online dari 2 bulan yang lalu, yah baru tanggal 21 Juni kemarin dapetnya. Udah deg-degan gitu kan mepet. Tapi waktu itu kami belum ngeh separah apa kondisinya.

Kalau udah kayak gitu sebenernya tinggal tunggu aja waktu buat dateng ke TLScontact sambil ngelengkapin dokumen yang diperlukan. Tapi karena udah mulai panik tanggal 26–27 Juni TLScontact nya libur dan 26–28 Juni Kedubes Swiss nya libur, Daniar udah mulai sibuk ngehubungin Kedubes buat nanyain apakah ini mungkin diproses sampai selesai sebelum tanggal 30, ngehubungin temen-temen yang pernah ke CERN berapa lama prosesnya, ngehubungin orang Indonesia yang kerja di CERN buat minta bantuan gimana caranya mempercepat prosesnya, dan sampai minta humas CERN buat ngirim email ke Kedubes Swiss di Jakarta supaya mempercepat proses karena udah urgent banget.

Sampailah tanggal 21 Juni. Secara ga sengaja, waktu ngurus visa kami ngobrol sama orang-orang yang duduk pas nunggunya sebelah-sebelahan. Ada yang lebih parah dong, ada yang perginya tanggal 25 Juni (seorang ibu-ibu yang mau ikut konferensi human rights gitu), ada juga yang perginya tanggal 26 Juni (sekeluarga, ngurusnya pakai travel agent, mau liburan ke Swiss). Kalau aku sama Daniar aja udah panic ga jelas, aku yakin mereka udah lebih sering neror Kedubes maupun TLScontact hahaha

Nah, hal-hal yang ga sesuai waktu kami ngurus visa ini adalah:

· Waktu itu Daniar ngajuin jenis visanya Business (ini karena ada mahasiswa EL 2014 yang sekarang ikut Summer Student di CERN pakai jenis visa ini). Kan kalau isi jenis visa ini jadi harus masukin pekerjaan, Daniar masukin pekerjaannya sebagai computer expert di ITB. Masalah baru. Jadi harus ada surat pengantar di ITB. Akhirnya kami minta agen di TLScontact yang ngecek dokumen kami buat ubah pekerjaannya jadi mahasiswa. Akhirnya dapet jenis visanya visitor.

· Aku waktu itu ambil jenis visa visiting family dengan Daniar sebagai pengundangnya. Sebenernya di invitation letter dari CERN udah dimention nama aku sebagai istrinya Daniar yang bakal ikut. Tapi entah kenapa masih bermasalah jadinya dikasih jenis visanya turis.

· Nah dengan jenis visa yang baru ini menimbulkan masalah baru. CERN itu posisinya deket banget perbatasan Swiss dan Perancis. Kami udah di booking in apartemen di wilayah Perancis yang jaraknya cuma 1.2km dari CERN. Aku kan ga kerja di CERN, dianggap bakal banyak tinggal di wilayah Perancis. Aku dikasih 2 pilihan, mau tetep apartemen di wilayah Perancis jadi daftar visa lewat Perancis atau tetep lewat Swiss tapi harus kasih bukti booking tempat tinggal di wilayah Swiss. Waktu itu baru selesai di agen yang ngecek dokumen jam setengah 11, awalnya dikasih waktu cuma sampai jam 11 buat ngasih bukti cetak (FYI, kalau mau cetak kami harus numpang ngeprint di JNE di basement Menara Anugrah, tempatnya TLScontact. Belum lagi ga bawa uang buat bayar fee pengurusannya sampai harus ke gedung sebelah buat ngambil duit di ATM). Akhirnya dikasih waktu sampai jam 11.45. Kami coba nanya Kedubes apa boleh nyusul dikirim via email, katanya boleh. Kami pun membuat surat pernyataan ke Kedubes untuk menerima resiko visa ditolak karena masih menggunakan tempat tinggal di Perancis.

· Kesalahan fatal selanjutnya adalah, plis banget bawa uang sesuai segala macam fee yang tertera pada pemberitahuan melalui email soal apa-apa yang harus disiapin buat ke TLScontact (lebihin deh, kali-kali fotonya ga sesuai dengan kriteria mereka jadi harus foto ulang di tempatnya). Juga bawa semua fotokopi identitas yang memuat nama: akta kelahiran, KTP, KK, dsb. Juga bawa dokumen asli semua dokumen yang difotokopi. Soalnya ditanyain juga buku rekening asli meskipun udah ada fotokopiannya.

Akhirnya kami pun pulang dengan harap-harap cemas bisa diterima. Besoknya dapet email dan ditelpon, visaku ditolak sedangkan Daniar diterima. Juga disuruh ngambil paspor tanggal 23 Juni jam 9–12 di Kedubes Swiss (ga nyangka juga prosesnya cuma sehari. Fyuh…). Berhubung ga mungkin banget kami pergi ke Jakarta di puncak arus mudik seperti ini, jadi nitiplah ke temen yang ada di Jakarta.

Sebagian Surat Penolakan

Tulisan ini aslinya aku buat di hari aku dapet pemberitahuan penolakan. Jadi masih ada perasaan kecewa dan sedih yang bikin nangis bombay karena bakal LDR sama Daniar :(

Tapi sekarang aku udah ga sesedih itu. 2 kali ini aku ga bisa pergi ke luar negri emang selalu ada hikmah di baliknya. Kayak waktu itu ga jadi exchange ke Korea di bulan Februari, hikmahnya jadi nikah sama Daniar di bulan Mei (eciee). Nah kalau yang sekarang, ternyata penerbangan Bandung-Singapura yang diprediksi bakal ada waktu jeda 3 jam di bandara Singapura malah ludes gara-gara delay ga jelasnya Malindo Air selama di Bandung dan transit di Kuala Lumpur. Belum lagi harus buru-buru ke gate penerbangan selanjutnya. Seandainya aku ikut, aku pasti udah ngambek-ngambek di bandara haha.

Terus, ga jadi dong jalan-jalan ke Eropanya? Masih diusahakan nyusul. Doakan saja ya! :)

Tambahan: Ada yang ngemesej aku di FB nih soal penolakan visa dari kedutaan Swiss. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua ya! Berikut salinannya:

Hi Ilma,
I read your post about visa refusal from Swiss embassy. Actually I had the same experience like you faced, even two times refusal from Swiss embassy and one rejection of appeal.
I live in Swiss now and I invited my family to come here. The problem I presumed was lied on the invitation letter, I assume that you used this letter in applying a visa.
Swiss is kind of different, Swiss government is worried that more people comes to Swiss to have a better living and wont come back to their countries.
To avoid the same situation I face, two times refusal even make it harder to get a visa, please consider to apply from another embassy, if you will stay less than 3 months it would be better if you apply for tourist visa. Netherland and Spain will be good options as you may read in BD, considering a past history Ind-NL and the latter country’ s condition in which they need “money”.
I see me and my family find it hard now to have solution on the problem we have. So, please consider to avoid the same issue with mine.
I wish you and your husband good luck for the visa.
Regards,
Toriq
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ilma Hidayati’s story.