Ditolak Swiss, Akhirnya Dapat Visa Schengen dari Perancis!!!

Karena untuk bertemu suami aja butuh perjuangan panjang yang mengesankan :”)

Ini emang bukan pertama kalinya aku apply visa Schengen. Setelah ditolak kemarin, aku mengajukan lagi ke Perancis. Tapi, aku harap-harap cemas banget sebenernya karena aku juga ragu apakah aku harus mengajukan visa sebagai visiting family atau turis. Belum lagi, ada kekhawatiran ditolak lagi. Belum lagi ada aja pihak yang udah pesimis duluan dan mewanti supaya tidak perlu repot mengurus lagi kalau yang kali ini gagal. Ya Allah, kan aku cuma pingin ketemu pasangan halalku, bisa begini rumit jalannya T.T

Jadi, sekarang aku berusaha seminimal mungkin tidak melakukan kesalahan. Semua dokumen aku bawa. Bahkan membuat dokumen-dokumen yang aku juga ga tau sebenernya perlu apa ga, yang penting buat dan bawa aja. Aku bahkan rela cuma tidur ga sampai 3 jam sebelum berangkat ke Jakarta naik travel demi buat travel itinerary yang di syaratnya untuk visa turis pun ga ada. Gapapa, aku mau memaksimalkan usaha. Bismillah. Hasilnya, aku pasrahkan saja pada Allah :)

Selasa, 4 Juli 2017

Tapi akhirnya ga sempet buat travel itinerary juga. Berangkat naik travel dari Bandung jam 4.15 pagi. Sampai di TLScontact (Menara Anugrah, Mega Kuningan) jam 8.20. Rasanya kayak mau ujian skripsi. Deg-deg ser tiap memasuki pintu menuju ke kantornya. Hingga nama aku dipanggil untuk bertemu agen pun rasanya seperti mau bertemu dosen penguji. Alhamdulillah ternyata ga setegang itu. Aku bisa jelasin fungsi tiap dokumen yang aku lampirkan. Aku juga bilang soal penolakannya dan melampirkan suratnya. Aplikasi visaku dinyatakan lengkap dokumennya meskipun jenis visanya diganti jadi Private Visit karena kalau Family Visit harus ada surat dari otoritas daerah setempat di Perancis. Walau dokumennya lengkap, tetep ga ada jaminan kalau visaku pasti lolos. Berikut ini list dokumen yang aku masukin:

  1. Form aplikasi Schengen yang didownload dari akun TLScontact (setelah melakukan pengisian data di akun tersebut)
  2. 2 Foto paspor ukuran 3.5cm x 4.5cm, proporsi wajah pada foto 80%, dahi terlihat
  3. Flight booking dari Indonesia ke Perancis dan dari Perancis ke Indonesia (booking aja loh, ga harus bukti tiket yang udah dibayar. Tapi aku dapet flight booking ini dari agen travel. Kalau booking dari situs biasa kayaknya ga memenuhi. Harus booking yang pakai jaminan credit card)
  4. Travel insurance (waktu itu beli di Axa Mandiri, yang including Schengen area. Syarat asuransinya adalah: The insurance shall be valid throughout the territory of the Member States and cover the entire period of the person’s intended stay or transit. The minimum coverage shall be EUR 30,000. Nah, asuransi perjalanan tipe Platinum dari Axa Mandiri ini salah satu yang memenuhi syarat)
  5. Hotel booking (kalau aku sih bukan cuma booking karena memang udah didaftarin sama CERN buat aku sama Daniar)
  6. Bank statement yang mengcover transaksi 3 bulan terakhir (tinggal minta bank statement sama rekening koran di bank. Eh, bayar 200 ribu sih kalau di BNI. Terus mintanya ke kantor cabang (biar prosesnya cepet) karena di suratnya di tandatangani kepala cabang. Kalau mintanya di kantor cabang pembantu, biasanya perlu waktu 1 hari. Kalau di kantor cabang paling berapa menit heu). Tetep bawa buku rekening aslinya juga. Kadang ada agen TLScontact yang nanyain.
  7. Fotokopi KK
  8. Fotokopi Akta Kelahiran
  9. Invitation letter dari CERN
  10. Invitation letter yang dibuat Daniar sebagai pengundang
  11. Contract antara CERN dan Daniar (sebagai jaminan yang ngebiayain selama hidup di sana)
  12. Passport asli dan fotokopi
  13. Surat penolakan dari Kedubes Swiss

Setelah bayar biaya pengurusan visa dan ambil data biometric rasanya lega. Beneran selega-leganya habis ujian. Sampai rasanya masih ada tenaga untuk berjalan ke Plaza Festival (tempat pool travel yang jaraknya kira-kira 2.8 km dari Menara Anugrah) padahal terakhir makan adalah siang hari kemarin. Malam tidak makan, pagi tidak sempat.

Salah satu view dari jembatan penyebrangan Jalan H.R. Rasuna Said dalam perjalanan menuju Plaza Festival

Sampai di Plaza Festival pun masih ga nafsu makan. Ingin langsung pulang dan memajukan waktu travel. Jadi aku pulang jam 11.15 dari sana. Secara ga sengaja, aku menyadari ada mas-mas yang berangkat bareng di travel tadi pagi dan bareng lagi. Ieng-iseng aku tanya eh… ternyata anak Telekomunikasi ITB wkwk. Jadilah ngobrol panjang.

5 Juli

Mulai menghubungi kedubes melalui email dan belum dibalas. Menurut status di akun TLScontact-ku dokumennya baru masuk ke kedubes.

6 Juli

Nelpon kedubes Perancis buat nanyain. Ternyata ga menerima pertanyaan mengenai visa melalui telpon, hanya melalui email atau dateng langsung jam 11.30–12.30. Mana kayak nelpon rumah orang Perancis deh, ditanya ‘Mau bicara sama siapa?’ pake bahasa Perancis wkwk.
Akhirnya mulai merasakan kepanikan yang dulu dialami Daniar. Tanggal 10 nanti harusnya jadwal keberangkatan dan sekarang masih belum ada kabar. Mulai deh meneror TLScontact melalui messagenya. Minta dia bales lewat email atau telpon balik.

7 Juli

Ada telpon dari kedubes Perancis bagian visa. Katanya dokumennya udah diperiksa atasannya dan diminta kirim fotokopi visanya Daniar. Berhubung ditelponnya jam 9 pagi, berarti waktu Swiss jam 4 pagi, jadi ga bisa minta fotoin. Daniar pernah ngefoto pakai hpku, tapi posisi visanya ga proporsional. Jadilah di edit sedemikian rupa pakai Instagram. Terus dikirim. Siangnya baru dapet foto yang bagus. Dikirim ulang deh. Tapi ga ada notif apapun. Ga dikasih tau juga itu fotokopi visa udah diterima apa belum.
Sorenya aku telpon TLS buat nanyain status paspor. Belum selesai juga proses di kedutaannya. Ternyata, maksud dari jaminan visa selesai dalam waktu 48 jam itu 48 jam kerja, di mana kedubes kerja 6 jam/hari. Means butuh waktu 8 hari kerja, at least 5 hari lah. Yah, masih belum keluar batas rencana awal sih yang mau berangkat tanggal 14/15 Juli.

10 Juli

Akhirnya dapet telfon dari TLScontact kalau pasporku sudah dikembalikan dari kedubes dan siap meluncur menuju ke Bandung. Berhubung aku minta paspornya dikirim melalui kurir (pakai JNE YES), aku tinggal santai nunggu di Bandung buat kiriman paket esok harinya. Yuhuuu, Europe, I’m coming :D

Tambahan: ternyata kedubes Perancis baik lho kalau ngasih visa. Aku dikasih visa buat multiple entries, durasinya 90 hari, berlaku hampir 6 bulan kedepan. Denger-denger emang Swiss agak ribet sih buat ngeluarin visa. Pasalnya Pak Suami dapet visanya single entry, durasi dan masa berlakunya pas sesuai dengan kontrak kerja di CERN. Konon katanya, kalau mau dapet visa Schengen yang gampang itu lewat kedutaan Belanda. Tapi sangat disarankan masuk pertama kali lewat Belanda supaya ke depannya ga ada masalah kalau apply visa lagi. Semoga informasi ini bermanfaat ya!