Sepenggal Kisahku

Tentang perjalanan hidupku, seorang ibu dengan 4 anak, selama beberapa bulan terakhir.

Aku hadir di tengah keluarga ini kira-kira sebelum lebaran ketupat. Orang-orang yang tinggal di rumah ini terdiri dari sepasang suami istri paruh baya dengan 2 anak lelakinya. Mereka menerimaku, wanita dewasa yang kala itu tengah dimabuk asmara, dengan hangat. Mereka memberiku tempat bernaung dan makanan yang berlimpah lagi nikmat. Mereka merawatku dengan sangat baik.

Pertemuanku dengan lelaki tetangga rumah hingga hubungan yang cukup intim membuatku tak sadar, ternyata aku tengah hamil muda. Para penghuni ini tidak tahu, aku merahasiakannya. Mereka hanya menganggapku sebagai wanita peminta suaka yang bisa memberikan mereka kebahagiaan. Ya, mungkin aku tidak mampu membantu pekerjaan rumah mereka atau tugas sekolah dua anak lelaki yang tinggal di rumah ini, tapi aku bisa menghibur mereka! Buktinya mereka senang mencariku dengan memanggil namaku ketika aku sedang berkeliaran di rumah yang besar ini.

Sikapku memang sangat ramah terhadap mereka. Aku selalu menyapa mereka ketika berpapasan. Lebih ramah lagi ketika aku melihat mereka sedang makan. Aku bisa mengoceh panjang lebar haha. Sebenarnya, aku selalu penasaran dengan apa yang mereka makan, mengapa mereka begitu tampak menikmatinya? Aku ingin mencobanya juga! Namun, sang ibu yang selalu menyiapkan makanan untukku sudah memberi diet yang berbeda. Rasanya fantastis!

Dua bulan berlalu, datanglah sepasang suami istri muda yang baru menikah. Sang suami adalah putra tertua bapak-ibu penghuni rumah ini. Mereka bersikap baik dan sangat menerima kehadiranku di rumah ini. Mereka bahkan mencoba mengakrabkan diri denganku. Aku sama sekali tidak menolak, padahal biasanya aku enggan bercengkrama dengan orang asing. Aku rasa mereka memang betul-betul tulus.

Aku sering menemani mereka beraktifitas. Mulai dari makan bersama. Menemani mereka mengerjakan tugas. Menemani mereka bermain atau bercengkrama dengan anggota keluarga lainnya. Hingga kadang, aku menyambangi kamar mereka dan menemukan mereka tengah pacaran hehe. Mereka sama sekali tidak keberatan soal kehadiranku, mereka benar-benar mengajakku berbincang, bercanda, bahkan sang istri sama sekali tidak keberatan saat sang suami menggodaku. Mereka benar-benar memperlakukanku seperti saudara kandung.

Kandunganku semakin besar dan aku terlihat semakin gemuk, selain memang tubuhku bertransformasi dari ceking menjadi sintal karena makanan bergizi yang aku makan setiap hari. Para penghuni rumah ini mulai heboh menanyakan berapa anak yang aku kandung, kapan aku melahirkan, dan seperti apa rupa anak-anakku. Well, bukan hanya kalian yang penasaran, kok.

Suatu hari, aku merasakan perutku sakit. Bukan karena janin-janin yang aku kandung, aku yakin itu. Pasalnya beberapa kali aku diare. Hal ini membuat nafsu makanku turun. Sang ibu penghuni rumah mulai cemas melihat tingkahku karena aku membiarkan makanan yang disiapkan olehnya teronggok begitu saja. Ditambah, dengan tubuhku yang tampak lesu. Aku menjadi jauh lebih diam dibanding sebelumnya.

Dua hari kemudian, aku merasa baikan. Aku kembali dengan sifatku yang talkative. Aku menghampiri sang putra pertama dengan istrinya yang tengah bercengkrama di ruang keluarga. Seperti biasa, sang istri selalu memujiku dengan memanggil dengan sebutan ‘si cantik’. Aku duduk di kursi dekat mereka. Kemudian sang istri tampak heran. Dia berkata, ada sesuatu yang keluar dari bokongku, seperti tali yang sangat panjang. Sontak, sang suami berteriak histeris melihat hal itu. Sang istri tampak pucat dan merasa jijik. Aku juga tidak menyadari, ternyata ada cacing pita sepanjang 50cm keluar dari bokongku. Sang bapak dan ibu pun bergegas mencecokiku dengan obat cacing. Rasanya ketika cairan obat itu memasuki mulutku, ingin kumuntahkan semuanya.

Sejak saat itu, sang istri menjadi agak dingin kepadaku. Bahkan bersentuhan dengan tubuhku pun ia enggan. Ia sering memberikan tatapan jijik dan ngeri, seakan-akan aku membawa bibit penyakit menular. Aku tahu, dia mungkin hanya bersikap preventif. Tapi ia menuduhku bahwa perut buncitku ini semata-mata karena cacing yang hinggap di sana. Beruntung sang ibu membawaku ke tetangga yang pernah menjadi dukun bayi. Menurut penuturannya, memang betul ada janin di sana.

Hingga suatu ketika aku yakin waktu melahirkan kian dekat. Aku mulai mencari tempat yang nyaman untuk menyimpan bayi-bayiku kelak. Di setiap sudut ruangan aku kunjungi. Surveyku berakhir ketika aku mulai merasakan kontraksi. Aku mulai mengoceh banyak terhadap anggota keuarga ini. Sayangnya mereka tidak memahami ocehanku. Akhirnya aku memilih tempat yang tenang, sunyi, dan tidak banyak dilalui orang. Sebuah tempat di area paling puncak rumah ini.

Aku berjuang melawan maut dalam melahirkan anak-anakku. Rasa sakit ini aku tanggung sendirian. Aku menikmati setiap kontraksi yang aku rasakan, karena aku tahu satu anakku akan lahir kedunia ini. Betul saja, satu demi satu keluar dari perutku. Total ada 4 anak-anak yang lucu-lucu! Aku pun menyusui dan merawat mereka dengan sabar. Aku yakin, penghuni rumah ini pasti bingung karena aku tidak memunculkan batang hidungku selama 2 hari ini. Tapi aku berasumsi mereka sudah tahu soal kelahiran anak-anakku. Pasalnya, tangis mereka pasti terdengar oleh penghuni rumah ini. Anak-anakku lahir pada tanggal 4 Oktober, hari yang sama dengan kelahiran putra ketiga penghuni rumah ini.

Setelah aku merasa badanku tidak terlalu lemas, aku mulai menemui penghuni rumah ini. Aku makan apapun yang disajikan dengan lahap. Pasalnya aku butuh banyak nutrisi untuk menyusui anak-anakku. Kadang aku sangat rewel dan tidak sabar ketika penghuni rumah ini tengah menyiapkan makanan untukku. Pernah suatu hari, aku terlibat pertengkaran dengan sang istri putra pertama penghuni rumah ini. Aku tahu, ia sedang menyiapkan makanan untuk dirinya, tapi desakkan rasa lapar ini sungguh memmbuatku tidak sabar. Kami berebut makanan di meja makan hingga satu teko besar minuman tumpah dan membasahi meja, kursi, serta lantai. Sang istri membentakku dan mengusirku dari ruang makan.

Aku merasa tempat yang aku dan anak-anakku tempati saat ini kurang ideal. Aku pun mulai memindahkan anak-anakku ke tempat yang lebih baik. Coba tebak di mana? Aku memindahkannya ke kamar pasangan suami-istri muda penghuni rumah ini. Ketika mereka mengetahui anak-anakku di sana, mereka terlihat senang. Tapi di satu sisi mereka tidak ingin kamar mereka dikotori oleh anak-anakku. Jadilah drama baru. Mereka memindahkan anak-anakku ke bagian belakang rumah. Di sana terlalu bising, ada suara cuitan burung yang dipelihara oleh sang bapak. Aku kembalikan anak-anakku ke kamar. Mereka pindahkan lagi ke bagian rumah dekat toko. Ya sudah, aku pasrah. Tapi suara ayam-ayam peliharaan juga menggangguku. Akhirnya, aku pindahkan ke bagian rumah dekat sumur. Hmm, padahal kamar itu sangat ideal. Suhunya hangat dan cukup sepi. Anak-anakku kan masih butuh banyak tidur.

Beberapa minggu berselang, tak kusangka ada lelaki pencari suaka datang ke rumah ini. Aku sangat berang. Aku menganggap ia sebagai ancaman paling berbahaya. Aku mengeluarkan segala cara untuk mengusirnya, mulai dari bentakan hingga aku benar-benar mengejarnya supaya pergi dari rumah ini. Setelah ia pergi, rupanya ada ancaman baru di rumah ini, yaitu tikus-tikus yang bahkan memakan ayam peliharaan.

Dengan sukarela aku membantu penghuni rumah ini untuk menangkap tikus. Hey, itu keahlian kaumku lho. Kami berhasil menangkap 15 tikus yang juga dibantu dengan obat tikus. Hari itu, untuk pertama kalinya aku makan tikus dan aku merasa ini makanan paling enak yang pernah kucicipi.

Hari itu aku putuskan untuk meninggalkan rumah ini. Aku pergi bersama anak-anakku setelah paginya aku bertemu dengan istri putra pertama. Hubungan kami sudah membaik. Ia bersedia aku temani makan meskipun aku tidak doyan dengan apa yang ia makan. Secara resmi, seluruh daerah ini adalah rumahku, bukan hanya rumah tempat aku bernaung selama beberapa bulan ini. Aku dengar, penghuni rumah ini mencariku. Mereka masih melakukan kebiasaan memanggil namaku di dalam rumah. Mereka bahkan menghabiskan waktu untuk memikirkan keberadaanku dan mencariku ke sekeliling rumah. Aku sudah cukup mandiri sekarang. Terima kasih untuk semua kebaikan kalian, wahai penghuni rumah!

Edited (22/10/17): Selamat jalan, Monti. Kami kira kamu pergi mencari tempat lain. Ternyata kamu pergi meninggalkan dunia yang fana ini selepas kamu makan tikus yang udah kena racun itu. Kamu kenapa ga bilang kalau keracunan sih? Mungkin kami bisa bantu obati. Kenapa kamu malah bersembuyi bersama anak-anakmu hingga kami tahu kepergianmu karena jeritan tangis anak-anakmu yang sudah 3 hari tidak mendapat nutrisi? Hingga kami menemukan tubuhmu yang telah terbujur kaku… Kini biarkan kami mengurus anak-anakmu yang lucu. Beristirahatlah dengan tenang ya. Salam, penghuni rumah.

Edited (07/11/17): Monti, 2 anakmu sudah menyusulmu. Mereka adalah Nomi dan Kuro. Nomi itu perempuan dengan corak telon (calico), dia yg paling pertama bisa minum susu dari suntikan tanpa tumpah2. Minumnya pinter banget. Bisa habis 4 suntikan kecil. Tapi beberapa hari yg lalu Nomi ngga sengaja ngedeketin sampah yg lagi dibakar. Kumis, pipi, hidung, dan kaki kirinya kena panasnya api. Tapi lukanya membaik kok setelah dikasih ampisilin. Namun, dia melemas 2 hari ini. Masih bisa minum, tapi hampir tidak sanggup berdiri. Sudah dibawa ke dokter tapi dokter ga bisa berbuat apa2 karena masih terlalu kecil. Siang ini ia ditemukan sudah tertidur nyenyak dan tidak bisa dibangunkan lagi.

Kuro juga perempuan, juga telon tapi sedikit sekali coraknya, lebih banyak putihnya. Dia yg paling kurus diantara 4 anakmu. Tapi teriaknya kencang sekali, paling kencang di antara yg lainnya. Sama seperti Nomi, dia keliatan lemas 2 hari yg lalu. Kaki belakangnya seperti sulit untuk digunakan berjalan. Kemarin ia pun tertidur untuk selamanya. Semoga kalian bahagia di sana dan tidak lagi merasakan sakitnya dunia ya.

(30/03/18)

Satu lagi anakmu menyusul. Pagi ini, satu-satunya putramu, pergi menuju alam kekal setelah kelindes motor. Toro namanya, Daniar yg ngasih nama karena waktu itu dia yg mau jadi ortu asuhnya. Toro itu kucing yg ramah dan sama sekali ga takut sama orang asing. Setelah sebulan aku dan Daniar tidak berada di rumah, Toro tetap menyambutku dengan ramah. Dia sering minta dielus, minta makan, tapi nurut kalau disuruh duduk dan nunggu. Dia suka banget ngejar serangga, pagi ini bahkan ngejar-ngejar ayam. Dia juga sabar kalau diunyeng-unyeng sama penghuni rumah, kadang dibuat jadi pistol buat tembak-tembakan. Suka gigit-gigit dan berkeliaran di sekitar orang yg lagi shalat (termasuk gigit-gigit orang yg pakai mukena). Dia kucing yg bersih, jarang keliatan cemong atau kotor kena tanah. Dia juga seneng banget naik mobil. Kalau aku habis pergi dari luar, begitu pintu mobil dibuka, dia pasti langsung masuk. Kalau naik mobil, dia pasti anteng bahkan tidur. Beneran seneng diajak jalan-jalan naik mobil. Tapi dia juga terlalu berani buat nyebrangin jalan. Ini kali ketiga dia nyebrang jalan dan berurusan dengan pengendara yg lewat. Sebelumnya hampir terlindas mobil, beruntung mobil itu langsung ngerem mendadak, jadi Toro bisa melewati kolong mobil. Sebelumnya lagi terserempet motor, hidungnya jadi bengkak. Pagi ini, sudah takdirnya, dia tertabrak motor. Kepalanya berdarah dan menyusul kalian seketika. Dia padahal masih muda, bahkan masih belum sempat punya keinginan cari pasangan, berbeda dengan satu-satunya kucing yg bertahan, Neko. Selamat jalan, Toro, kamu pasti sudah bahagia di alam sana.

Like what you read? Give Ilma Hidayati a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.