Bimbel dan Micin

Nenek saya paling anti dengan yang namanya micin. Beliau trauma berat setelah membaca artikel di sebuah majalah mengenai dampak negatif micin. Akibatnya, beliau berjanii untuk tidak menuangkan sebutir micin pun ke dalam masakannya.
Jika nenek saya anti micin, setelah mencoba bimbel, saya putuskan sendiri dari hati yang paling dalam kalau saya adalah orang yang anti bimbel.
Saya heran saja kenapa ya kok banyak pelajar — dari SD hingga SMA — yang ikut bimbel. Padahal setiap ada brosur bimbel yang mampir di sekolah, saya melihat di situ jelas tertulis kalau biaya pendaftaran bimbel itu tidak murah, rata-rata jutaan rupiah, bahkan ada yang sampai puluhan juta untuk program masuk universitas yang. Selain itu, dari brosur juga bisa kita ukur-ukur sendiri kalau bimbel akan memakan banyak waktu.
Saya sering bertanya kepada teman-teman yang ikut bimbel kenapa mereka tertarik ikut. Ada yang menjawab kalau dia pengen dapat peringkat yang baik di kelas, ada yang ingin lulus dengan nilai tinggi supaya diterima di sekolah favorit, ada yang menjawab ingin diterima di PTN favorit, ada yang dipaksa orang tua, dan ada jawaban yang sulit sekali saya pahami yaitu ingin membahagiakan orang tua.
Kemudian, saya tanya-tanya lagi seperti apa sih sistem belajar di bimbel mereka masing-masing. Rata-rata jawabannya tidak berbeda jauh. Mereka diajarkan lagi materi sama seperti yang ada di sekolah, diberi kumpulan soal latihan, dan ada beberapa bimbel yang memberikan cara-cara cepat nonsens.
Hingga kelas 3 SMA, saya hanya menduga-duga kalau bimbel tidak ada bedanya dengan sekolah, malah lebih buruk. Dari cerita teman-teman dan seberapa sering mereka menangis setelah ulangan fisika, saya menganggap sistem yang diterapkan bimbel tidak akan pernah membantu saya memahami dan menikmati proses belajar, terutama untuk matematika dan fisika. Saya melihat bimbel terlalu “gila” skor sehingga lupa pentingnya pemahaman dan kenikmatan belajar. Ya, buat apa membuang uang dan waktu kalau ujung-ujungnya menangis karena tidak paham.
Sehari jadi anak bimbel
Sampai pada suatu saat, waktu itu enam bulan sebelum SNMPTN, saya dapat brosur untuk trial gratis program masuk Perguruan Tinggi Negeri di salah satu bimbel di daerah tempat saya tinggal. Trial gratis berlaku untuk seminggu saja kalau cocok bisa lanjut untuk enam bulan kedepan dengan biaya tertentu. Karena saya lagi iseng dan kebetulan tidak dipungut biaya, saya mendaftar ke bimbel tersebut. Biar sekali-sekali ikut merasakan penderitaan anak bimbel dan seenggaknya saya tau apakah selama ini dugaan saya itu benar atau salah. Biar nanti gak dibilang sotoy.
Kemudian, tibalah hari pertama bimbel, waktu itu saya mengambil kelas siang dan hari itu akan diisi pelajaran Matematika. Oke, saya duduk di kelas, saya ambil bangku paling belakang dan tidak lama si pengajar matematika masuk.
Hari itu si pengajar akan menyampaikan materi mengenai matriks. Satu jam pertama si pengajar terus memberikan materi sama seperti yang diberikan sekolah. Lalu, si pengajar mendadak ngomong begini, “Nah sekarang kita masuk ke bagian serunya ya.” Saya masih duduk manis menyimak. “Kita sekarang belajar cara cepat ya. Ini efektif untuk menjawab soal-soal ujian nanti,” kata si pengajar. Si pengajar memberikan contoh soal sederhana dan menyelesaikannya dengan cara cepat yang dia maksud. Si pengajar dengan enaknya menukar-nukar dan menambah angka seperti membangun rumah dalam game the Sims, dilakukan tanpa alasan yang jelas. Kebetulan hasilnya sama seperti menggunakan aturan dasar matriks. Setelah saya cari tahu sendiri ternyata cara itu tidak bisa digunakan untuk kasus yang lebih kompleks. Saya kemudian bertanya kepada si pengajar, “Pak, cara ini tidak bisa dipakai untuk semua kasus ya? Oh iya pak, sebenarnya untuk apa kita belajar matriks? Apa kegunaannya atau mungkin bisa dipakai untuk menyatakan sesuatu pak?”
Pengajar matematika berumur sekitar 40 tahunan yang garing itu pun menjawab pertanyaan saya, “Iya benar ini cuma untuk kasus ini saja dek. Kalau kamu pengen tahu jawaban dari kegunaannya, kamu bisa ikuti dulu cara saya yang asyik ini. Nanti setelah keterima di PTN kamu pasti bisa dapat jawabannya.”
Lalu, seisi kelas tertawa.
Saya malah heran mengapa yang lain ikut tertawa padahal sudah jelas informasi yang disampaikan si pengajar tidak lengkap dan… ngasal.
Setelah itu saya tidak mau memperhatikan papan tulis lagi. Saya habiskan waktu dengan membuat gambar-gambar tidak senonoh di meja bimbel sambil mengamati seisi kelas terus mencatat semua yang pengajar garing tulis di papan lengkap dengan cara-cara cepat konyolnya.
Setelah hari pertama itu saya tobat, ga lagi deh bimbel-bimbel, cukup sekali. Saya kapok dengan cara-cara instan dan cara belajar yang mengharuskan murid untuk… kalo kata orang jawa “nerimo” semua yang dikatakan pengajar.
Saya mengerti bimbel memang punya target, tapi yang terpenting dari yang paling penting, pemahaman yang harus menjadi prioritas utama itu mau dikemanakan? Apakah asal-asal latihan soal dan gila-gilaan mengincar skor tinggi yang mesti dijadikan prioritas utama? Atau cukup dengan cara belajar seperti itu kita lama-lama bisa paham sendiri? Atau mungkin itu adalah cara belajar yang benar? Saya tidak yakin.
Apakah dengan cara-cara instan itu kita bisa lekas paham? Paham sesat mungkin.
Tapi memang sih, dari awal prioritas bimbel adalah membuat muridnya meraih skor tertinggi di ujian bukan mencari pemahaman tertinggi atau kenikmatan belajar tertinggi. Ga mungkin toh ada bimbel yang buat spanduk di depan, “Jaminan Anak Anda Paham dan Pulang Dengan Perasaan Bahagia, Jika Tidak Uang Kembali”.
Orang tua juga kebanyakan hanya melihat hasil, bodo amat apakah kita paham dan menikmati proses belajar. Ya, kebanyakan saya melihat orang tua kita jauh lebih bahagia ketika bisa memamerkan skor anaknya di arisan atau kelompok pengajian mereka. Saya menyebutnya “nikmatnya ria di pengajian”.
Seperti micin
Setelah kejadian itu, saya menganggap bimbel itu seperti micin dalam kuah bakso. Memang rasanya nikmat sekali ketika sudah masuk ke mulut dan setelah ludes kita akan tersenyum kekenyangan oleh kenikmatan kuah bakso itu, tetapi dibalik kenikmatan itu sebenarnya ada “racun” yang merusak tubuh kita. Begitu juga dengan bimbel, terasa nikmat (jika mampu) meraih nilai tinggi atau diterima di kampus yang diinginkan dan kita akan tersenyum ketika orang tua bisa memamerkan apa yang kita raih di tempat arisan mereka, tetapi dibalik itu ada cara dan kebiasaan buruk dalam belajar yang membuat otak kita seperti pemula bodoh dalam permainan dart. Gila skor tinggi, tetapi tidak memahami bagaimana cara membidik dan melempar yang benar.
Oleh karena itu, saya anti dengan micin… eh, maaf maksud saya bimbel.