Rupiah dan Gonjang-Ganjing Perekonomian: Bagaimana Menyikapinya?

Assyifa Szami Ilman
Sep 7, 2018 · 6 min read

Oleh: Hendro Wicaksono dan Assyifa Szami Ilman

Akhir-akhir ini, masyarakat luas dikagetkan dengan berita pelemahan nilai rupiah terhadap dolar secara terus menerus. Berbagai pihak mulai memberikan respon terhadap isu ini, meskipun faktanya tidak sedikit pula yang masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi. Atas dasar keresahan tersebut, kami membuat tulisan ini untuk membantu teman-teman memahami fenomena di balik melemahnya rupiah, tentu dengan berbagai simplifikasi untuk mempermudah pemahaman.

1.Konsep Perubahan Nilai Mata Uang

Secara sederhana, perubahan nilai mata uang sebuah negara dapat disebabkan oleh adanya perubahan permintaan dan penawaran atas mata uang tersebut relatif terhadap mata uang negara lain. Kita ambil contoh Rupiah dan US Dollar (USD). Jika permintaan terhadap USD relatif lebih besar dibandingkan permintaan terhadap Rupiah, maka akan menyebabkan USD menguat atas Rupiah atau Rupiah melemah atas USD (misal dari 1 US$ = Rp10.000 menjadi 1 US$ = Rp11.000). Pelemahan mata uang ini dalam istilah ekonomi sering disebut sebagai depresiasi.

Konsep ini sebenarnya serupa dengan perubahan harga di pasar barang, contohnya cabai. Ketika permintaan cabai meningkat dalam periode tertentu, misal momen ramadhan atau Idul Fitri, maka akan membuat harga cabai tersebut meningkat. Ketika permintaan USD meningkat, maka akan membuat harga USD menjadi lebih mahal relatif terhadap mata uang negara lain.

Beberapa contoh yang dapat menyebabkan permintaan USD lebih tinggi adalah impor yang lebih besar dari ekspor dan juga investor yang awalnya berinvestasi di Indonesia kemudian beralih ke investasi negara lain. Hal ini dikarenakan impor dan investasi di negara lain memerlukan mata uang negara asal atau US$. Ada juga istilah yang disebut sebagai Current Account, yaitu selisih antara nilai ekspor dan impor suatu negara. Current Account Deficit (CAD) terjadi apabila volume impor > volume ekspor, dan dikatakan surplus dalam kondisi sebaliknya. CAD cukup besar, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dapat berpengaruh terhadap pelemahan mata uang tersebut.

2. Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Apa yang sebenarnya menyebabkan rupiah melemah? Tentu apa yang terjadi saat ini merupakan gabungan hasil dari berbagai faktor yang terjadi secara bersamaan. Akan tetapi, setidaknya terdapat dua faktor utama yang berpengaruh secara langsung terhadap pelemahan rupiah:

Krisis di Turki dan Argentina

Mungkin teman-teman akan bertanya, apa hubungannya krisis Turki dan Argentina yang berada nun jauh disana terhadap pelemahan rupiah? Jadi begini, Turki dan Argentina adalah negara berkembang (emerging economies), ketika kedua negara itu mengalami krisis, maka akan muncul sentimen negatif dari para investor terhadap kondisi negara berkembang, sehingga para investor akan cenderung untuk menarik investasi mereka dari negara berkembang (termasuk Indonesia). Penarikan investasi tersebut tentu berdampak terhadap berkurangnya permintaan atas rupiah, sehingga menyebabkan nilai rupiah melemah.

Peningkatan Suku Bunga oleh The Fed (Bank Sentral AS)

Saat krisis 2008, The Fed menetapkan suku bunga hingga 0% untuk meningkatkan konsumsi dan untuk memperbaiki perekonomian saat itu. Ketika perekonomian berangsur-angsur membaik, secara bertahap The Fed meningkatkan suku bunga. Peningkatan suku bunga ini akan membuat imbal hasil atas investasi di AS meningkat, sehingga investasi di AS menjadi semakin menarik. Kondisi inilah yang membuat berbagai investasi beralih ke AS dari yang sebelumnya dinikmati oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam kasus Indonesia, peralihan investasi dari awalnya di Indonesia menjadi investasi di AS tentu akan membuat permintaan terhadap USD menjadi lebih besar, sehingga menyebabkan penguatan USD terhadap Rupiah.

3. Perbandingan Kondisi Pelemahan Rupiah dengan Mata Uang Negara Lain

Perbandingan kondisi ini akan kami bagi ke dalam 2 bagian, yaitu perbandingan dengan negara lain di Asia Tenggara dan perbandingan dengan beberapa negara di dunia.

Gambar 1. Perbandingan pelemahan Rupiah terhadap mata uang lain di Asia Tenggara (Periode 1 Maret — 1 September 2018)

Sumber : Bloomberg

Gambar di atas menunjukkan bahwa sebelum 1 Juni, mata uang di Asia Tenggara cenderung bergerak dalam pola yang sama. Perubahan pola baru terlihat jelas setelah 1 Juni. Dari gambar di atas, terlihat bahwa tidak hanya Indonesia yang mengalami pelemahan nilai tukar mata uang, tetapi seluruh negara di Asia Tenggara juga mengalami pelemahan dengan kadar yang berbeda-beda. Pelemahan Rupiah (hitam) masih berada di bawah nilai pelemahan mata uang Myanmar, Kyat (Kuning) hingga tanggal 1 September 2018.

Gambar 2. Perbandingan pelemahan rupiah dengan beberapa negara di dunia

Sumber : Katadata

Gambar di atas menunjukkan bahwa hingga 20 Agustus 2018, pelemahan rupiah (7,6%) masih lebih baik bila dibandingkan dengan beberapa negara lainnya, seperti Pakistan (11,11%), Turki (38,09%), dan Peso (37,65%). Hal ini juga menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar mata uang tidak hanya terjadi di Asia Tenggara, tetapi juga di berbagai belahan dunia lainnya.

Langkah Pemerintah dalam Menghadapi Pelemahan Rupiah

Walau nilai rupiah terkesan lebih kuat dibandingkan negara-negara lain, kita harus menyadari bahwa situasi ini perlu diantisipasi dengan baik melalui instrumen kebijakan pemerintah. Pemerintah sejak awal tahun telah menaikkan suku bunga Bank Indonesia 7-Day Repo Rate sebanyak empat kali sebagai bentuk respon atas kondisi perekonomian global. Harapannya, dengan menaikkan suku bunga, investor dapat menjaga arus modal keluar sehingga cadangan devisa tidak terus-menerus tergerus.

Selain itu, pemerintah baru-baru ini juga telah mengeluarkan kebijakan pajak atas impor barang tertentu dan memperketat pengawasan terhadap spekulan. Kebijakan pajak atas impor dilakukan untuk mengerem konsumsi masyarakat akan barang impor, mengingat hingga Agustus 2018 nilai impor sudah mencapai USD 5 Miliar, hampir mendekati nilai pada 2017 sebesar USD 6.6 Miliar. Sedangkan pengawasan terhadap spekulan diperlukan untuk mengantisipasi adanya transaksi crowding out (pemindahan modal keluar dari Indonesia) yang hanya berlandaskan spekulasi pelaku. Dalam hal ini, pemerintah melakukan pemeriksaan dalam bentuk legitimasi dan kelogisan di balik setiap transaksi yang terjadi.

Tindakan yang dapat Masyarakat Lakukan

Lalu, apakah tindakan tersebut sudah cukup? Sebenarnya diperlukan berbagai macam instrumen kebijakan lainnya sehingga Rupiah tidak terlalu mudah terpengaruh dengan kondisi global. Menurut kolom yang ditulis oleh Chatib Basri pada Kompas (15 Agustus 2018), investasi portofolio eksternal merupakan komponen neraca yang mengakibatkan nilai rupiah sangat volatil. Lebih lanjut, perlu diketahui bahwa 35–40% pemegang obligasi rupiah merupakan investor asing. Artinya, wajar apabila investor asing ini akan memberangkatkan uangnya kembali ke Amerika ketika AS menaikkan suku bunganya dan pada akhirnya menggoyahkan stabilitas nilai rupiah kita. Oleh karena itu, Pemerintah perlu mendorong insentif bagi pemegang modal, termasuk masyarakat, untuk melakukan pendanaan defisit neraca anggaran. Salah satu caranya adalah insenitf untuk pelaku ekonomi agar masuk ke pasar keuangan dan pasar modal dan membeli obligasi pemerintah. Namun, ada langkah lebih sederhana lagi yang dapat dilakukan oleh masyarakat, seperti berwisata di dalam negeri, mengurangi pembelanjaan barang impor seperti barang elektronik, menukarkan mata uang asing (terutama USD) ke dalam bentuk Rupiah, dan belanja produk lokal yang dihasilkan oleh UMKM.

Kesimpulan

Pada akhirnya, penulis ingin menyampaikan bahwa pada dasarnya fenomena bergejolaknya nilai rupiah ini merupakan hal yang patut kita pandang dengan bijak. Di satu sisi, globalisasi tidak dapat dihindari sehingga rangkaian kejadian di tempat tertentu dapat memengaruhi keseimbangan di dalam negeri. Pelemahan rupiah saat ini mampu dikelola dengan cukup baik oleh pemerintah sehingga masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan. Di sisi lain, kita harus sadar bahwa kondisi pembiayaan anggaran negara ini masih rentan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Hal ini berarti bahwa pemerintah dan masyarakat perlu sama-sama terlibat dalam memperkuat perekonomian Indonesia dengan mengutamakan rupiah sebagai instrumen transaksi di dalam negeri. Yuk kita jadikan momentum ini untuk sadar akan kondisi perekonomian negara kita dan melakukan apa yang kita bisa untuk bersama-sama membangun bangsa ini!

Sumber:

Assyifa Szami Ilman

Written by

Amateur Writer — Writes in Bahasa Indonesia

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade