Manusia, Musik, dan Gunung
Manusia

Suasana Bandung sore hari adalah waktu terbaik untuk bergerak maju, rentang waktu antar siang dan sore berjarak hanya satu jengkal jam matahari.
Stasiun Kiaracondong Bandung, titik awal keberangkatan menuju titik terjauh yang dapat ditempuh kereta api malabar di ujung timur pulau jawa. Tiba lebih awal 30 menit sebelum keberangkatan kereta merupakan sebuah pencapaian cukup mengesankan, terhindar jauh dari drama keberangkatan. Persiapan bisa lebih dari cukup dalam mengumpulkan perbekalan, dan pemanja perut selama diperjalanan 15 jam menuju kota Malang. Dari stasiun ini kami hanya berangkat bertiga, yaitu Mas kur, Aldo dan saya sendiri, ya seharusnya ada satu lagi teman kami sebut saja namanya Agung. Namun harus menyelesaikan urusan kenegaraan terlebih dahulu di Solo, berarti sebenarnya sudah berangkat lebih dulu sehari sebelum kami, dan rencana nya dia akan menyusul kami dari stasiun Solo balapan.
Peluit panjang berbunyi tanda kick off keberangkatan kereta api malabar bergerak kedepan menuju masa depan, karena tak dimungkin lah kereta itu bergerak mundur ke masa lalu. Merupakan sebuah perumpamaan nya yang cukup baik bukan, kereta api adalah sarana transportasi yang akan selalu moving on, walau selalu bergerak ke tempat yang sama namun, tak pernah menatap kebelakang. Lanjut lagi perjalanan ini, stasiun pertama touch down, Cipendey, dimana singgasana matahari mulai beranjak pada wajah terindah berikutnya selain ketika dia baru terbangun.
Langit sore ini begitu genit, mengudeta bulir — bulir rasa menembus jendela, melambaikan sinar keemasan meminta untuk diabadikan oleh manusia kereta. Sangking genitnya kadang ketika kecantikan itu berbinar dia lalu dengan tersipu — tersipu bersembunyi dibalik bayang — bayang hutan sepanjang perjalan kami. Sungguh sulit untuk merakam rekah senyum keemasan itu, mungkin hanya lewat pantulan kereta lah sinar itu mau untuk diabadikan dalam beberapa bit pixel.
Perjalan panjang masih harus terus berlanjut, stasiun demi stasiun berlalu, entah sudah berapa banyak obrolan mulai dari yang paling ringan hingga membahas tentang penomena astrologi terhangat hari ini, yang jelas bukan tentang proses evolusi sebuah bintang, ataupun eksistensi alam semesta. Hanya hal paling sederhana malam itu untuk membunuh waktu, pembahasan dimulai dengan rencana mengambil gambar milkyway atau lebih dikenal dengan galaksi bimasakti oleh kalayak ramai. Hingga penomena langka gerhana bulan terpanjang di abad ini, harapan kami adalah setali tiga uang, yang artinya tak ingin melewatkan momen indah yang jarang sekali terjadi. Menurut filsafat tatanan tertinggi dalam sebuah ilmu pengetahuan adalah teologi atau ketuhanan. Maka pembahasan yang sederhana tadi perlahan bercabang menjadi beberapa cerita semi horor oleh pak dosen kita mas kur, cerita sedikit demi sedikit dikaitkan kebeberapa teori konspirasi bahwa festival music jazzgunung sendiri adalah ritual pemujaan salah satu sekte kuku klan, yang tentu saja hanya sebuah kelakar ringan. Kami terlarut dalam fantasi tentang bagaimana ketika kami sampai di tempat tujuan ternyata mereka mengenakan kostum dan topeng putih dan melakukan tarian pengundang hujan.
Sembari celotehan ini mengabur dengan batas tipis antara omongan tak berisi hingga tawa yang mungkin menjadi sumber gangguan bagi penumpang lain. Walau kami sendiri sadar bahwa telah melanggar peraturan yang tertulis tepat diatas kepala kami. Bunyi dering dari bagian terjujur perut menyapa, akhir nya kami putuskan untuk mampir ke kantin yang tersedia disalah satu gerbong yang agak terletak cukup jauh, mungkin ratusan gerbong dedepan kami, menurut versi paling lebay nya.
Jam 8 malam kantin kereta tak pernah semahal ini lagi harga makanan kali ini. Saya dan Aldo tak begitu bersemangat dengan menu yang tersedia. Uang di kantong begitu malas untuk bertrasnformasi menjadi makanan, yang pada akhirnya hanya menjadi beberapa gelas teh panas jasmine untuk kami, oh iya dengan 1 popmie milik mas kur. Setelah tersiram air panas mie instan ini mengganggu saraf, hingga kami berharap bahwa kereta pun menyediakan hal serupa.
Kabar cukup menyenangkan tersiar dari grup sementara tempat kami berkomunikasi selama masa perjalanan ini, Agung menawarkan untuk membeli makan malam untuk kami dari stasiun solo balapan. Kami pun memesan apa yang disarankan mas kur yaitu ayam geprek dan pesanan mas kur berubah menjadi nasi goreng. Hingga jam — jam ngantuk berjaya namun karena lapar tak ada daya untuk memejamkan mata, praktis roti sobek keju coklat menjadi pengganjal perut malam itu.
Banjar stasiun terakhir jawa barat, cilacap, kutoarjo hingga akhir nya tiba di stasiun tugu jogja, perut kejar — kejaran dengan rasa lapar yang sangat. Jam menunjukan pukul 12, satu jam lagi hingga perut ini disapa makan malam. Obrolan mulai melantur, roti sobek rasa nya tinggal sobekan, hingga syukurlah rekaman kru kereta berbisik merdu tentang stasiun balapan. Yang dinanti akhir nya datang juga, ayam geprek. Bayangan kesederhanaan tentang santap malam yang akan segera menyapa perut sudah melampaui semua batas kewarasan, Oh thanks god, the foods finally here, dengan kemasan yang cukup mevaahh kata anak jaman now, ayam geprek spesial dengan toping keju dan telur dan sambal nya yang terasa hingga ke ujung rasa. Berbanding terbalik dengan nasi goreng spesial yang tak jelas juntrungan nya, trolling someone is always fun, we did it for all night. Harapan untuk menyaksikan gerhana bulan mulai pupus karena proses nya yang begitu lama, dan harus cukup puas dengan jangkuan jendela dalam menyajikan penomena langka itu. Sampai cukup puas dengan ide cukup brilian dari Agung kalau tidak salah, sebagai pelaku industri digital dan bagian dari sebuah era modern dan internet, sudah ada media streaming seperti youtube yang menyajikan gambar sangat jelas selama proses gerhana dan tidak hanya itu, kita bisa menonton nya di akhir waktu ketika alam sadar bersentuhan dengan jiwa.
Subuh, sembari menonton cuplikan gerhana bulan yang sempat sangat booming akhir nya kami bersyukur atas umur kami yang masih diberikan perpanjangan. Stasiun malang baru, tertipu atau tidak begitu yakin stasiun apakah pemberhentian terakhir dari kereta malabar ini. Setelah berkutik dengan teknologi yang bernama internet kami yakin bahwa, bukan. Masih sekitar 15 menit lagi untuk mengakhir perjelanan 15 jam kereta untuk membelah pulau jawa.
Malang, ritual pertama adalah selfie for the better future, dan menyelsaikan urusan dunia. Mulai rundown dari itenerary untuk memenuhi kebutuhan pagi hari masih sebagai mahluk yang biasa disebut manusia. Oh iya, untuk ada satu misi pagi hari ini dimalang, yaitu mencari bubur asli malang terenak, kalau kalian pikir ini adalah guyonan? tunggu saja hingga hipotesis ini dibuktikan secara empirik.
Foodcourt depan stasiun malang cukup sejuk karena terletak dekat dengan taman yang cukup luas dengan pepohonan tua menjulang tinggi dan daun rimbun memanjakan paru — paru dengan oksigen fresh from the leaves. Sepanjang foodcourt kami berjalan, tepat nya mengikuti mas kur karena belum memiliki keputusan akan menyantap apa. Sampai di ujung foodcourt bukan berjajar pulau — pulau namun sejati nya berjajar pedagang rawon, tinggal dipilih saja, toh semua nya juga rawon.
