A Kiss From Venus

Hari ini bukan hari baikku. Sehari ini aku berkali-kali menghela nafas panjang. Banyak hal yang membuatku tak bergairah. Pagi, siang, petang hingga malam.

Malam itu aku hanya duduk malas di ruang depan. Enggan berbicara, tak berminat kaki melangkah entah kemana.

Bunyi ketuk pintu terdengar. Berhubung posisiku paling dekat menuju pintu, akhirnya aku melangkah membukakan pintu.

Pintu kubuka. Dan terlihat…

…dia.

Entah ada angin apa, aku tak bisa mengerti mengapa tiba-tiba dia datang, mampir sejenak ke tempatku.

Kami duduk bersebelahan. Lalu kami bercerita. Raut mukaku masih sendu, mataku terpejam, nada bicaraku rendah dan tak bergairah. Dia tahu aku tak bahagia.

Tak diduga, dia mendekatkan kepalaku ke arahnya, dan…

…sedikit kehangatan mampir ke bibirku.

Sepersekian detik sebelum dia melepas kepalaku, mataku terbuka.

Ya. Hal yang terlalu mudah untuk disangkakan.

Mataku menatap nanar, memaknai apa yang terjadi sesaat lalu. Sementara dia membantuku memahaminya lewat senyum tipis dan anggukan singkat.

Dan pemahamanku terhenti di situ. Seiring rongga dada yang kemudian terasa hampa beban. Senyum tipis dipahatkannya di bibirku.

Sejenak arah anginku berubah, seakan tak ada arah yang dituju selain dia.

Bukan. Setiap arah yang kutuju, selalu ada dia di sebelahku.

Dia mengikutiku ke lantai atas. Ada kerusakan kecil di sana. Aku mencoba memperbaikinya.

Gagal.

Aku malu. Dia kecewa. Aku menunduk pasrah. Dia mencoba mengerti.

Menutupi kekecewaannya, aku mengajaknya membeli sesuatu. Dia mengangguk.

Kami tersenyum, lalu berjalan.

Entah kemana.