Sup Bulan, Hujan Kampung dan Etalase
Bulan bersih cerlang, selirik lagu diselimuti cahaya kunang-kunang
Sama eloknya, seiring pendarnya, sejuta warna
Dan dalam pikiran, kau tak usai-usainya menjadi sandaran
Aku jadi ingat sesuatu. Bulan itu, yang tengah tepat di jengkal ubun-ubun kita, belum seutuhnya menjadi purnama. Bentuknya tak ayal serupa mangkuk yang biasa dijadikan wadah kuah sup oleh ibu ketika musim-musim hujan bertandang ke kampung kita. Hujan yang kerap kali turun mendadak. Dulu, semasa kita kecil. “Untuk sekadar menjadi pengantar tidur siang selepas kita, anak-anaknya sudah merasa kenyang,” ujarnya kepada salah seorang tetangga yang merebus batu untuk mendiamkan rengek anak-anaknya. Ia seorang tetangga yang datang dari hikayat zaman dahulu silam. Ia terlihat akrab berdialog bersama ibu, saling bertukar sengguk luka. Kami kerap mendengarkan percakapan mereka diam-diam. Mengeluhkan, betapa hutan sudah bukan menjadi tempat berladang serta memeranakkan air mata.
Kita, melampirkan cerita di masa lalu dalam surat-surat kecil.
Sup yang haru. Di dalamnya hampir semua bahan terbuat dari peluh-tangis ibu. Ya, hampir semua. Rasa khas dan unik. Kini, kita sekarang sudah besar dan berusaha mengais kembali sisa-sisa kenangan dari ‘sup bulan’ buatan ibu itu. Entah apakah masih sama sedap rasanya. Kita saling bertanya. Aku tak tahu, yang jelas, aku suka sekali melihat manakala ibu sedang memasaknya. Aromanya ke mana-mana. Sedangkan di pelataran gubuk tempat kami tinggal, aku bersama seekor kucing yang ditinggal mati ketiga anaknya akibat dimangsa anjing kuduk, serta-merta lebih memilih untuk ‘membaca’ hujan dengan cara anak-anak menebak angka yang baru dihafalnya. Mengingat-ingat, begitu kesulitan dalam memaknai setiap rintik yang jatuh dan mendarat dengan cepat ke bebatuan sebesar kepalan tangan (atau yang dapat kita pahami hanya sekadar bebatuan kerikil berurat akar tanah?)
Konon, untuk sekadar membuat sup itu bukan perkara yang mudah. Kita tahu itu. Tak sama seperti menjerang air yang tanpa bumbu apapun. Tidak sembarang diracik. Bahan-bahannya berasal dari ranting senja, daun cahaya, kemiri basah, sejumput warna, sidaguri layu dan akar bunga dalam perjalan serat centini. Semua dipadu-padankan mejadi satu di dalam sebuah panci kecil yang –mungkin- sama seumur kita kala itu yang sedang ramai-ramainya mencari bambu hutan tuk dijadikan lelayang.
Dan malam ini, bulan itu masih terlihat bersih cerlang. Seperti semangkuk sup. Tak ubahnya malam kemarin. Persis. Tiada dihalangi segerombolan awan tenggara. Tiada pula disertai mata bayi bintang tsurayya. Dan kita, mewarta sekian puisi untuk diperanakkan dalam kandungan pekat hutan-hutan malam.
Kita, melampirkan cerita di masa lalu dalam surat-surat kecil.
Namun bulan itu tak menjadikan dirinya sendiri diterkam sunyi. Ia selalu mempunyai cara. Cukup cerdik ia rupanya. Tubuhnya seketika menjelma berupa taman tempat anak-anak kurcaci negeri dongeng dengan bebas leluasa bermain kembang api. Perciknya ke sana-kemari. Di telapak tangannya terdapat rahang bunga yang tengah mekar-mekarnya tumbuh. Meneduhi dari terik hawa. Ada salah satu kelopak yang tak biasa jatuh. Kemudian kita hanya memandanginya. Kita pun lantas mulai memperbincangkannya, bahkan untuk hal-hal yang paling tidak penting soal kelopak dan soal bulan itu, kita saling berseteru, saling bersikeras, meyakini bahwa bulan tersebut sudah tak lagi bernyawa. Ia hanya seonggok bola bernyala yang dilempar oleh malaikat untuk sekadar di pertontonkan pada etalase langit.
Kita tak perlu paham. Semua hanya dongeng pengantar malam.
Kita tak perlu mengingat. Sebab ibu, sudah rebah menyatu pada pekat.
Darus-Sunnah, 2015