Ekspektasi

Ketika ekspektasi berlawanan arah dengan besarnya harapan aku terus menerus melawan keterbatasan yang ada pada diri, tak peduli akan lingkungan tak peduli akan kesehatan yang aku mau hanya melawan. Ya! melawan keterbatasan pada diriku sendiri karena memang sangat sakit menyadari akan kebodohan sakit sekali apalagi harus menelan kegagalan atas harapan dari seseorang yang saat ini ku emban.

Semakin jauh, semakin tinggi harapan ku justru semakin lemah aku menghadapinya bukan malah semakin kuat aku berjalan menempuh dan mencapai tujuan yang aku gantungkan. Seakan semua waktu yang aku habiskan sia-sia tak ada arti tak ada hasil yang memuaskan.

Disitu aku menyerah dengan harapanku sendiri.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.