Dicari: Kejujuran
Asanilta Fahda
548

Halo! Bagus dan detail sekali ini ‘rant’nya, hehe. Saya suka cara penyampaianya yang halus 😊

Tapi bagaimanapun saya secara pribadi nggak mau mencaci pengguna bocoran jawaban. Nggak semua anak diciptakan untuk bisa mengerjakan soal-soal hingga mencapai nilai yang diekspektasi menjadi syarat kelulusan.

Menurut saya setiap anak memiliki spesialitas masing-masing, dan spesialitas itu hanya bisa dipendam selama bertahun-tahun (SD - SMA), tidak ada kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan minat di sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Justru mereka dipaksa untuk paham sesuatu yang tidak dibutuhkan di minat mereka. Mereka semua dipukul rata, semua sama, mereka semua harus paham fisika, matematika, kimia. Dan jelas saja bagi anak yang sudah memiliki minat lain tapi dia terjebak dalam pendidikan Indonesia, mereka menganggap sekolah hanya sebagai pelarian belaka. Mereka hanya ingin cepat lulus sehingga bisa mengejar impian mereka dengan ilmu kimia yang tidak Ia butuhkan. Saya tidak pernah bilang bahwa mencontek itu benar, saya cuma tidak ingin mencaci orang yang mencontek. Memang benar mencontek itu bibit korupsi dan lain-lain, tapi seperti yang disebutkan ditulisan ini, mereka belum tentu orang-orang yang tidak bermoral. Mencontek itu adalah pilihan bagi diri sendiri, ibarat merokok, mereka tau apa konsekuensinya, dan mereka tetap memilihnya karena itu memang adalah pilihan. Setidaknya mencontek tidak merugikan orang lain, kan?

Dan ya tentu saja mencaci orang yang jujur adalah tindakkan tidak senonoh, ibarat kita mencuri tapi nyalahin yang melapor. Kalau ingin mencontek ya silahkan mencontek sendiri, tapi tanggung sendiri resikonya dan jangan sampai merugikan orang lain.

Akhir kata, saya bicara berdasarkan pengalaman saya sendiri, saya tidak bangga telah mencontek, saya tidak pernah membenarkan mencontek, dan saya harap mencontek adalah kecurangan terakhir yang saya lakukan di hidup saya.

Saya harap respon ini bisa mewakili beberapa teman. Dan puji syukur, sampai sekarang saya lancar kuliah berdasarkan minat dan bakat saya tanpa harus mencontek lagi dan berjuang untuk masa depan saya.

Terimakasih ☺

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Imam Dewanto’s story.