Dingin Dan Perjuangan

Sebagai pengantar, saya hanya menjadi pempublis tulisan sang kekasih yang pada saat itu ia sedang merasakan betapa indahnya perjuangan, kali pertama merabahkan sekujur tubuhnya di tanah perantauan (Kec. Kwanyar Bangkalan). Semoga terinspirasi dengan adanya tulisan ini.

Penulis mengajak pembaca untuk menghargai bagaimana arti sebuah perjuangan.

Selamat membaca!!!


Dingin dan perjuangan, Jemari semakin berkerut, kulit berwarna pucat pasi, langit semakin redup berwarna jingga, Angin enggan berhenti berdesir, sayup, dan Tak kunjung cerah, Nikmat juga ceria, Dingin yang tak sanggup kurasa.
Ahh, beginilah malam ini, suasan baru juga ditempat yang baru, kurang indah rasanya jika belum lengkap dengan rasa lapar yang memburu waktu, resah menunggu hidangan, raut wajah yang terburu-buru untuk menikmati rasa kenyang, segerombolan pejuang masa kini, ya, bersama mereka aku duduk, lapar namun tidak dahaga dihantam angin malam.


Tidak Dalam keterpaksaan, Menjalankan tugas, seperti memacu kuda diladang perlombaan, ingin cepat tunaikan kewajiban dan berikan secercah kebahagiaan diwajah ibunda juga ayah terkasih, tak cukup karna itu, tak jauh dan sudah pasti berkat doa bunda yang terijabah disepertiga malamnya, aku terharu ingin mendekap dada ditimpa sesak, rasa ikhlas menyelimuti setelah berlalunya rasa resah dan gundah, takut dan bising. kita, kami pejuang masa kini, bersama dengan harapan yang tak jauh berbeda, menampilkan kalimat yang kami sebut perjuangan, jangan lengah para pejuang, kita sedang berada di ajang perlombaan, perlombaan yang padu, bukan untuk paling unggul tapi untuk mencapai Finish bersama-sama.


Tersenyum manis, paduka raja yang telah berbaik hati memberikan keelokan dan rasa rindu untuk kesekian kalinya, begitu baik hatinya Pemilik rumah yang sedang kami tempati, memberikan cerita baru yang singkat untuk kami ceritakan pada masa yang akan datang.


Pada banyak orang akan aku ucapkan terimakasih terhangat, kekuasaan Allah azza wajallah, solawat rindu rosul allah, bunda malaikatku, juga keluarga tersayangku, kampus terbaikku, penerimaan dan pemberi tempat ternyaman, didesa baru yang damai permai (kwanyar), membangkitkan rasa rindu pada desa kelahiran.


Nikmat yang aku rasakan pada perjuangan dan keinginan yang belum aku tunaikan, dingin yang memberikan sensasi perjuangan.

*)Penulis, perempuan yang sedang dalam pelukan (Luluk Febriani)

Bangkalan, 11 Agustus 2018