Biarlah Itu Menjadi Masa Lalu


Dulu kita seumuran. Sama-sama seorang bocah ingusan yang doyan jajan.

Kalau kamu beli manisan aku ikut beli manisan. Kalau kamu beli sepotong makanan aku ikut beli makanan. Kalau kamu beli mainan, aku tidak ikutan. Uangku tidak cukup untuk beli mainan sepertimu. Ayahku tidak tajir seperti ayahmu. Bahkan uang jajanmu sehari cukup untuk membayar SPP sekolahku.

Kamu tumbuh besar dalam kehidupan yang bergelimang kemewahan. Sedangkan aku hidup dalam kesederhanaan yang pas-pasan.


Dulu kita seumuran. Sama-sama senang bermain di bawah terik matahari siang.

Sepulang sekolah kita selalu pergi ke tanah lapang. Beragam permainan selalu kita mainkan sampai senja menjelang. Bukan sesekali pembantumu datang untuk membujukmu makan. Kamu menolak dan marah, tak mau pulang, tak mau makan. Kadang sampai bergantian ibumu yang datang. Tapi kamu tetap kekeh, tak mempan dengan bujuk dan rayuan.

Sementara aku sesekali disusuli ayahku. Ia menyuruhku untuk mengerjakan kewajiban lima waktu. Aku selalu turut dengan perintahnya. Ayahku begitu galak namun sangat bijaksana.


Dulu kita seumuran. Sama-sama bersekolah negeri tingkat menengah atas di satu sekolahan.

Setiap hari kamu diantar pergi-pulang oleh supirmu yang gagah dan tampan. Ia mengendarai mobil mewah berwarna hitam berkilauan. Konon mobil itu seharga gaji ayahku dikali delapan ratus bulan. Atau gaji ayah dan ibuku selama tiga puluh tiga tahun empat bulan. Jadi kami harus menabung selama itu jika ingin membeli mobil jemputanmu, bayangkan! Itupun jika tidak dipotong biaya makan dan berbagai kebutuhan.


Dulu kita seumuran. Sama-sama mulai menginjak masa dewasa yang penuh dengan kejutan.

Kamu berhasil kuliah di universitas idaman. Aku mulai bekerja sebagai pelayan restauran. Keluargaku tak mampu membiayaiku bersekolah di tingkat lanjutan.

Kamu tidak lagi diantar oleh si supir pribadi. Kamu pulang-pergi ke kampus dengan mengendarai mobil sendiri. Supirmu tak lagi memiliki tugas yang harus dikerjakan. Ia pun dirumahkan dengan pesangon yang cukup sepadan.

Kamu yang sudah besar, tentu pembantumu tak perlu lagi menyusulimu ke kampus untuk sekedar menyuruh makan. Akhirnya ia pun juga ikut dirumahkan karena tak ada lagi yang harus ia kerjakan. Dua hal itulah yang menjadi alasan kenapa aku tidak bisa melanjutkan pendidikan.


Dan kini kita masih seumuruan. Aku mulai sukses menggeluti usahaku yang semakin menguntungkan. Sementara kamu hanya seorang pengangguran, cenderung seperti gelandangan.

Aku telah menikah, kamu masih bujangan. Aku telah memiliki seorang anak perempuan, kamu hidup dalam kesendirian. Orang tuamu telah lama meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sejak saat itu hidupmu mulai berantakan. Kamu mulai terjerumus dalam dunia kelam dan menjadi pecandu obat-obatan. Badanmu semakin kurus, wajahmu menjadi tidak karuan. Kehidupanmu jauh dari harapan. Peninggalan orang tuamu telah habis terkuras. Semua kekayaanmu di masa lalu nyaris tak berbekas.

Roda kehidupan memiliki kemungkinan besar untuk berputar seperti demikian.