Mendamba

Imran Ahmad
Aug 9, 2017 · 1 min read

Pernah kedekatan kita tertenun bahagia, tanpa sedikitpun luka. Pernah dada kita saling menambat, tanpa sedikitpun retak

Ketika kebersamaan masih merekahkan senyum

Ketika rindu-rindu masih mengharap terjahit dengan pertemuan

Jarum jam terus berdetak, berhenti sejenak pada angka-angka,

semakin membuat harapan menerka-nerka

Mencari ujung penantian yang tak pernah kau mengerti

Mencari kepastian yang tak pernah kau beri

Hingga akhirnya kau menghadiahiku suara langkah yang menjauh,

menghadirkan rekahan luka yang riuh

Sejak saat itu aku menjadi pemimpi yang jarang tertidur

Menjadi daun kering yang tak pernah jatuh dari ranting

Salah satu kebodohanku adalah menganggapmu satu-satunya Membiarkanmu masuk menabur harapan, lalu mencipta rekah luka

Salah satu kebodohanku adalah tabah mendamba; meski terluka Membiarkanmu menebar janji-janji, lalu mencipta resah akan keingkaran

Satu-satunya kebodohan yang yang paling kusengaja, adalah tetap manjadikanmu isi doaku, sementara aku teramat tahu, dalam doamu, kau inginkan aku menjauh

— Imran Ahmad, 2017

    Imran Ahmad

    Written by

    Aku ini lelaki ambigu

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade