
Mendamba
Pernah kedekatan kita tertenun bahagia, tanpa sedikitpun luka. Pernah dada kita saling menambat, tanpa sedikitpun retak
Ketika kebersamaan masih merekahkan senyum
Ketika rindu-rindu masih mengharap terjahit dengan pertemuan
Jarum jam terus berdetak, berhenti sejenak pada angka-angka,
semakin membuat harapan menerka-nerka
Mencari ujung penantian yang tak pernah kau mengerti
Mencari kepastian yang tak pernah kau beri
Hingga akhirnya kau menghadiahiku suara langkah yang menjauh,
menghadirkan rekahan luka yang riuh
Sejak saat itu aku menjadi pemimpi yang jarang tertidur
Menjadi daun kering yang tak pernah jatuh dari ranting
Salah satu kebodohanku adalah menganggapmu satu-satunya Membiarkanmu masuk menabur harapan, lalu mencipta rekah luka
Salah satu kebodohanku adalah tabah mendamba; meski terluka Membiarkanmu menebar janji-janji, lalu mencipta resah akan keingkaran
Satu-satunya kebodohan yang yang paling kusengaja, adalah tetap manjadikanmu isi doaku, sementara aku teramat tahu, dalam doamu, kau inginkan aku menjauh
— Imran Ahmad, 2017