SEHARUSNYA
Apa kabarmu tambatan hati? Berhasilkah kau lupa tentang segala kisah yang pernah kita ukir?
Diantara sepi dan dinginnya pagi, kenangan itu mencuat, menabur perih dalam dada yang belum mampu percaya pada kenyataan. Menangisi kepergian yang belum mampu dilupakan. Merindukan kebersamaan yang tak pernah lagi kau inginkan.
Aku pernah tertambat olehmu, meski kita tak pernah saling tertambat. Aku pernah merasa memilikimu, meski tak pernah benar-benar memiliki. Aku pernah merasa kau sepenuhnya memberi hati. Namun nyatanya, tak sedikitpun ruang kau sediakan untukku. Aku pernah merasa, kau adalah perempuan satu-satunya yang mengerti hati. Namun, justru kau yang mengiris hati hingga meringis kesakitan. Aku pernah menabur doa untukmu, sementara kau menebar luka-luka hingga mekar dalam dada.
Saat ini, aku masih belum percaya pada kenyataan. Bagaimana mungkin, kau yang pernah mengisi tiap hari-hariku, tiba-tiba pergi dengan seseorang yang bukan aku? Lalu segala kedekatan kita, buat apa ada? Bila harus kembali asing?. Menyakitkan.
Buat apa segala perhatian yang kau beri, bila hanya berakhir dengan kesakitan tak bertepi? Buat apa ribuan kata ‘sayang’ kau tebar di telingaku, bila tak pernah benar-benar sayang? Buat apa? Buat apa? Apakah hanya untuk membuatku perlahan mati di bunuh penyesalan?
Seharusnya, kau tidak memberi harapan, bila di akhir kisah, kau justru mencipta sayatan. Seharusnya kau tidak memberi perhatian, bila pada akhirnya kau tak memberi kepastian. Sebab, ratusan harapan, ratusan perhatian, akan tetap lenyap bila tak berujung dipastikan.