curhatan.semester.satu@andrew.cmu.edu

Kembali lagi ke masa kurang lebih dua tahun yang lalu dimana waktu itu akhirnya gw mutusin untuk melanjutkan pendidikan S2 ke US. “Pokoknya harus US! Kalau gak US, gak usah kuliah..”.

Semester satu ini luar biasa. Tapi cukup. Gak usah diulang.

Gw bersyukur selalu punya mimpi dan tekat yang kuat untuk terus mengejar cita-cita. Persiapan untuk TOEFL, IBT dkk mungkin bukan hal yang juga mudah, apalagi bagi gw yang kalau ngomong bahasa inggris, lebih lama mikirnya daripada ngomongnya (lol). Ditambah lagi rutinitas pekerjaan dan hiruk pikuknya Jakarta. Everything was so hard. Tambah lagi saat gw ditolak tiga universitas dalam rentang waktu satu minggu. Rasanya… arrghhh… Tapi Alhamdulillah pada akhirnya ada kampus yang bersedia nampung gw :””) Terima kasih, Andrew Carnegie!

Carnegie Mellon University West — Silicon Valley

Setelah melalui satu semester di CMU, gw sadar kalau ternyata perjuangan buat diterima universitas gak ada apa-apanya ketimbang perjuangan buat nuntasin kuliah. Kuliah satu semester di CMU mengubah hidup gw. Bukan cuma sekedar tentang berat badan yang turun sampe +10 kg. Tapi tentang pengetahuan, pengalaman dan integritas.

Kuliah di US membuka mata gw kalau gw masih perlu banyak belajar. Helloww… lo bisa cerita punya pengalaman bikin beberapa applikasi mobile app keren tapi bingung ketika disuruh ngejelasin gimana Quicksort dan Mergesort di interview M*crosoft? *curcol; Lo bisa cerita punya pengalaman pakai Kafka, Spark, dan Hadoop tapi grogi ketika ngejelasin gimana Kafka ngehandle replication? Oh well.. Komunikasi. Ini masalah utamanya. Ngomongin istilah akademik/teknis pake bahasa inggris itu susahnya minta ampun buat gw di awal-awal semester. Pertanyaan paling bodoh gw di semester ini “Can you explain to me what does Finite State Automata term means?“ — “Do you know Finite State Machine (FSM)? It is the same”. Oh well.. Seumur-umur jadi anak elektro baru kali ini gw denger istilah Automata itu punya arti yg sama kayak FSM. Gw pikir itu Automata Cellular. edan. haha

Next. Salah satu target terbesar gw semester ini terpenuhi. Akhirnya gw bisa nyelesain kuliah Cloud Computing CMU yang sakral dan sakti mandraguna.

“Didn’t know you can love something so much after it gives you so much trouble.” — Vienda

I can say that I’m really passionate working in this field. Gak peduli gimana berat kuliahnya, gimana gak nyantai tugasnya, dan gimana kuliah ini memporak-porandakan IP gw, gw tetap cinta. Habis ngabil kuliah Cloud Computing terus mau jadi apa? Ya jadi asisten doong. haha Banyak yang bilang kalau pilihan untuk jadi TA Cloud Computing itu adalah hal yang gila. Iya bener. Tapi filosofi hidup gw sederhana, nothing worth having comes easy. Bisa jadi tim TA buat gw adalah kesempatan besar untuk belajar gimana mata kuliah ini memfungsikan infrastruktur microservice untuk auto-gradernya, gimana mereka ngumpulin dan menganalisis log untuk cheat checking dll, dan gimana mereka menghamburkan duit USD 35k buat bayar AWS keperluan satu kuliah. Masih kurang?

Overall, semester ini luar biasa. Bisa dapet beberapa penghargaan best team project di beberapa kuliah itu rasanya luar biasa. Gak percuma capek, gak percuma kurang tidur dan gak percuma kehilangan berat badan 10 kg.

Semester depan akan jauh lebih menarik. Mudah-mudahan dapet kesempatan untuk ikutan Spark Summit di Boston, Int’l Conf on Software Engineering 2017 di Argentina dan intern di perusahaan warna warni di Mountain View. Lancarkan urusan hambamu ini ya Allaah… Aamiiin ya Allaaaah :””””)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Imre Nagi’s story.