5 Buku Non-fiksi yang Bisa Membantumu Jatuh Cinta Pada Membaca

Pada sebuah kesempatan, mbak “Nana” Najwa Shihab pernah berkata: “Cuma perlu satu buku untuk membuatmu jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta.”

Ternyata memang benar. Hanya butuh satu saja. Namun, menemukan buku yang bisa membuat kita jatuh cinta itu adalah perkara gampang-gampang susah. Tak jarang kita harus rela mondar mandir ke perpustakaan, menyisihkan waktu dan uang untuk mengunjungi toko buku maupun sekedar mendengarkan ulasan dari teman.

Nah, andaikan kamu kesulitan menemukan satu buku itu dan malas untuk melakukan hal-hal di atas, mungkin daftar di bawah ini bisa membantu. Di sini, saya hanya memuat kumpulan buku non-fiksi saja untuk menepis anggapan bahwa buku yang enak dibaca hanyalah buku sastra, sedangkan buku non-fiksi atau ilmiah itu tidak menyenangkan bahkan cenderung kaku.

1. Penghancuran Buku dari Masa ke Masa — Fernando Báez

Buku terbitan Marjin Kiri ini merupakan versi terjemah dari buku berbahasa Spanyol yang terbit pada 2004 lalu dengan judul: Historia universal de la destrucción de libros. De las tablillas sumerias a la guerra de irak.

Buku ini ditulis sebagai jawaban atas pertanyaan salah satu mahasiswa Baez. Saat itu, dia sedang berada di Irak dan perang berkecamuk. Beberapa museum dijarah dan perpustakaan-perpustakaan dibakar oleh massa yang mengamuk.

Secara tak disengaja, seorang mahasiswa menghampiri dan bertanya kepadanya: “Mengapa orang-orang membakar buku?” Baez pun hanya bisa terdiam dan terus dihantui oleh pertanyaan itu selama beberapa bulan sampai ia tergerak untuk menuliskan jawabannya.

Membaca Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karya Báez, anda akan merasakan getir dan pilu saat melihat warisan terpenting dari suatu peradaban dimusnahkan. Juga, anda akan menemukan kenyataan bahwa pemusnahan itu tidak hanya dilakukan oleh aparat, ormas-ormas fasis atau orang-orang yang selama ini dianggap awam.

Sebaliknya, golongan elit dan terdidik justru memiliki andil besar dalam penghancuran buku. Sebut saja tokoh-tokoh seperti Rene Descartes, Vladimir Nabokov, Jorge Luis Borges dan filsuf Jerman Martin Heidegger.

2. Why Nations Fail — Daren Acemoglu & James A. Robinson

Musim panas pada tahun 1945 adalah ujung senja Perang Dunia II. Kekuasaan Jepang dan Korea pun berada di ambang kehancuran. Beberapa bulan setelah menyerahnya kekaisaran Jepang, wilayah Korea dibagi menjadi dua tepat pada garis paralel 38 derajat Lintang utara.

Sudah dapat ditebak. Korea bagian utara berada di bawah kontrol Rusia dan Korea bagian selatan di bawah kendali Amerika Serikat.

Dalam jangka waktu lima puluh tahun, perbedaan cukup besar terlihat pada kedua negara itu. Korea Selatan mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi, pembangunan dan teknologi sedangkan saudaranya tertinggal beberapa puluh bahkan ratusan langkah.

Pertanyaan yang muncul adalah: “Faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara kedua negara itu?” “Mengapa ada negara makmur dan negara miskin?” Sejumlah teori diajukan oleh para peneliti untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Apakah karena faktor geografis? kebudayaan? Ketidaktahuan para pemimpin negara terhadap kebijakan yang mampu menguntungkan rakyatnya?

Ternyata tidak! Bagi Daron Acemoglu dan James A. Robinson, teori-teori di atas cukup lemah dan mudah untuk dipatahkan. Jika teori-teori itu tidak bisa menjawab, lantas apa? Silahkan baca sendiri di dalam bukunya. Jadi, saya tak harus menuliskan jawabannya di sini. Hehe.

3. The Subtle Art of Not Giving a F*ck — Mark Manson

Bagaimanapun, manusia adalah makhluk yang serba terbatas. Keterbatasan itu bisa dilihat misalnya dari cara mereka membagi perhatiannya kepada sesuatu yang ada di sekitarnya. Namun, manusia sering lupa diri dan seolah-olah bisa mencurahkan perhatiannya terhadap segala hal.

Bersyukurlah. Akhirnya buku ini terbit juga sehingga menyadarkan kita dari kebodohan di atas. Sebab, dalam hidup yang relatif singkat ini, ada persoalan-persoalan yang “need to give a f*ck” di situ dan ada pula yang tidak.

Dan, di antara banyaknya kebodohan umat manusia yang harus diacuhkan adalah menjadikan kesuksesan orang lain sebagai tolok ukur untuk diri sendiri. Pada buku ini, Mark mencontohkannya melalui pengalaman hidup seorang gitaris band (jujur, bagian ini adalah yang paling saya suka dari keseluruhan isi buku).

Alkisah, sebuah band berhasil menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan rekaman. Namun, beberapa hari sebelum proses rekaman dimulai, gitaris band tersebut tiba-tiba didepak begitu saja tanpa alasan apapun. Ia dipaksa keluar secara sepihak.

Walhasil, gitaris yang sebenarnya berbakat itu tidak terima dan mengubah dendamnya sebagai motivator untuk menjadi lebih baik. “Aku harus bisa lebih sukses daripada bandku yang dulu!” katanya.

Gitaris itu pun kemudian mengumpulkan pemusik-pemusik terbaik di seantero negeri dan membentuk band baru. Singkat cerita, terbukti bahwa bandnya yang baru ini menjadi salah satu band heavy-metal legendaris. Band tersebut bernama Megadeth, sedangkan gitaris itu adalah Dave Mustaine.

Megadeth berhasil menjual lebih dari 25 juta album dan sering menggelar tur keliling dunia. Sayangnya, band yang dulu mendepaknya adalah Metallica yang telah berhasil menjual lebih dari 180 juta album. Megadeth boleh saja menjadi band legendaris, akan tetapi Metallica tetaplah salah satu band terbesar sepanjang masa.

Andaikan Dave Mustaine punya tolok ukur sendiri dalam hidupnya dan merasa cukup dengan segala pencapaiannya, tentu dia tak perlu menangis dalam sebuah wawancara di tahun 2003. Saat si pewawancara bertanya apakah dia termasuk orang yang sukses, sambil tersedu-sedu Dave menjawab: “Tidak.”

“Hidup memang tidak selalu sesuai rencana, nikmati saja.” Kira-kira begitulah wujud tamparan buku ini saat mendarat tepat di muka kita. Tenang saja, bila kamu belum puas ditampar, masih ada banyak kisah serupa di dalam buku ini.

4. Sapiens: A Brief History of Humankind — Yuval Noah Harari

Jika buku sebelumnya dikategorikan dalam self-improvement, maka Sapiens masuk dalam kategori sejarah. Meskipun berdasarkan judulnya buku ini mengaku sebagai riwayat umat manusia yang “singkat”, akan tetapi buku ini tetap saja tebal.

Buku ini pada dasarnya menceritakan sejarah perkembangan homo sapiens dari sekedar mamalia yang biasa-biasa saja sampai menjadi salah satu atau mungkin satu-satunya makhluk yang sangat berkuasa di Bumi.

Hal itu terjadi karena sapiens telah mengalami revolusi kognitif (perkembangan akal budi yang tak pernah dialami oleh mamalia lain termasuk juga kerabat-kerabat terdekat sapiens semisal homo erectus atau homo neanderthal) sehingga mewujudkan dua revolusi lain yang merubah tatanan dunia.

Dalam bukunya, Yuval mengatakan:

“Revolusi kognitif mengawali sejarah sekitar 70.000 tahun yang lalu. Revolusi pertanian diperkirakan mempercepat sejarah sekitar 12.000 tahun silam dan revolusi sains, yang baru dimulai 500 tahun silam, bisa jadi akan mengakhiri sejarah dan mengawali sesuatu yang sepenuhnya berbeda.”

Berbicara tentang sejarah manusia, ada sebuah pertanyaan yang dari dulu diajukan kepada para sejarawan termasuk kepada Yuval. Pertanyaan itu adalah: “Mengapa hanya sapiens yang mengalami revolusi kognitif sedangkan makhluk yang lain tidak?”

Tentu saja pertanyaan itu sudah dijawab oleh Yuval dalam bukunya meskipun mengecewakan.

5. Justice: What’s The Right Thing to Do? — Michael J. Sandel

Sebagai pamungkas, saya mengusulkan karya Michael J. Sandel sebagai salah satu buku yang sangat menarik sekaligus layak untuk dibaca. Namun, untuk bisa memahami ide-ide dalam buku ini, ada baiknya kita melihat contoh persoalan yang diajukan Sandel terlebih dahulu.

Berikut kisahnya:

Pada bulan Juni 2005, sekelompok pasukan khusus Amerika diberangkatkan menuju Afghanistan dalam sebuah misi pengintaian. Tujuan dari misi itu tak lain untuk menemukan seorang pimpinan Taliban yang memiliki hubungan dengan Usamah bin Laden.

Setelah regu tiba dan mulai mengintai, dua peternak lokal bersama seorang anak kecil berusia 14 tahun tak sengaja melewati lokasi tersebut. Mereka adalah penduduk sipil yang tidak bersenjata.

Benar-benar di luar dugaan. Melepaskan mereka berarti membahayakan misi. Sedangkan di sisi lain, pasukan itu menyadari bahwa tidak ada satupun tali yang bisa digunakan untuk mengikat mereka bertiga. Pilihannya hanya dua: membunuh atau melepaskannya.

Sebagian besar anggota pasukan memilih membunuh tahanan tersebut. Akan tetapi, dengan suatu alasan, pemimpin pasukan menolaknya. Pada akhirnya ketiga tahanan itu pun dilepas.

Beberapa jam kemudian pemimpin pasukan itu akan segera menyadari bahwa keputusannya adalah kesalahan terbesar yang pernah dibuat dalam hidupnya. Sebab tak lama berselang, mereka telah dikepung oleh sekitar 80 pasukan Taliban bersenjatakan senapan AK-47.

Semua anggota regu mati. Pasukan bantuan yang datang menggunakan helikopter pun bernasib sama. Pemimpin regu itu menjadi satu-satunya orang yang hidup setelah berhasil melompat ke jurang dan merangkak sejauh 7 mil menuju sebuah desa yang aman.

Jika kamu jadi dia, opsi manakah yang akan kamu pilih? Dan mengapa kamu melakukan itu?

Membicarakan keadilan memang bukanlah urusan gampang. Berhadapan dengan dilema seperti ini, kita akan diajak untuk menguji kembali pilihan-pilihan moral yang kita buat beserta akibat-akibat yang muncul darinya; mengapa kita memilih itu dan meninggalkan yang lain; kelebihan dan kekurangan apakah yang dimiliki oleh pilihan itu.

Tidak main-main, Sandel menggunakan argumen dari para pemikir besar semisal Aristoteles, Jeremy Bentham, John Stuart Mill, Immanuel Kant, dan John Rawls dalam bukunya ini.

Hal yang membuat saya kagum dari Sandel adalah bagaimana cara dia membangun logika berpikir serta kemampuannya untuk menjelaskan ide-ide rumit dengan analogi yang cukup sederhana namun aktual. Penuh wawasan dan mencerahkan!