Beberapa Kutipan (Lain) Pramoedya A. Toer Yang Pernah Saya Catat

Perkara selera memang tidak dapat lepas dari pilihan subyektif. Beberapa tahun lalu–jauh sebelum saya mengenal Pramoedya–seorang teman yang sudah terlebih dahulu membaca karyanya pernah berceloteh. Katanya, gaya bercerita Pram itu bagaikan wartawan sedang menyusun rangkaian laporan investigasi yang rigit dan kaku–yang dalam taksiran saya, (mungkin) maksud dari komentar itu adalah karya Pram ini jauh dari bahasa sastrawi yang dielu-elukan keindahannya dan miskin akan imajinasi.

Sebagai seorang tuna pustaka, saya hanya mengangguk-mengiyakan sampai beberapa tahun belakangan saya menemukan beberapa penjelasan tentang gaya penulisan Pram. Banyak pengulas mengatakan gaya penulisannya adalah Realisme Sosialis. Salah satu aliran dalam seni yang bertolak dari kondisi ril masyarakat kelas bawah sebagaimana digunakan juga oleh penulis macam Maxim Gorky.

Kemudian menjadi maklum jika memang tak ada kesan seperti yang diinginkan oleh teman saya. Lha buku-buku Pram itu menggambarkan kondisi nyata kelas sosial yang terpinggirkan kok. Orang-orang kecil yang bukan berasal dari kebudayaan yang (maaf) bahasanya sok intelek, abstrak, nggak rumit tapi sok-sok dibikin rumit biar membuai sampai lupa daratan.

Mana sempat kelompok akar rumput bergelut dengan hal-hal seperti itu sementara mereka harus mempertahankan hak-haknya. Pram tidak sedang menulis untuk kaum elitis. Ia ingin karyanya bisa dipahami oleh siapa saja tanpa ada kendala bahasa.

Tapi, sudahlah mungkin ihwal Realisme Sosialis bisa dibicarakan lain kesempatan. Mari kita bicarakan salah satu bagian menarik dalam karya sastra yang disebut dengan “quote” saja. Bagian kecil dalam belantara ratusan atau bahkan ribuan susunan kalimat yang saya kira lebih mudah untuk diingat dan banyak memiliki relevansi dengan kondisi saat ini.

Quote itu unik. Kadang berisi petuah atau anjuran agar berpegang pada prinsip-prinsip tertentu. Adakalanya ia berbicara tentang inspirasi dan motivasi. Terkadang ia juga meringkas semangat dari ide-ide yang hendak disampaikan oleh penutur kepada para pembacanya.

Berikut adalah hasil pungutan kutipan yang pernah saya catat dari beberapa karya Pram. Sayang tidak semua terekam karena keteledoran terutama sekali dalam Tetralogi Buru bagian ketiga dan keempat. Saya yakin, Pram dengan gaya bertuturnya tetap memiliki tempat tersendiri di hati para pembacanya. Kesederhanaan bahasanya justru memiliki nilai penting sebab dapat dipahami oleh lebih banyak orang.

Bumi Manusia

“Bunda tak hukum kau. Kau sudah temukan jalanmu sendiri. Bunda takkan halangi, juga takkan panggil kembali. Tempuhlah jalan yang kau anggap terbaik. Hanya jangan sakiti orangtuamu, dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu” (hal. 142)

“Jangan lari dari persoalanmu sendiri, karena itu adalah hakmu sebagai jantan. Rebut bunga kecantikan, karena mereka disediakan untuk dia yang jantan. Juga jangan jadi kriminil dalam percintaan — yang menaklukkan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini adalah juga kriminil, sedang perempuan yang tertaklukkan hanya pelacur”

Anak Semua Bangsa

“Han, memang bukan sesuatu yang baru jalan setapak setiap orang dalam mencari tempat di tengah-tengah dunia dan masyarakatnya, untuk menjadi diri sendiri, melelahkan dan membosankan untuk diikuti. Lebih membosankan adalah mengamati yang tidak membutuhkan sesuatu jalan, menjangkarkan akar tunggang pada bumi dan tumbuh pada pohon”

Arok Dedes

“Bahwa benar setiap orang adalah sama di hadapan Tuhan dan sesamanya. Adalah tidak benar orang menjadi berbeda-beda dan bertingkat-tingkat hanya karena kadar kekuasaan dunia dan rohani” (hal. xi)

“Apakah gunanya pendapat kalau hanya untuk diketahui sendiri? Barangsiapa takut pada pendapatnya sendiri, dia tak perlu belajar untuk tahu dan untuk punya pendapat” (hal. 63)

“Punah adalah tugas satria dengan peninggalan terbaik adalah sebaik-baik punah” (hal. 176)

“Selamanya terjadi, mereka yang tak kuat menanggung kecewa dihalau ke pangkuan neraka melalui tindak durjana” (hal. 202)

“Barangsiapa tidak tahu kekuatan dirinya, dia tidak tahu kelemahan dirinya. Barangsiapa tidak tahu kedua-duanya, dia pusing dalam ketidaktahuannya” (hal. 212)

Arus Balik

“Kebenaran tak dapat diadili, karena dialah pengadilan tertinggi. Barangsiapa mengadili kebenaran, dia akan dilupakan orang kecuali kedunguannya” (hal. 14)

“Ketakutan selalu jadi bagian mereka yang tak berani mendirikan keadilan. Sedangkan kejahatan selalu jadi bagian mereka yang mengingkari kebenaran; maka melanggar keadilan” (hal. 14)

“Pahami pergantian zaman biar kalian tidak didera oleh perang. Tinggalkan kebebalan. Dengarkan kebijaksanaan” (hal. 15)

“Penyebaran agama bukanlah perang, majunya tidak seperti tentara berbaris, dia tidak merambah jalan darat atau laut, tetapi hati manusia! Hati yang harus dirambahnya” (hal. 270)

“Bahwa perang adalah perang. Perang bukanlah keinginan untuk membunuh sesama. Dia adalah bentrokan dari dua keinginan. Jangan jadi pembunuh. Dan kalian prajurit-prajurit yang perwira dan satria hargailah juga keperwiraan dan kesatriaan. Sekalipun itu ada pada musuhmu” (hal. 351)

“Aku sudah jelajahi bandar-bandar di Jawa, dari Banten sampai Panarukan. Sama saja di mana-mana: Budaya ningrat sudah lapuk, hidup hanya di bawah bayang-bayang nenek moyang yang besar” (hal. 364)

“Orang-orang Ningrat itu lemah tak berkemauan. Ingin aman dan senang terus sampai mati, tanpa berbuat apa-apa dengan merugikan semua orang” (hal. 364)

“Kerumunilah orang-orang berilmu, ikuti dia, selamatkan dia dan jalani petunjuk dan ajarannya” (hal. 455)

“Waspadalah terhadap racun. Biar setitik raksasa pun bisa binasa. Jari tak dapat bergerak lagi, apa pula tangan. Dan setiap pikiran yang keliru adalah racun, bisa membunuh setiap raja. Barangsiapa tak waspada, dia bisa tewas sepuluh kali sebelum mati” (hal. 480)

“Betapa perbedaan bisa terjadi hanya karena kelainan tempat dilahirkan dan dikandungkan. Perbedaan yang menggelikan” (hal. 630)

“Kegagalan hanya buah usaha yang memang gagal. Barangsiapa tak pernah berusaha dia pun takkan pernah gagal” (hal. 661)

“Perang, kekuasaan, kekayaan, seperti api unggun dalam kegelapan dan orang beterbangan untuk mati tumpas di dalamnya” (hal. 739)

***