5 Alasan Mengapa Kegiatan Mengarsip itu Penting

Inan
Inan
Nov 7 · 4 min read
Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin. Sumber gambar: https://www.kamerabudaya.com/2017/02/pds-hb-jassin-pusat-dokumentasi-sastra-terlengkap.html

Belum lama ini saya menemukan buku rapor semasa taman kanak-kanak. Buku itu tidak sengaja saya temukan ketika saya mencari-cari berkas ijazah dan transkrip nilai S 1.

Selain tak kuasa menyembunyikan malu saat menahan berak di sekolah, sebenarnya saya tidak memiliki banyak ingatan tentang masa kecil. Namun, berkat buku rapor tersebut ada banyak hal yang bisa saya ingat kembali.

Seperti betapa menyebalkannya saya sampai-sampai ibu kewalahan menyuruh saya untuk berangkat ke sekolah. Atau saat saya sembunyi di bawah kolong meja agar tidak dibangunkan beliau untuk subuhan.

Jika bisa kembali lagi, ingin rasanya menasehati diri saya sendiri agar tidak melakukan tindakan-tindakan bodoh seperti itu. Tapi, tentu saja itu mustahil.

Meskipun demikian saya tetap merasa senang karena menemukannya. Saya bisa bernostalgia. Dan yang lebih penting lagi, saya jadi mengerti bahwasanya kegiatan pengarsipan itu ternyata tidak bisa diremehkan.

Mengapa demikian?

1. Arsip memudahkan kita mengakses data-data di masa lampau jika suatu saat kita membutuhkannya

Pada masa-masa awal lulus kuliah, saya pernah kehilangan laptop. Sedih rasanya melihat barang tersebut raib. Apalagi ketika saya mengetahui bahwa data-data di dalamnya tidak dicadangkan sama sekali.

Skripsi, artikel, jurnal, dan sebagian esai yang pernah saya tulis hilang begitu saja. Juga beberapa foto kenang-kenangan bersama saudara saat mendaki gunung dan ketika saya masih alay.

Padahal, sewaktu-waktu, bisa saja saya membutuhkannya untuk keperluan tertentu.

Andaikan saya rutin membuat cadangan dalam jaringan (secara online) atau menyimpannya dalam bentuk fisik, tentu saja hal-hal semacam ini tidak perlu terjadi.

2. Memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian

Pada skala yang lebih luas, kegiatan pengarsipan ternyata juga memiliki dampak besar terhadap laju perekonomian sebuah negara.

Muhidin M. Dahlan, seorang esais, novelis, dan juga pengarsip handal di Yogyakarta mengatakan bahwa kegiatan tersebut bukanlah semata soal usaha menyimpan, tapi juga penggunaannya untuk kepentingan ekonomi yang lebih luas.

Sebagai contoh, kita bisa meragukan kredibilitas sebuah perusahaan hanya gara-gara ketidakcakapan pegawainya mendokumentasikan segala aktivitas perusahaan dari waktu ke waktu.

Bayangkan saja. Tanpa data-data pemasukan dan pengeluaran yang jelas, sebuah perusahaan akan kebingungan memprediksi langkah strategis apa saja yang diperlukannya di masa depan. Bahkan, bisa jadi perusahaan itu bangkrut karena tidak bisa mengelola dirinya sendiri.

Begitu pula dengan negara yang mengalami kekacauan akibat ia tidak mampu merencanakan anggaran belanjanya dengan baik.

3. Sebagai identitas personal dan penanda jati diri bangsa

Jika bukan karena buku-buku yang ditulisnya, mungkin saja Datuk Ibrahim Tan Malaka — bapak bangsa yang pertama kali mengenalkan konsep Republik Indonesia sebelum Soekarno dan Hatta — tidak akan diketahui banyak orang sampai saat ini.

Tokoh perjuangan kelahiran Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat itu meninggal pada tahun 1949. Ironisnya, ia tewas tertembus timah panas Tentara Nasional Indonesia di bawah perintah Brigjen Soekotjo.

Nama Tan Malaka hampir tidak diketahui setelahnya. Makamnya pun baru ditemukan oleh seorang peneliti Belanda bernama Harry Poeze di desa Selopanggung, Kediri pada tahun 2007.

Pada tahun 1963, Soekarno sebenarnya telah memberikan gelar pahlawan nasional kepadanya. Namun, karena pemerintahan Soekarno lengser tak lama setelah itu, nama Tan Malaka kian meredup.

Terlebih lagi pada masa Orde Baru. Jasa-jasanya selama periode kemerdekaan tidak dianggap oleh Soeharto lantaran Tan Malaka diketahui memiliki afiliasi dengan kelompok kiri.

Lain tempat, lain pula kisahnya. Tan Malaka masih beruntung jika dibandingkan dengan Dawud bin Ali bin Dawud Khalaf al-Isfahani. Dia adalah ulama sekaligus pemuka utama mazhab Dzahiri.

Pada abad ketiga dan keempat hijriyah, mazhab Dzahiri sempat berkembang dan memiliki banyak pengikut di Timur Tengah. Namun, pada abad kelima mazhab tersebut mengalami kemunduran dan tidak memiliki banyak pengaruh.

Mazhab Dzahiri diduga mengalami kemunduran karena ajaran-ajarannya tidak terkodifikasikan dengan sempurna. Akibatnya, generasi sesudahnya tidak begitu mengenal mazhab tersebut.

Hal ini tentu saja berkebalikan dengan apa yang dialami oleh gurunya yakni, Imam Abu Abdullah Muhammad al-Syafi’i. Kita tahu beliau merupakan pencetus salah satu mazhab yang paling banyak diikuti di seluruh dunia saat ini.

Salah satu kunci kenapa kelompok Syafi’iyyah dapat bertahan lama ialah karena para pengikutnya dikenal sebagai pengarsip yang tekun.

Al-Risalah misalkan, kitab utama yang dijadikan rujukan dalam mazhab ini pada dasarnya merupakan dialog surat-menyurat antara Imam Syafi’i dengan seorang raja. Setelah wafatnya Imam Syafi’i, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan dibukukan oleh murid-muridnya.

Tak hanya berhenti sampai di sana, dalam mazhab Syafi’iyyah kita juga akan menemukan kitab Thabaqat Syafi’iyyah Kubra karangan Tajuddin al-Subki. Kitab tersebut berisi kompilasi biografi tokoh-tokoh mazhab Syafi’iyyah dari masa ke masa.

Membaca kitab Thabaqat, anda akan mengetahui rangkaian sanad (genealogi) keilmuan mazhab Syafi’iyyah dari generasi awal hingga generasi penulisnya.

4. Menangkal manipulasi informasi

Selain beberapa hal di atas, arsip juga dapat membantu kita agar terhindar dari potensi pemalsuan.

Saat kedua belah pihak berseteru, mau tidak mau verifikasi harus dilakukan. Dan arsip menjadi salah satu sumber pembuktiannya.

Sejarah juga membuktikan bahwa tanpa adanya data yang kuat, pemimpin yang lalim dapat dengan mudah mengelabui pikiran rakyatnya berdasarkan informasi palsu.

Mengutip pernyataan Petrik Matanasi dalam tulisannya di tirto.id, “hilangnya sebuah arsip membuat rekayasa sejarah mudah dilakukan. Ketika rekayasa itu disebarluaskan melalui berbagai saluran resmi, pada akhirnya seluruh bangsa hidup dalam kebohongan.”

5. Untuk menelanjangi inkonsistensi mulut suci para politikus

Dari sekian macam cara, saya kira media digital adalah metode terbaik untuk mengarsipkan sesuatu. Selain karena mudah, kita tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk membayar ruang penyimpanan.

Di Indonesia sendiri bisa jadi politikus adalah makhluk yang paling ngawur. Bagaimana tidak. Apa yang disampaikan mereka tahun lalu bisa berubah seratus delapan puluh derajat ketika kepentingan yang dikejarnya berubah. Tidak sesuai dengan janji-janji yang pernah mereka kampanyekan.

Nah, untung saja di twitter kita punya sosok Bilven Sandalista. Beliau ini merupakan salah satu pengguna twitter yang paling tekun melakukan pengarsipan pernyataan-pernyataan elit politik yang serampangan, saling bertubrukan, tidak konsisten sama sekali, alias ngawur, alias ra mashok.

Beliau bahkan mendapat julukan Bapak Arsip Nasional dari para netizen. Saya selalu terhibur ketika Bilven menelanjangi pernyataan politikus satu per satu. Dari satu inkonsistensi menuju inkonsistensi yang lain.

Di hadapan jejak digital yang telah diarsip oleh Bilven, kesucian mulut para politikus nampak fana, yang abadi belangnya.

Inan

Written by

Inan

Mengelola www.tunapustaka.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade