Kutemukan Wajah “Bodoh”mu

Pertama kali kamu memberiku tumpangan, saat itu gelap sudah selimuti langit. Tetapi masih ada temaram cahaya lampu jalan yang membuatku bisa melihatmu, walau pun ragu. Tak banyak ucapmu memang, meski begitu kamu tetap berusaha untuk memecah keheningan antara kita. Kaku bagiku, entah menurutmu. Saat itu adalah saat di mana aku melihatmu lagi untuk pertama kalinya setelah sekitar setahun kita tak berjumpa. Sayangnya tak dapat kulihat jelas raut wajahmu meski dalam jarak pandang yang dekat. Harusnya kubawa penerangan sendiri untuk menerangi wajahmu. Ditambah lagi kau menutup kepalamu dengan helm. Ya, kau memang sudah siap untuk segera pulang.

Hari ini selepasku mengisi perut dengan beberapa orang temanku, aku harus kembali ke kampus untuk mengambil sesuatu. Dan aku sedang malas untuk berjalan pulang sendirian. Apalagi aku baru saja selesai dengan segala aktivitasku hingga maghrib tadi. Ya, itu hanya alasanku saja agar aku bisa memintamu untuk memberiku tumpangan lagi. Untungnya tadi kamu sedang berada tidak jauh dari kampus, jadi kamu mengiyakan permintaanku. Tapi kamu juga memintaku untuk menunggu di kantin dekat masjid. “Baiklah, toh dia juga pernah menungguku sebelumnya", pikirku. Tak lama aku duduk dan menunggu di sana, aku menyadari kehadiranmu. Aku yakin aku tak salah, aku kenal postur tubuh dan gaya rambutmu. Kamu sedang membicarakan hal penting dengan seseorang tampaknya. Tak ingin aku mengganggu, aku pun memilih untuk membaca catatanku sekadar untuk mereview apa yang aku peroleh dari dosenku hari ini. Satu kali ku alihkan pandanganku padamu, kamu masih bebincang, aku melanjutkan membaca. Dua kali, aku melihatmu lagi, kamu sedang mengecek handphone mu. Saat aku ingin melihatmu untuk yang ketiga kalinya, tiba-tiba kamu sudah berada di dekatku dan memanggilku. Saat itu kamu terlihat gelisah, rambutmu acak-acakan, tak teratur. Aku menahan tawa dengan penuh rasa heran. Ternyata kamu bisa terlihat se”bodoh” itu. Meski begitu, kamu tetap berusaha menyembunyikannya dengan membicarakan hal-hal lain denganku. Yang membuatku heran adalah, saat aku menunggumu dan menyadari kehadiranmu, kamu sedang berbicara dengan seseorang di bangku utara kantin. Akan tetapi saat kamu datang menghampiriku, kamu justru terlihat seakan-akan baru saja turun dari motor dengan helm di tanganmu dan berjalan dari arah selatan kantin. Apakah aku salah lihat, atau memang kamu sengaja memutari kantin? Ah sudahlah, yang penting hari ini aku melihatmu dan wajah bodohmu itu :D
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.