Berkarya Dengan Warna dan Kata-kata

Rahmat Jabaril, perintis Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok.

Tahun 2015 lalu, Bandung masuk ke dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN), dalam bidang Desain. Bandung memang kaya akan kreativitas warganya, baik dalam seni musik maupun seni rupa. Bangunan-bangunan yang ada di Bandung juga tidak bisa dikatakan biasa saja. Berbagai macam taman yang ada juga menjadi ciri khas kota ini.

Sekitar 7 km dari pusat Kota Bandung, terdapat sebuah kampung yang tidak terlalu luas. Jl. Dago Pojok, begitu yang tertulis di depan gapura kampung tersebut. Tidak ada yang spesial dari kampung ini jika dilihat sekilas, bahkan di Google Maps pun lokasinya hanya tertulis sebagai Jl. Dago Pojok, tidak ada spesifikasi tertentu.

Mural di dinding-dinding rumah menandakan bahwa sudah memasuki Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok

Berjalan sekitar 300 meter ke dalam kampung tersebut, ada sesuatu yang menarik. Beberapa dinding rumah tidak di cat seperti pada umumnya, melainkan diwarnai dengan berbagai gambar. Mural, seperti itulah gambar-gambar di dinding itu disebut. Masuk lagi ke sebuah gang kecil yang ada di sana, lebih banyak lagi mural-mural yang ditemui, kanvas-kanvas penuh gambar yang di pajang di tembok, dan pot-pot yang tidak lagi berwarna hitam atau merah. Kampung ini begitu berwarna, seperti taman kanak-kanak dengan lingkup yang lebih luas dan media yang lebih beragam.

“Awalnya dikampung ini banyak pemuda yang tidak memiliki kegiatan, lalu si Om mengajak pemuda dan anak-anak untuk melukis untuk menyalurkan bakat mereka. Kampung wisata ini berkembang karena jasa dia,” ujar Ibu Aisyah (43), seorang penjual makanan di depan gang Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok.

Ditemui di kantor sekretariatnya, ketimbang kantor sekretariat tempat tersebut lebih seperti rumah yang dihiasi dengan hasil karya seni, seperti galeri yang disusun sekadarnya. Rahmat Jabaril tengah duduk di tengah ruangan, di antara karya-karya seni yang terlihat lebih hidup dengan pencahayaan ruangan yang temaram, matanya terfokus pada layar laptop14 inci di depannya. Dia sedang menulis sebuah buku tentang Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok, ada sebuah keinginan dan kesungguhan yang terpancar dari matanya saat menuangkan apa yang dirintisnya ke dalam sebuah cerita.

Sejak 2003 sampai 2009, Rahmat Jabaril yang akrab disapa “Om” oleh masyarakat sekitar ini melakukan ekplorasi dan riset pemetaan sosial di wilayah Dago Pojok. 2009 dilakukan berbagai rapat bersama dengan pihak-pihak yang ikut serta dalam membangun Dago Pojok dan mulai membangun pada 2010. Tidak lama setelah mulai membangun, 2011 resmi dilaunching Kampung Kreatif Dago Pojok. Selama lima tahun setelah dilaunching, Rahmat Jabaril mencoba mengangkat semangat warga akan Kampung Kreatif tersebut. Lalu 2016, pembangunan lebih kepada penguatan ekonomi masyarakat.

“Alhamdulillah, saat ini masyarakat sudah mulai berdiri sendiri, sudah memiliki kesadaran bahwa ternyata membuat karya seni yang sifatnya kreatif pun bermanfaat untuk ekonomi mereka,” ujar pria 49 tahun itu.

Seniman yang pada mulanya memiliki fokus tema seni realis sosial politik ini kini lebih banyak melukis dengan hasil lukisan seperti anak-anak, lebih bebas. Sebuah lukisan besar dipajang di dalam ruangan, lukisan yang menggambarkan suasana gerhana matahari tahun 2016 yang ia lukis bersama anak-anak diatas satu kanvas itu terlihat menawan.

“Kreativitas itu bukan sekadar bisa membuat karya seni, tapi lebih kepada pengenalan diri. Ketika seseorang mengenal dirinya, maka dari situlah makna kreatif bisa tercipta,” paparnya.

Kelas melukis untuk anak-anak rutin diadakah setiap hari Minggu, mulai pukul 10 hingga 12. Anak-anak dibiarkan melukis tidak hanya diatas kanvas, media yang digunakan beragam. Di dinding, di batu, di pot, bahkan di cobek. Untuk berkarya, apapun bisa menjadi media.

Ruang terbuka yang dijadikan kelas melukis setiap Minggu pagi 
 oleh anak-anak Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok.

“Saya tidak terganggu dengan bentuk, jadi lebih eskploratif. Kami melukis bersama, jadi saya melihat kebebasan anak mengalir, saya jadi belajar dari anak-anak sebetulnya. Seperti kemarin melukis gerhana matahari dengan anak anak diluar dengan kanvas besar. Bagi saya jadi ada temuan baru, bagaimana kita orang dewasa membaca dan merespon kecerdasan anak. Itu yang kita coba eksplorasi,” ujar pria yang sudah tidak berambut gondrong itu sambil menunjuk sebuah lukisan.

Dari 6 RT yang menjadi sasaran Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok, 5 RT sudah memenuhi syarat. Seni di dalam warganya sudah terlihat. Tidak hanya Rahmat Jabaril dan lukisannya, ada beragam seni lain di sini, yaitu: pertunjukkan pencak silat, jaipong, gondang, kecapi suling, celempungan, rampak sekar, pahat kayu, membatik, dan wayang. Menurutnya, masih banyak potensi yang bisa digali dari warga kampung ini.

Lewat tulisan yang sedang ia tulis, Rahmat Jabaril ingin dunia tahu tentang Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok. Tulisan yang direncanakan akan rampung pada akhir tahun ini sudah ditunggu oleh beberapa percetakan yang ingin menerbitkannya. Dengan rintik hujan diluar dan cahaya yang semakin temaram, lewat tatapan dan ceritanya Rahmat Jabaril seolah menyampaikan bahwa kampung ini punya potensi, harus lebih dipublikasi agar yang lain dapat termotivasi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.