Televisi Komunitas, Kreativitas Tanpa Batas

“Membangun itu tidak gampang, terkadang yang menikmati hasil yang kita bangun itu bukan kita. Kita melihat Unpad TV ini sebagai bayi, kita membesarkan tapi jangan sampai dia mati.”

Televisi komunitas adalah televisi yang digagas oleh lingkungan atau kelompok tertentu di sebuah daerah sebagai sarana tontonan alternatif. Keberadaan televisi komunitas diharapkan bisa membantu dalam menyebarkan informasi yang mendidik, mencerahkan, serta memberdayakan komunitasnya.

Membangun sebuah televisi komunitas tentu saja bukan hal yang mudah. Sampai pada tahun 2015 saja hanya ada 12 televisi komunitas yang terdaftar di Indonesia. Segala hal tentang kebijakan televisi komunitas di atur dalam PP №51 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Komunitas. Peraturan itu antara lain: Pasal 4, pendirian LPK harus mendapat izin pejabat di daerah LPK berada. Pasal 5, radius siaram LPK hanya 2,5 km dari lokasi pemancar atau dengan daya pancar maksimum 50 watt. Pasal 8–11, tata cara dan perizinan LPK mengikuti prosedur yang sama dengan LPS. Pasal 17, alokasi frekuensi dan jumlah LPK diatur dalam peraturan menteri. Pasal 27, LPK dilarang beriklan, kecuali iklan layanan masyarakat.

Butuh waktu untuk maju

Hal tersebut juga berlaku untuk Unpad TV yang melakukan siaran pertamanya pada 28 Februari 2017. Televisi komunitas yang berada di bawah naungan Media Center Unpad dan dipegang tanggung jawabnya oleh Abie Besman, dosen Fikom Unpad. Abie yang sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik diberi kepercayaan untuk mengelola Unpad TV. Pengalamannya bekerja sebagai warwatan Republika, Kordinator Liputan ANTV di Jakarta, perintis KOMPASTV, dan saat ini juga menjabat sebagai Eksekutif Produser KOMPASTV menganggap untuk diterima di masyarakat, Unpad TV setidaknya butuh waktu 6 bulan sejak siaran pertamanya.

“Wicara Sains” salah satu program siaran yang ada di Unpad TV

“Sebenarnya Unpad TV belum very hard launching. Kami belum memiliki energi yang maksimal, karena kami masih dalam tahap membangun. Kami menabung program yang akan disiarkan nanti. Membangun itu tidak gampang, terkadang yang menikmati hasil yang kita bangun itu bukan kita. Kita melihat Unpad TV ini sebagai bayi, kita membesarkan tapi jangan sampai dia mati,” papar Abie bangga.

Belajar dari pendahulu

Sekalipun pengalaman kerjanya bisa dibilang mumpuni, bagi Abie belajar adalah sesuatu yang perlu. Unpad TV sendiri menjadikan televisi-televisi komunitas lain yang sudah dianggap sukses sebagai pedoman, seperti BINUS TV. Tidak hanya itu, televisi swasta seperti KOMPASTV juga dijadikan acuan oleh Unpad TV.

“Unpad TV berada di FTA, arahkan antena manual diantara 52–54 VHF. Cakupan wilayahnya sampai Rancaekek atau Cibiru. Konten siarannya itu seperti, kita punya keramik anti peluru, kita punya jus khas Unpad, dan Unpad TV ini digunakan untuk mem blow-up apa yang Unpad miliki.

“Youtube lebih dari tv”

Lalu apakah hanya televisi-televisi komunitas dengan modal yang tidak sedikit yang bisa melakukan siaran? Tidak juga. Himpunan Mahasiswa Jurnalistik, Fikom Unpad contohnya, dengan memanfaatkan media tidak berbayar yang ada mampu membuat sebuah televisi komunitas. Dibawah program kerja Departemen Komunikasi dan Informasi, Sibiru TV mengunggah konten-kontennya melalui channel Youtube. Karena saat ini khalayak yang mengakses channel Youtube tidaklah sedikit.

Video yang diunggah Sibiru TV bersifat suka-suka tetapi memiliki makna

“Televisi komunitas jika kita menarik dari artikel yang ada adalah sebuah wadah di mana bisa benar-benar menampung kreativitas komunitas atau mungkin menjadi sarana untuk membuat komunitas kita untuk lebih eksis di media maya,” papar Lingga Wijil, penanggung jawab Sibiru TV.

Mahasiswa semester 6 ini mengungkapkan bahwa sebuah televisi komunitas selain untuk menampung kreativitas anggotanya juga dianggap sebagai pelarian dari televisi konvensional yang saat ini dianggap sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, contohnya anggota komunitas tadi dalam kebutuhan akan media televisi.

Pria yang akrab disapa Wijil ini, dalam naungan HMJ menjadikan Sibiru TV sebagai wadah untuk teman-temannyauntuk berkreativitas dan memberikan sesuatu yang tidak bisa televisi konvensional berikan. Alasan membangun sebuah televisi komunitas salah satunya adalah karena ingin berbeda dengan televisi-televisi mainstream yang ada.

“Di Sibiru TV pun meskipun kami merasa bersaing dengan Unpad TV, hal itu menjadi tantangan tersendiri. Kami kemudian berusaha untuk membuat karya yang suka-suka tetapi dikemas dengan semenarik mungkin sehingga bisa bersaing dengan Unpad TV atau televisi-televisi komunitas lainnya.”

Jangan jadikan batasan-batasan yang ada sebagai penghalang dalam berkreativitas, karena kreativitas bisa dilakan di mana saja dan kapan saja, tanpa batas. Sebagaimana pepatah yang sering di dengan oleh orang yang tidak pernah putus asa, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.