Menyerah, haruskah?

pict by pinterest

Saya tahu, saya egois, sudah lama saya nggak menulis di sini-entah karena nggak ada waktu untuk menulis atau lainnya. Tapi sekarang saya muncul kembali, setelah sekian lama saya menceburkan diri dalam dunia nyata yang kadang-kadang saya pikir bukan dibuat untuk saya-atau setidaknya bukan tempat nyaman buat saya.

ps: kecuali pantai dan perpustakaan.

Once upon a time, saya lagi suntuk, pekerjaan makin banyak, sedangkan gaji belum ada tanda-tanda kenaikan. Belum lagi mungkin saya berada dalam hubungan yang saya sendiri sudah lama kehilangan kenyamanan. Atau memang saya yang emang lagi mendekati kata stress seperti sapi yang baru disembelih kemarin di IdulAdha.

Pada dasarnya, manusia diciptakan dengan batasan tertentu; entah itu dalam pikiran atau kesehatan. Masalahnya, kadang kita sendiri nggak tahu batas itu, dan selama dua puluh tiga tahun hidup itu, saya baru menemukan batas dimana pikiran saya dicurahkan dalam banyak hal.

Rasanya? seperti tiba-tiba udara yang ada itu nggak cukup buat kamu hirup, belum lagi dunia nyata seperti tempat yang nggak kamu kenal lagi, semuanya numplek blek, jadi satu, dan kamu nggak tahu harus memisahkan semua itu dari mana dan dengan siapa serta sampai kapan.

Kadang kamu ingin menyerah-saya juga. Tapi kalau dipikir lagi, Kalau kita menyerah kita bakal dapat apa?

Nothing.

Nggak akan ada yang kamu dapat, nggak akan ada yang saya dapat, yang ada malah semua itu akan meluber kemana-mana, sampai kamu pikir otakmu nggak akan sanggup menanggungnya dan otakmu akan meledak.

Saat saya menulis ini, ketahuilah, saya lagi kerja, duduk di meja kantor, dan ada banyak berkas transaksi keuangan yang sengaja saya tunda kerjaakan hanya untuk menulis ini dan mencoba mengeluarkan apa yang sudah penuh di kepala saya.

Saya suka belajar, saya suka menerima hal baru. Dan di jaman yang serba canggih ini kita banyak di hujani oleh ribuan informasi tiap hari; entah itu kabar kalau Taylor Swift sedang pre order album barunya, atau Selena gomez yang memutuskan untuk tinggal serumah dengan the weeekend bahkan yuang lagi ramai dibicarakan oleh linimasa twitter saya: pajak dari penulis yang besar.

Lupakan itu semua, saya lagi nggak mau membahas media sosial yang menurut saya semakin jahat. Banyak berita benar, tapi lebih banyak lagi berita bohong.

Udah, balik ke topik lagi.

Semalam saya pikir, kalau saya menyerah bagaimana adik-adik saya? bagaimana masa depan keluarga saya?

Hancur.

Bukan hanya hidupmu yang bakal nggak karu-karuan, tapi juga secara nggak langsung kamu membuat masa depanmu suram, apalagi yang masih punya tanggung jawab bernama adik.

Jadi, kita mesti bagaimana?

Sejujurnya, saya masih belum menemukan jawaban itu buat diri saya sendiri, saya masih mencari apa dan siapa atau di mana saya bisa mencurahkan semua beban berat ini.

Walaupun nggak ada yang bisa menandingi selain Allah S.W.T.

Harusnya, kamu nggak perlu takut dengan semua yang bersifat sementara ini, seharusnya kamu nggak perlu khawatir dengan hidup ini, seharusnya juga kamu yakin kalau tuhan nggak akan memberi cobaan yang nggak bisa kamu tanggung.

Seharusnya.

Saya nggak mencap diri saya sebagai hamba yang taat, saya juga nggak sok tahu soal agama, karena memang saya belum punya ilmu agama yang bisa saya banggakan.

Karena saya bukan siapa-siapa, maka saya juga nggak kepengen banget jadi siapa-siapa. Visi hidup saya cuma ingin jadi orang yang berguna, baik itu buat agama, tuhan dan keluarga saya. Nggak perlu jadi presiden atau menteri keuangan.

Cukup jadi diri saya sendiri.

Tapi, nyatanya jadi diri sendiri itu susahnya seperti jadi presiden, sampai sekarang, saya kadang harus jadi orang lain supaya saya bisa sekedar dihargai di lingkungan saya.

Kamu juga?

Saya kira banyak dari kita begitu, berganti topeng setiap waktu agar kita bisa dilihat oleh orang lain.

Susah ya? Banget.

Intinya, berserah aja sama yang menciptakan kita. Nanti biar tuhan yang memberikan jalan sama kita.

Lights will guide you home.

Percaya aja sama Tuhan dan kamu nggak akan pernah kehilangan dirimu sendiri.

Sudah, bos sudah mondar-mandir. Waktunya saya kerja lagi.

XOXO.

Inggrid.