Maaf, Permisi, Kamu Menginjak Jubahku

Kamu kan, bukan superhero, Shindy. Kamu tidak bisa terbang. Kenapa judulmu pakai ‘jubah’ segala?

Karena suatu hari setelah menonton Ted Talk milik Sarah Kay yang ini pemikiranku tidak pernah sama lagi (kapan sih, pemikirannya pernah sama? Dari tahun ke tahun berubah mulu konsepnya -_-).

When you step out of the phone booth and try to fly and the very people you want to save are the ones standing on your cape.

kalimat itu membuatku memikirkan banyak hal …

Oke … dan itu tadi — di atas, adalah intro untuk tulisan di hari yang baru ini (setiap hari bisa kita sebut sebagai hari baru btw, cuman karena tahunnya sudah berganti, tanggal satu di bulan pertama jadi kesannya ‘Whoa! New Year, New Me! Dih -_-)

Oke. Mulai ke tulisan pembuka tahun ini.

Apa yang kamu lakukan kalau tahun berganti, Shindy? Biasa saja. Tidak ada perayaan. Tentu saja yang terpenting menghabiskan waktu dengan keluarga, kita masak-masak sesuatu (bakar-bakaran —bukan rumah ya, tapi makanan), membeli kue, makan malam bersama lalu tidur lebih awal. Pernah sih, sengaja menginap tempat lain untuk suasana baru (tapi sama saja, tidur cepat ujung-ujungnya). Tidak ada pakai nunggu teng jam 12. Kalaupun masih hidup sampai jam segitu, pasti karena maraton nonton film apa gitu, tapi lebih banyak karena terganggu suara petasan.

Lagipula saya benci suara petasan. Empat tahun lalu detik-detik menuju tahun baru saat semua orang sedang bersuka-ria, saya sedang berdiri di luar rumah sakit — menangis dalam gelap (ya, berlebihan mungkin, tapi memang begitu kejadiannya) sambil berdoa agar Ibu bangun kembali. Suara petasan mengingatkan akan memori itu.

Mungkin kamu sudah tahu, saya orangnya penuh nostalgia. Karena itu saya suka foto, surat, kartu-kartu dengan tulisan, hadiah yang diselipkan dengan kartu yang bertuliskan tangan di atasnya. Juga bisa ingat pertemuan pertama, kata-kata selewat, air muka, bau, tempat, suara (kecuali hal-hal seperti ‘tadi naruh Hp dimana ya?’, ‘duh, dompet di mana?!’, ‘ini hari apa ya?’). Kutukan penulis, biasa.

Teman saya pernah berkomentar, “Perasaan itu kejadian udah bertahun-tahun yang lalu. Masih aja lu!” gara-gara kita lagi duduk di suatu tempat dan saya mulai mengoceh lagi soal cerita lama saya patah hati di situ. Bukan karena masih sakit hati, cuman karena masih bisa ingat sejelas-jelasnya. Makanya enggak pernah santai, mikir melulu.

Oke semoga yang di atas tidak melantur. Bukan itu juga yang ingin saya bahas. Karena yang ingin saya tulis untuk diri sendiri: tahun 2017 adalah salah satu tahun kebanggaanku. Please, jangan mikir semua itu karena saya baru wisuda bulan November kemarin atau rilis album (saya ngeband — kali saja ada yang mengira rilis foto album) selalu akan ada yang lebih awesome daripada saya. Tapi, perjuangannya itu sih, bagi waktu, kejar waktu, makan waktu. Oke skip it.

Yang saya banggakan karena sesulit apapun harinya, saya tetap keluar dan menghadapinya. Lagi dan lagi. Mau pulangnya nangis kek, bilang tidak mau coba lagi, bilang tidak mau memaafkan pas bertengkar, inilah, itulah. Besoknya saya tetap keluar lagi. Bebal. Yang penting sudah bisa menyerahkan segalanya yang seharusnya terjadi, toh saya tetap jalan dan mengerjakan apa yang harus saya selesaikan. Bergerak saja terus pasti bisa menemukan sesuatu. Toh saya senang melakukannya bukan karena dipaksa.

Tentu saja saya tidak bisa sebegitu keras kepalanya tanpa peran teman-teman (yang dekat, yang jauh, yang selewat, yang sekantor, yang serumah, yang istimewa) di sekeliling saya yang mem-back-up saya dalam hal apapun itu. Ada saja yang datang dan meringankan hariku. Ada saja yang membuat tersenyum, terharu, berpikir ulang, kagum, menginspirasi. Memikirkan peran mereka membuatku mensyukuri tahun ini karena saya tidak pernah melewatinya sendirian. *let me hug you all*

Jadi yang saya inginkan di 2018 ya, menjaga hubungan dengan mereka semua yang ada di hidup saya. Ya, ya, saya mengerti ada yang harus pergi dan datang. Semua orang tergantikkan. Itu juga menjadi salah satu hal yang banyak saya alami di 2017. Perasaan tidak terima karena ‘harus menggantikan seseorang’ atau ‘digantikkan oleh orang lain’ seringkali muncul. Saya sempat kesal, cemburu, ‘kenapa keadaannya harus berubah?’, ‘kenapa semuanya tidak bisa seperti semula?’, ‘kenapa bukan saya?’. You know, insecure-nya para anak-anak yang kedua orangtuanya berpisah. Tapi, ternyata saya bisa juga menghadapinya … sampai akhirnya menerima. Deal with it.

Ya … kadang ada hal-hal yang tidak bisa dimiliki di dunia ini. Hati-hati dengan keinginan. Ekspektasi terhadap manusia. Asumsi terutama. Tidak mau bertanya bisa jadi lubang kesalahanmu. Gengsi meminta bantuan apalagi. Ingat, manusia tidak bisa hidup sendiri. Ugh, hidup itu memang banyak rumusnya atau saya yang ribet?

(Kamu yang ribet -_-)

Sampai harus ada yang bilang padamu, “Kalau kamu tidak cerita, mana aku tahu masalahmu? Mana ada yang tahu apa yang mereka lakukan ternyata menekanmu kalau kamu tidak bilang?”

Membuka diri selalu sulit, tapi saya selalu bertekad untuk bilang apapun yang saya rasakan dan pikirkan. Jujur. Hiduplah dengan jujur, jangan kebanyakan mengelak. Capek. Membuat keadaan mutar-mutar, belok ke kanan, ke kiri, lewat terowongan, gak sampai-sampai. Penuh drama. Buat sederhana saja, mau jalan atau tidak. Tidak? ya sudah, lepaskan. Mau? ya bilang. Usaha. Kerja keras untuk itu. Beres. Tak usah pakai ngegerendeng.

Duh … habis sudah energimu hanya untuk memikirkan dunia yang sebenarnya tak peduli-peduli amat padamu.

Kembali ke intinya, saya bangga dengan diri saya. Eh, tunggu, tapi judulnya gimana itu?

Itu maksudnya … Saya menginginkan orang-orang terdekat saya juga bilang mereka bangga denganku. Bukan karena dapat ini, dapat itu. Just because its a very long day, and I’ve done my best and I want you to say “it’s enough” waktunya istirahat, bersenang-senanglah sedikit. Lupakan sebentar. Jangan dibawa beban. Percaya padaku. Dukung. Biarkan saya gagal atau melakukan kesalahan. Maksudku, jangan injak jubahku saat saya bersedia jatuh bangun untuk hal-hal yang kucintai. Yang penting terus bersamaku saja. I just need a hug. Sederhana. Ini permintaan kecil. (Dih, kok jadi mual nulisnya … )

Begitulah.

Tenang, saya tidak sedang bersedih. Tone kepribadiannya saja rada sendu. Overall, I always know how to have fun dan menjadi jahil sekaligus. Pisces. You know.

Selesai sudah tulisan di Januari pertama. Let’s see apa yang akan terjadi. I’m in a happy mood, don’t worry.

[Capek juga setelah revisi berjuta-juta kali]

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.