balada kematian seekor kucing

(i)

Lalang adalah radio kejut

Bagi sang malang yang hanya bisa merajuk

Lalu adalah rumah, jalan pulang anak sekolahan

Yang menyangkutkan asa pada maha selamat

.

Parasannya memang halus dibanding di desa

Tapi kemelutnya lebih panas menyayat kulit

Berharaplah siang terus menyilap mata

Agar para pengentut tak betah berlama-lama

.

Riang dan meriang adalah perkara sama

Berbuntut-buntut menghampiri yang tak berbuntut

.

(ii)

Cing, kau lihat sesumbang raut dari anak itu?

Itulah kalut bocah rantau tentang lelahap maktab, Yong

Tiap hari menahan berang, terusir

Karena tak mengenakan kasut yang seperti mereka

.

Apa beda beruang dan belut, Yong?

Lihatlah pada sandang yang terbalut, Cing

.

(iii)

Cing, kemarin ada yang terbunuh disampingku

Mereka adalah gerombolan penyair yang mati kerana syair

Mereka adalah budak-budak yang kehilangan ruang

Mereka adalah para belia yang tiap saat membela diri

.

Apa beda mereka semua, Yong?

Tidak, tidak ada beda Cing.

.

(iv)

Bodoh kau Cing!

Betapa tega kau perlihatkan darahmu,

Usus-ususmu yang terburai di rumah kita

Tanpa seorangpun yang mau menghantar

Kematianmu pada batu kekekalan

.

Ini bukan kematianku sahaja, Yong !

Hanya ingin kupastikan agar “Tuan Besar”

Bertemu dengan Malik dihadapanku

Maka, kutabrakkan sahaja diri ini pada kendaaran keji tuan

Sekiranya, roda penindas itu landas dan jatuh

.

Agar tak ada lagi mereka-mereka yang hilang

Agar tak ada lagi bocah-bocah yang kalut

.

(v)

“Binatang! Kau pikir semudah itu?”

Lupakah kau kita bernyawa banyak, Yong?

Aku hanya menanggalkan satu saja

Aku masih bisa bangkit dan hidup lagi

Meski sekarang telah cacat, perlawananku tetap padat, Yong!