Menjadi “Orang Aneh”

Aneh merupakan kegiatan mengasingkan diri oleh sesuatu dari luar diri dikarenakan tidak sesuai dengan kebiasaan dan normalitas yang ada. Lantas mengapa dengan menjadi “orang aneh”? Pertemuan saya dengan Camus-pertama kalinya ia langsung mengenalkan kepada saya mengenai orang aneh. Mersault-tokoh sentral dalam buku ini-ialah orang yang dimaksud oleh Camus sebagai seorang yang aneh. Mersault adalah orang yang merasa biasa terhadap sesuatu yang luar biasa, tak menangis terhadap kematian, tidak empati terhadap cinta, pernah sekali waktu melakukan sesuatu tanpa sebab, sengaja maupun tak sengaja akan bertanggung jawab pada kelakuannya tanpa pembelaan, bahwa Mersault adalah seorang yang tak berperasaan menurut hakim dihari-hari terakhir hukuman matinya, dan pada akhirnya Mersault memutusakan bahwa “manusia dan bukan Tuhan pada akhirnya yang bertanggung jawab akan segala keputusan dan pilihannya di dunia ini”.

Banyak yang sudah mengetahui bahwa Camus membawa absurditas pada buku ini. ia mencoba menunjukkan bahwa hidup adalah kesia-siaan. Tak ada kebermaknaan dalam hidup. Sekali lagi, hidup yang dijalani hingga titik kematian ini akan tetap tak bermakana. Mungkin terlalu dangkal pemahaman saya terhadap absurditas ini atau bagaiamana para eksistensialis melahirkan absurditas. Tentang bagaimana Camus mulai menulis hal-hal seperti ini, apa yang ia ingin tunjukkan dari dirinya pada tulisannya adalah hal yang pelik dan tidak akan saya jadikan soal pada catatan ini. Namun apa yang saya ingin coba pahamkan diri saya sendiri ialah saya mulai dengan sebuah pertanyaan “Apakah menjadikan orang lain sebagai yang aneh, telah menjadikan kita sebagai yang normal?

Aneh merupakan kata yang lumrah dan berkali-kali digunakan dalam bahasa pergaulan. Kata yang cukup banyak digunakan para pewarta dan penyiar untuk menggambarkan berbagai fenomena politik-sosialis yang baru terbongkar. Kata yang digunakan oleh mereka yang menjadikan pamali sebagai prinsip hidup untuk menghardik budaya kontemporer yang digunakan oleh cucu-cicitnya sendiri. Kata yang digunakan oleh para sesepuh handal yang tak memiliki gelar apapun kecuali yang ia minta pada warga setempat untuk disematkan padanya dalam menggambarkan kejadian-kejadian alam. Atau bahkan kata yang digunakan para mereka kaum maha untuk meremehkan maha yang lain karena tak mau berteriak ataupun sebaliknya.

Mersault merasa biasa dengan pekerjaannya meskipun ia memiliki jabatan yang bagus bahkan ia pun tak menitikkan air mata pada hari pemakaman ibunya, apakah itu aneh? Apakah tak keluarnya air mata bukti kedurhakaan seseorang kepada orang tuanya? Bukankah emosi dan menangis adalah hal yang berbeda? Apakah kita bisa mengetahui emosi seseorang dari seberapa keras tangisnya di batu nisan? Sejak kapan kita bersepakat tangis adalah lagu pengantar mayat? Lantas ketika tak bersedih menunjukkan seseorang tak berperasaan? Tangis adalah reaksi fisiologis dari emotional state tertentu. Tangis bukanlah emosi itu sendiri. Emosi adalah internal state; sesuatu yang berada dalam diri. Apa yang nampak dari emosi ialah ekspresi. Ekspresi adalah sesuatu yang beragam dan yang dapat menyimpulkan hubungan ekspresi dan emosi ialah orang yang melakukan proses sebab-akibat itu sendiri. Selanjutnya, bukankah dalam berkali waktu, orang disarankan untuk mengontrol emosi? Mengapa mengontrol emosi yang dimaksud hanya melulu tentang kemarahan dan kebencian? Mengapa tangis tidak? Bukankah kita tidak adil tentang kesepakatan yang kita buat sendiri, terlebih terhadap diri kita sendiri? Bukankah tak menangisnya seseorang adalah keberhasilan lain dari upaya pengontrolan emosi? Mengapa harus kita menangis pada kematian? Bukankah kematian hanya persoalan waktu, kematian juga ada pada diri kita, lantas kita harus menangisi diri kita sendiri? Kita tidak pernah kehilangan pada kematian. Kematian hanya perpisahan, persoalan jarak yang tertambah. Namun bukankah kehidupan sosial telah membiasakan kita mengenai jarak dan kelas?

Tak merasakan sesuatu pada hal yang luar biasa bukan berarti tak bereperasaan. Jabatan, kemenangan, dan segala tentang kebanggaan adalah kesia-siaan. Sekalipun memiliki segala, berlari bak serigala, tapi kita tetaplah yang digembala. Ada yang melakukan sesuatu tanpa sebab tapi bukan berarti tak berabah. Apakah semua abah memerlukan aba? Bayangkan jika semua hal perlu aba-aba, masih dibutuhkan lagikah kata tulus? Jika iya, apa pula maknanya? Banyak pula yang terus melakukan pembelaan terhadap kesalahan yang tidak dilakukan, lantas buat apa? Bukankah sebab tidak selalu langsung menyebabkan akibat? Mungkin saja apa yang terjadi diakibatkan oleh sebab yang terlupa? Seringkali, kita selalu melakukan hal tersebut. Meng-aneh-kan orang-orang. Kita akan terus melakukannya hingga kita sadar bahwa apa yang kita lakukan mengenai menjadikan orang sebagai yang aneh adalah proses penguasaan individu lain, proses menguasai seluruh kehidupan, karena ternyata kesemua hal itu membuat kita sebagai individualis yang menginginkan kehidupan berjalan sesuai kemauan dan rencanya sahaja. Yang aneh seakan-akan bukanlah manusia dan yang normal adalah manusia. Tapi apakah normal dan aneh memiliki batas yang jelas? Coba lihat lebih dalam lagi? Terlalu banyak hal yang telah kita putuskan untuk menjadikannya aneh, bukankah proses memutuskan itu pula adalah hal yang aneh? Dan pertanyaan terakhir saya ialah manakah diantara kita yang paling aneh, kamu atau saya, wahai orang aneh?

“menormalkan sesuatu yang abnormal demi menjadi normal dari keabnormalan adalah kenormalan yang abnormal”
Kota ‘Yang Maha Dermawan” 12/07/2016. Tulisan ini adalah hal yang paling absurd