tuan-tuan dan perempuan-perempuan perbatasan

tuanku…

kulihat kau bersedu sedan

di malam saling percaya telah lebur

yang baik telah samar oleh keburukan


tuanku…

tak ku lihat lagi kau yang semestinya

pedalamanmu tak nampak atau terganti

aku tak mengerti ..

aku paham saja, kau terlampau kasihan

dipertuan oleh yang penakut

dibenarkan oleh sang pembual

perkasa dalam keseolah-olahan

bersahaja dalam angan-angan


tuanku…

ku lihat kau berdiri sebagai bidak

raja dari relikui pengawalan

kagum mestinya tapi kecewa baiknya

khianat atas kepercayaan

dusta atas omongan

membunuh gerakan kawan

dengan keputusan bertumpu pada pikiran

sementara hati berontak ingin lurus


jauh dalam mata itu

ku lihat kejujuran terang-mentereng

hingga tak nampak sama sekali

tunduklah terus pada budaya tuan

sementara perubahan kian mendobrak-dobrak

pintu kestabilan, patriarki, dan dominasi

mengakukan dan mengkaukan

dikemas dalam kebersamaan khayali

yang abad-abadi

tunjukkan saja keseakan-akanan

toh, leluhur mu jua berlaku demikian

hingga cucu cicitmu menanggung dosa yang sama


lihatlah…

disebrang ada perempuan-perempuan

sejenis dari ibumu yang terus kau umpat

nenek dari segala umat yang kau tawai

resah dan takut beringsut padamu tuan

perempuan perbatasan..

tak mengenal aku atau kau

yang diketahui hanya satu, ummat

keballah mereka terhadap dominasi

bersiasatlah mereka dalam persamaan

bergerak anggun dalam hijab

terus menggertak dengan suara

maju ke nanti berkendara lalu


wahai…

perempuan-perempuan perbatasan

janganlah kalian berpihak pada satu zaman

seperti tuan-tuanku yang telah malu

berzaman ubah bisa menjadikan mu berlebih-lebih

aku ingat sebuah risalah “ tak ada hak yang

boleh lebih dari kewajiban pun sebaliknya”

tuanku telah hilang

kembalikan lagi ia, perempuan

bekerjalah kita pada perubahan

yang seingatku revolusi namanya

untuk kemanusiaan dan ragang kehidupan


December 9th, 2015
coffee toffe