Image for post
Image for post

Buku-buku tersusun rapi dalam kardus bekas yang kubeli di warung kopi. Siang itu bisa jadi salah satu siang yang berat dari beribu siang yang saya lewati di sebuah kota. Kota yang tak pernah alpa di sebagian hati manusia. Kota yang tak pernah cukup oleh kata-kata.

Aku kangen Bandung dan panasnya, gerimis, banjir, serta macetnya diiringi suara klakson di mana-mana. Jemari yang pegal karena menggenggam pegangan di Damri terlampau lama. Atau pantat yang sakit sebab berpindah dari satu ojek online ke ojek lainnya.

Barangkali, yang gemar meromantisasi kota ini tidak hanya aku saja. Mungkin sekumpulan manusia lain, entah yang masih bertahan di bawah langit, atau mereka yang kini sudah menghirup udara pagi di suatu tempat lainnya. …


Kalau kata Eka Kurniawan, cantik itu luka.

Nyatanya, siapapun itu, apapun itu, bagaimanapun itu, pernah menyesap luka.

Bodoh itu luka. Pintar itu luka. Buruk itu luka. Periang itu luka. Pendiam itu luka. Easy going itu luka. Keras kepala itu luka. Ramah itu luka. Baik itu luka.

Tidak ada yang tidak pernah bertemu luka.

Luka itu melelahkan. Menghabiskan banyak energi. Berat. Menyita waktu dan perasaan. Maka, tidak heran kala melepasnya pun tidaklah mudah.

Seringkali ia enggan untuk bergerak dan menutup pintu lagi. Kurasa, tidak hanya aku, tetapi kau, dia, mereka masih belajar untuk itu. Untuk merangkul diri sendiri. Memaafkan. Merelakan. Menjejak perlahan serupa biar luka ini menguap di udara.

Untuk aku, kau, dan siapapun itu, mari menanak luka lalu perlahan melepasnya dengan senang hati. Sampai saatnya nanti, kita bertemu kembali, dengan luka yang telah membias. Lekas.


Image for post
Image for post

Satu masa yang lampau, tidak sengaja berakhir di linimasa seorang perempuan yang baru saja menikah. Sang adik sekilas bercerita, bagaimana kakak perempuan satu-satunya ini akhirnya berlabuh dalam sebuah akad. Bersanding dengan seorang laki-laki di altar sebab masing-masing hati mereka dipilih oleh satu sama lain. Bahwa pada akhirnya, ada seorang laki-laki yang hadir dan bisa mengapresiasi sebuah karya seni yang dititipkan Tuhan.

Saya jatuh hati dengan kata apresiasi yang disematkan sang adik laki-laki. Sebuah kata yang cukup biasa, tapi kedalamannya sungguh berbeda. …


Begini,

kata seorang teman yang tentu namanya kurahasiakan- mungkin tidak akan jadi rahasia pada waktunya kita bertegur sapa- setiap hari kita belajar menerima bermacam rasa.

Rasa senang,

rasa kecewa,

rasa sakit,

rasa iba,

rasa sedih,

rasa semangat,

rasa putus asa,

rasa marah,

dan rasa-rasa yang pernah ada lainnya.

Pada titik tertentu, nun jauh di sana, dengan atau tanpa sengaja, dengan atau tanpa disadari, saat rasa yang lain ini kita coba pupuk perlahan, sampai jauh, sampai melesat pada ruang di atas sana,

sampai ruang ini rubuh,

menjadi puing yang luruh.

Saat yang sama, adalah ia, berubah menjadi ruang yang kembali hampa.

Tunggu, apa yang sebenarnya ingin kukatakan?

Pada saat yang lampau, menit yang akan datang, atau hari yang tidak pernah kau bayangkan, barangkali kau sendiri pernah merasakan.

Dan ya, selamat dan terima kasih untuk senantiasa bertahan.


Saking sedihnya, aku, mungkin juga kau- pernah tak kuasa melepas air mata. Ada sisa-sisa gemuruh di dada, berat dan pengap. Kita mungkin tidak mengenal kata ikhlas; sebab langit tak lagi merona seperti pemerah pipi yang kau oles saat kencan pertama.

Kata-kata mengabur, serupa pekik. Menyayat hari yang kian berani dan kau senantiasa membawa diri kau di antara kerumunan panjang tentang September dan banyak kesedihan. Pilu, rasanya.

Pilu kau gantung bersama kata-kata, gincu, dan pena. Puisi berhamburan di atas kertas, jendela, juga derap tentang rindu akan kita yang baik-baik saja. Sementara, aku dan segala kekhawatiran, tak henti temani kau bersama milyaran bisik doa.

Selepas isya

24 September, 2019


Aku gemar mendengar kesedihan-kesedihan manusia di balik ranum senyum yang merekah. Dijabatnya air mata setelah rona yang sempat bersemi pada masa lampau, basah dan berkarat. Pedih serupa musim panas yang terlambat datang dan ia terkubur dalam-dalam, lebur di bawah tukik gerimis.

Rebah. Kesedihan perlahan rebah. Tanpa permisi, sesuka hati. Di balik kepura-puraan yang disusun sedemikian rupa. Kelak, barangkali ia berhenti membayangi hari esok yang tak mungkin alpa. Sementara ia menjelma sepi. Lambat laun berkawan sunyi.


Image for post
Image for post

Aku ingin kita saling menatap tanpa rasa bersalah. Biar saja di antara tatap kita keluh kesah tentang hari- hari yang penuh resah. Kelak, kita akan saling mendengar dan meredam tanpa banyak pertanyaan.

Aku ingin kita saling memeluk tanpa rasa bersalah. Di bawah birunya langit, menerka bentuk awan yang berarak ke entah berantah. Di antara kelamnya badai dan gemuruh. Sampai berteduh di balik warna-warni pelangi.

Aku ingin kita saling menemani tanpa rasa bersalah. Meski pagi gerimis dan malam tak lagi penuh dengan konstelasinya. Hingga pagi hadir lagi, saat genggaman pada jemari semakin erat.


Image for post
Image for post

Beberapa purnama ini, saya memasuki sebuah pintu baru yang tidak sempat saya bayangkan sebelumnya. Beberapa bulan yang lalu pula, ada pintu baru yang terbuka dan sampai sekarang masih sering saya kunjungi. Juga pintu-pintu lainnya, yang salah satunya sempat saya buat sendiri.

Malam-malam sebelumnya, tanpa sadar pintu-pintu ini terbuka secara bersamaan. Memaksa saya untuk berkelana. Nyaring, dan cukup lama. Sampai tidurpun enggan. Padahal, letihnya luar biasa. Pada satu titik, seorang teman mengingatkan “Sepertinya kamu hanya butuh jeda.”

Sepertinya begitu. Selama ini hari-hari terlalu ramai, tanpa ada pintu untuk kumasuki dengan dua kaki. Untuk sekedar duduk, minum teh, dan bercakap-cakap bersama diri sendiri. Lalu barangkali nanti siap memulai kembali, saat pintu lain kembali terbuka. Serupa pintu lemari menuju Narnia, berkelana memulai petualangan untuk kembali menemukan, atau ditemukan.

image: tumblr


Deru motor bersahutan pelan dan berisik

Padanya melekat denyut berupa gegas, mengharap lekas

Saat langit masih malu-malu, seperti pertemuan pertama di kantin sekolah, waktu tatap bersapa merah di pipi, diantara kerumunan sebelum bel datang kembali

Kue serabi panas dijajakan dari teras ke teras, beraroma puisi yang kau tenun malam tadi dengan perut berbunyi

datang sepaket dengan bakwan tipis nan lebar

Sorabiii, bala-balaaa

dan burung-burung kecil berseru di atap rumahku, di kabel panjang, di ranting pohon jambu,

dan di dada kirimu


What you seek is seeking you. Entah di mana saya temukan kalimat ini, di laman twitter, caption Instagram, atau melengkapi bio seseorang di laman profilnya. Kata-kata ini berdengung lalu membuat dirinya berdiam di kepala. Sengaja saya tuliskan lagi, agar tidak lupa. Sengaja saya rekam pada kata-kata, yang mungkin satu hari nanti akan diingat kembali.

Image for post
Image for post
Terrariumtvshows

Saat mengetikkan jemari kali ini, mungkin saya pun sedang mencari. Sama seperti milyaran manusia lain. Mungkin yang kami cari berbeda, mungkin juga sebuah kesamaan yang nyata adanya. Dan, barangkali yang dicari sedang mencari kita. Di belahan bumi sana, di pagi yang sama, atau malam yang lebih mula, maupun siang yang tertinggal sebentar.

About

Kin

Episodes.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store