Ketika Si Garam Muda Digarami Dan Terangnya Mulai Redup : Mempertanyakan Arah Pelayanan Generasi Muda

Awal-awal minggu ini, saya beruntung bertemu satu buku keren.

DR. John Stott yang nulis. Judulnya “Issues Facing Christian Today.”

Mengutip bagian belakang bukunya, ringkas isinya begini :

“Issues Facing Christian Today is essential reading for Christians who wish to engage our culture with insight, passion, and faith, knowing that gospel is as relevant and deeply needed today as at any time in history. As the culture wars continue, this book will remain a critical contribution, helping to define Christian social and ethical thinking in the years ahead.”

Buku nya bener-bener komprehensif.

Bagian 1 menjelaskan dari isu kontekstual berkenaan begitu kompleks, plural dan pesatnya perubahan dari dunia kita.

Kemudian bagian 2 menjelaskan isu global dari perang dan kedamaian (War and Peace), lingkungan (Caring for Creation), hidup ditengah permasalahan kemiskinan dunia (Living with Global Poverty), dan hak asasi manusia (Human Rights).

Bagian 3 menjelaskan Isu sosial seperti pekerjaan (The world of work), hubungan bisnis (Business Relationship), diversitas etnis (Celebrating Ethnic Diversity), sampai masalah kesederhanaan dan rasa cukup (Simplicity, Generosity, and Contentment).

Bagian 4, menjelaskan isu personal seperti Women, Men, and God, Marriage, Cohabitation and Divorce, Abortion and Euthanasia, Biotecnology, dan Same Sex Relationship.

Dan di masing-masing bagian dijelaskan bagaimana seharusnya seorang Kristen bersikap.

Beberapa topik diatas mungkin didiskusikan di gereja.

Pertanyaannya.

Seberapa hal itu dihidupkan masing-masing anggota gereja.

Christian Should Be Influential.

Sedikit mengutip tulisannya, dia berbicara mengenai “Christian should be influential.

“If society deteriorates and its standards decline, till it becomes like a dark night or stinking fish, there is no sense in blaming society; that is happens when fallen men and women are left to themselves, and human selfishness is unchecked. Where is the church? Why are the salt and light of Jesus Christ not permeating and changing our society?”
“The Lord Jesus told us to be the world’s salt and light. If darkness and rottenness abound, it is largely OUR FAULT and WE MUST ACCEPT THE BLAME.”

Saya terkejut.

Jadi selama ini saya memang dituntut bertindak lebih keras atas permasalahan yang ada.

Saya bertanggung jawab karena saya adalah garam dan terang dunia.

Saya berhenti sejenak.

Momentum Manajemen Infrastuktur Semester 6

Beberapa masalah di bab itu memang menjadi sorotan saya sejak menjadi mahasiswa semester 6 ketika saya mengambil mata kuliah Manajemen Infrastruktur.

Di mata kuliah itu saya jadi kenal United Nations Development Program (UNDP), Millennium dan Sustainable Development Goals (MDG dan SDG), dan masih banyak lagi.

Sejak tahun itu saya jadi memberanikan diri memperdalam beberapa topik sosial, ekonomi, dan sejarah yang ada.

Dan sejak saat itu saya semakin terusik.

Bagaimana gereja bisa hanya berfokus memperbesar “kerajaan keluarga gereja dan sinodenya” serta seperti tinggal diam dalam berperan menanggung permasalahan yang ada.

Bahkan sampai memperbesar rumah dan aset kekayaannya.

Lalu buka cabang di daerah elit.

Jangan heran.

Itu konsep Gereja + Franchise + Real Estate.

Kalau lokasinya strategis, perpuluhannya mantep guys.

Konon katanya bisnis yang lagi up yah bisnis gereja.

Yah mirip money game. Tapi yang jamin katanya “Gusti”.

Ngga tau “Gusti” yang mana.

Kristen Yang Produktif

Menurut saya, semakin seorang bertumbuh dalam Firman, seseorang harusnya menjadi produktif.

Produktif dalam memuridkan banyak orang sembari menjadi saksi di masyarakat.

Apalagi kalau soal penginjilan, ketika salah satu teman saya berkata,

“Tuh makanya penginjilan di gereja X mati. Pada males ngeberitain.”

Ya, saya ada setujunya sedikit.

Abis terkadang orang di gereja lebih fasih ngomongin trend yang ada, model sepatu terbaru, atau mungkin pernikahan Song Couples itu yang jadi bintang DOTS nanti di penghujung 2017, dibandingkan memperbincangkan hikmat Allah dalam firmanNya.

Dalam bukunya Theologi Penginjilan Om Stephen Tong, di paling belakang bukunya ditulis gini:

“Bolehkah orang Kristen menginjili tanpa mengetahui apa yang ia beritakan? Bolehkah orang Kristen yang sudah mengenal Allah tidak membagikan pengalamannya dan pengenalannya kepada orang lain?”

Saya sepenuhnya setuju.

Saya sendiri sering takjub merenungkan hikmat Allah dalam banyak kejadian di Alkitab dan penerapannya dalam Isu global begitu luar biasa.

Tidak habis rasanya untuk membicarakan itu.

Kadang saya masih belajar memberitakan apa yang saya kagumi.

Tapi agak herannya, saya rada sulit ketemu orang yang nyambung peduli gituan.

Apa Yang Saya Pelajari dari Bisnis Marketing dan Sales?

Sejak tahun 2017, saya mulai sampingan bisnis pemasaran jaringan produk jasa keuangan dari salah satu perusahaan jasa keuangan terbesar dari Inggris.

Tidak hanya itu saya juga termasuk dari salah satu agent property di Jakarta Barat.

Saya banyak heran begitu luar biasanya attitude, motivasi, kesabaran seorang sales yang sukses di top jabatannya dalam mengedukasi masyarakat dan akhirnya membeli produk yang ditawarkan.

Kalau pelaku bisnis seperti itu saja begitu getol memberitakan “manfaat produk” sampai mesti jadi pendengar yang baik dan ramah. Sampai kasih pelayanan terbaik demi komisi yang ada.

Kenapa untuk Injil tidak seperti itu.

Produk Penginjilan

Saya dan keluarga saya adalah produk Penginjilan.

Lahir dari latar belakang sebagai keluarga Buddha lalu sejak 2000 sekeluarga diperkenalkan kepada Tuhan Yesus oleh seorang teman gereja.

Saat itu ibarat sales, orang itu bisa closing sekeluarga untuk masuk agama Kristen. (Baru masuk agama loh ya).

Sisanya memang itu perjuangan untuk dibimbing untuk belajar apa itu kekristenan.

Dan proses setelah orang “masuk agama Kristen” pun untuk belajar apa itu Kristen tetaplah disebut penginjilan.

Jadi penginjilan bisa buat orang non Kristen maupun yang sudah Kristen.

Tujuannya ya supaya karakternya menjadi seperti yang dipuja.

Pertanyaannya,

berapa persentase orang yang akhirnya tumbang alias angot-angotan pada saat sudah menjadi Kristen, lalu bantet kayak kue.

Bukannya makin “Kristen” malah stagnan.

Tak jarang merosot.

Padahal diharapkan untuk dimuridkan supaya bisa memuridkan, malah tidak seperti yang diharapkan.

Kristen nya tidak produktif karena tidak sambil praktek.

Tidak sambil memuridkan orang.

Tidak sambil “menginjil”

Masuk Dunia Kerja

Kadang saya sedih seperti ini.

Di tahun penghujung kuliah dan mulai masuk dunia kerja,

Saya malah ketemu orang-orang yang sudah masuk dunia kerja dan kenal kenyamanan,

malah makin hanyut di situ.

Padahal beberapa denger khotbah yah terus.

Alih-alih makin produktif memuridkan, malah nambah hobi baru ini-itu.

Malah nambah keinginan baru.

Malah nambah naik gaya hidup.

Malah nambah tuntutan baru.

Sambil mengasihani diri.

Ya kan masih muda. Bolehlah ini itu. Masih boleh salah. Masih sedikit-sedikit boleh lah.

Dulu saya pernah di masa itu.

Permisif dan mengasihani diri.

Tapi kerasa progress bertumbuh saya stagnan.

Kesimpulan

Gereja Muda ngga boleh apatis.

Alih-alih ngomongin sesuatu yang sifatnya omongan manusia yang sia-sia, mestinya melatih orang di dalamnya untuk mulai biasa bertanya

“untuk apa saya diciptakan dan misi apa yang Tuhan ingin saya lakukan”

lalu bahu membahu menemukan panggilan untuk mendukung Grand Mission Allah untuk KerajaanNya nanti.

Setidaknya peduli tuh sama isu isu sosial dan global yang ada.

Gereja Muda ngga boleh jadiin mimbar panggung Broadway

Mesti cerdas antara memantaskan atau mau manggung.

Narsis jadi orang rohani dengan pelayanan di Gereja itu menguntungkan. Bisa dapat reputasi baik.

Dan Persembahan kasih yang lumayan besar.

Tergantung apakah orang yang di depan benar melayani atau fokus di Persembahan kasih.

Gereja Muda tidak boleh reaktif.

Pasif. Pasrah.

Terang dan garam berbicara soal dampak.

Dan ketika berbicara soal dampak maka tidak lepas dari kepemimpinan.

Kalau dalam Kristen dikenal konsep Servant Leadership.

Proaktif, cepat tanggap.

Khususnya menjadi Saksi Kristus

Makin Kaya Makin Produktif

Mestinya orang makin kaya makin produktif jadi saksi.

Bukan makin kaya makin nambah kece dan makin keren untuk dirinya.

Pemimpinnya harus jadi contoh.

Apalagi pemimpin komunitas.

Kalau kepalanya nge’dablek, yah nular ke anak komunitas di bawahnya.

Ladang sudah menguning.

Mesti kerja keras memanen sambil menunggu ada pekerja yang lebih banyak.

*) Semoga beberapa tahun kedepan saya makin berpengaruh menjadi saksi dan makin dilihat tidak wajar bagi dunia.

Like what you read? Give Insinyurkreatif a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.