Terkadang, perintah Allah itu tidak logis.

-Abu Takeru

Seperti shalat subuh yang berjumlah 2 rakaat, sementara shalat dzuhur berjumlah 4 rakaat. Padahal bisa saja kita pikirkan seperti ini : di waktu subuh kita lebih banyak memiliki waktu luang daripada di waktu dzuhur, karena di pagi hari aktivitas harian belum dimulai sedangkan di siang hari kita sedang berada di tengah-tengah kecamuk kesibukan aktivitas masing-masing. Maka bisa saja kita menyimpulkan bahwa akan lebih baik jika shalat subuh berjumlah 4 rakaat dan shalat dzuhur berjumlah 2 rakaat saja. Namun, tidak begitu kenyataannya. Bukan begitu yang Allah perintahkan kepada kita.

Kata “tidak” pada judul di atas bisa saja kita anggap lebih tepat jika diganti dengan kata “belum”. Seiring berjalannya waktu dan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia telah berhasil menemukan hikmah dari berbagai perintah Allah yang ketika dulu baru diturunkan tidak diketahui hikmah ataupun manfaatnya, tidak dapat dilogiskan dengan akal manusia. Maka, bisa saja hikmah dari persoalan jumlah rakaat yang telah disinggung sebelumnya di masa depan akan terungkap oleh anak cucu kita, bukan? Sehingga kita bisa saja memercayai bahwa seluruh perintah Allah tanpa terkecuali memiliki manfaat duniawi, bisa dipikir dengan logis, walaupun manusia belum bisa mengungkapnya saat ini.

Lalu, jika misalnya hikmah itu rasa-rasanya tidak akan pernah ditemukan hingga hari kiamat tiba, apakah lantas kita menjadikan hal tsb sebagai alasan untuk meninggalkan perintah Allah?

Toh, Allah membuat perintah-perintah tsb untuk menguji kita, apakah kita beriman kepadaNya, ataukah kita malah berbalik dariNya di saat-saat sulit dan tidak logis.

Keimanan bukanlah tentang memercayai sesuatu yang dapat dilihat mata. Keimanan bukanlah tentang memercayai sesuatu yang dapat dipikirkan oleh akal. Keimanan adalah meyakini sesuatu yang tak bisa dilihat mata dan sulit atau bahkan tidak bisa terpikirkan oleh akal.

Wahai manusia, mengapa? Mengapa engkau begitu bersikeras bahwa semua harus begitu masuk di akal? Mengapa engkau begitu bergantung pada apa yang ada di dalam kepalamu itu? Mengapa engkau merasa bahwa semuanya dapat diolah dengan satu organ yang bernama otak itu?

Lagi, dan lagi. Manusia memang begitu lemah, namun herannya mereka begitu angkuh.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.