Gambarnya ngopi di Internet.

Sampah Sekali . . . Sialnya Aku Suka !

Pada suatu sore di bulan Ramadhan, tepat beberapa minggu setelah pernikahan. Bumi menghabiskan waktu-waktu sorenya sambil ditemani Bulan. Bumi dan Bulan, seolah keduanya sungguhan bumi dan bulan yang dilangit. Tak pernah sungguh-sungguh berjauhan.

Sore ini seperti sore-sore yang lain. Hanya saja, menjadi berbeda karena dinikmati berdua. Sebuah obrolan manis menjadi lagu merdu yang mengalun romantis.

“Kamu tahu mengapa aku lebih suka kalender Hijriah daripada kalender Masehi?”

Bumi membuka diskusi anehnya sore ini. Bulan menoleh, malas membahas perkara seperti ini. Dia berharap obrolannya bisa seputar hal-hal romantis, bukan membahas kalender.

Bulan tidak menjawab.

“Karena kalender Hijriah itu memakai acuan bulan.”

Bumi melanjutkan, Bulan menoleh sebentar.

“Gombalan yang tidak romantis, Mas.”

Bumi Tersenyum.

“Bayangkan, betapa manisnya kalender Hijriah. Pada bulan yang sama, Ramadhan contohnya, kita merasakan Ramadhan dalam musim yang berganti-ganti. Kadang Ramadhan di musim panas, kadang di musim dingin, kadang di musim semi, dan kadang di musim gugur. Betapa bulan Ramadhan itu menjadi penuh kesan karenanya. Hal ini tidak akan terjadi di kalender Masehi.”

Bulan baru sadar hal itu. Benar sekali, pada bulan yang sama, kita merasakan musim yang berbeda.

“Seperti itulah perasaanku padamu, Bulan. Pada satu orang yang sama, perasaanku seperti musim, dan semua musim menimbulkan kesan.”

Bulan tersipu. Dan adzan pun berkumandang.

End.

Bukan tulisan saya yah . . . kalau suka beli bukunya.

Jangan pinjem aja bisanya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Gee’s story.