Kopi Itu Kamu

Kadang menikmati secangkir kopi dengan ataupun tanpa kawan semeja tak ada beda rasanya. Sama-sama sepi, sama-sama tak hangat, dan sama-sama hanya sibuk dengan dunia masing-masing. Padahal secangkir kopi dan warung kopi adalah alat yang cukup ampuh untuk mengobati hati yang gundah dengan tertawa dan mendengarkan cerita kawan semeja, tanpa sekat dan tanpa jeda. Begitulah kulihat mereka kali ini. Tapi percayalah, bahwa kebosanan adalah musuh segala umat manusia, dan hanya manusia tercerahkan yang bisa mengatasinya dengan mudah.

Saya pun merasakannya, kadang kebosanan datang dengan tiba-tiba di meja kopi karena teman semeja kopi sibuk dengan relasi dan gebetannya di layar gorilla glass-nya. Tak ada topik bahasan yang tercipta, selain perut yang mendadak kembung. Lalu, apa bedanya menikmati secangkir kopi seperti itu dengan menikmati secangkir kopi ditemani dengan kesendirian? Sejujurnya apa mereka merindukan sepasang mata yang bisa menjadi lawan bicara, membicarakan apa saja dan tak melulu penting. Karena secangkir kopi yang sudah disiapkan di meja, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk berpasang mata di hadapannya. Atau mereka mencari pandang mata lewat kaca maya. Lewat secangkir kopi batas antara penyeduh dengan pengunjung seketika pudar. Pun tanpa mengabaikan potongan-potongan cerita yang mengalir dari teman atau pasangan. Apakah kita makin menjadi sebagai manusia yang cuek –mesti tidak menimpa semua– namun gejalanya bisa kita rasakan. Atau aku yang kurang waras?

Bukankah sudah saya katakan, “waras” itu gila yang terkontrol