Sabtu Bersama Bapak, Minggu Bersama Siapa?
Film yang membuat malam minggu bersama doi harus berubah bersama Bapak. Tapi saya yakin sedikit yang menontonnya di malam minggu, terlebih bersama bapaknya. Film ini diangkat dari novel berjudul serupa “Sabtu Bersama Bapak”, oleh Adhitya Mulya. Ini bukanlah film pertama dari novel dia yang sudah diadaptasi ke layar lebar. Sebelumnya “Jomblo!” juga telah difilmkan, dan menurutku, filmnya yang baru ini pun …. akan dijelaskan di paragraf berikutnya (red:silakan pindah baris)

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka. — Goodreads
Film ini disutradarai oleh Monty Tiwa, yang sukses dengan Laskar Pelangi. Harus saya akui, dia cerdas dalam mengemas Sabtu Bersama Bapak kali ini. Dimotori oleh artis-artis handal seperti Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Deva Mahendra, Arifin Putra, Acha Septriasa dan Sheila Dara Aisha. Film ini menjanjikan dari penguasaan akting mereka, dan memang hampir memenuhi ekspektasi saya. Deva Mahendra sangat cocok sekali dengan karakter “Cakra” tokoh dalam bukunya sebagai anak bungsu di keluarga. Humor dan dialog konyolnya begitu polos dan segar. Sedangkan Arifin Putra sebagai “Satya”, anak sulung, bersama Acha sebagai “Risa” istrinya kurang begitu mengena bagi saya. Abimana Aryasatya membuktikan dirinya sebagai aktor yang tepat memerankan tokoh “Bapak”, meskipun saya belum tahu dia sudah meminta izin kepada Mas Katon untuk bermesraan dengan Ira Wibowo sebagai “Mama”. Intonasi dan ekspresi Abimana, terasa meyakinkan.

Film ini memiliki kelebihan dalam hal dialog bagiku. Dialognya tidak berat, adaptasi yang mulus dari sebuah novel, atau memang materi novelnya yang sudah memudahkan. Humornya segar dan sederhana, mungkin beberapa ada kesan kaku, tapi selebihnya film ini sangat menghibur dari dialognya. Kutipan dan nasehat dari tokoh “Bapak” selalu diulang beberapa kali di skena-skena selanjutnya. Nasehat dan pelajaran parenting yang penting secara subliminal maupun verbal tersampaikan bagiku.
“Jika ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang.”
Peran pembantu dari tokoh standup comedy Indonesia, memberikan warna menarik. Banyak humor lepas yang diangkat dari naskah novel dijadikan materi bit-bit singkat pemerannya. Teknik Riffing (mengulang jokes) pun dipraktekkan di film, saat “Cakra” bercanda hal yang sama pada “Ayu” pada tiga momen berbeda. Kehadiran Mongol Stress menjadi cameo pun punchline tersendiri. Sayangnya jokes yang dilepaskan Ernest Prakasa sangat formal, tidak membuat twist punchline. Mas Adhitya Mulya sempat ambil bagian satu adegan di awal, dan selebihnya tidak ada.
Film ini ingin memeras intisari buku dengan tiga alur berbeda jadi satu alur film berdurasi 2 jam lebih sekian menit. Diakui hal itu cukup berat. Bagi pembaca bukunya, ada beberapa penyesuaian urutan adegan dan latar yang terasa asing, karena berbeda dari novel. Tapi itu demi kekontinyuan alur film yang teratur. Konflik yang dibangun untuk tokoh “Satya” kurang terasa dibanding “Cakra”, sedangkan alur konflik “Mama” dan “Bapak” hanya mengisi sempilan perasaan di adegan saja. Tentu saja Mr. Monty Tiwa tetap piawai mengolah ritmenya sehingga bagiku yang sudah membaca bukunya tidak bosan, dengan bit-bit dialog berbeda.
Walhasil, film yang ditayangkan bersamaan momen Lebaran 1437H atau 2016 masehi ini bagiku sangat ringan menghibur dan berbobot cukup. Siapapun dapat menikmatinya. Orang tua yang membawa anaknya dapat menikmati nasehat parenting dan romansa sederhana. Sedangkan anak-anak muda bisa menikmati jokes segar kekinian serta tambahan tampang polos, ganteng, cantik pemerannya. Begitupun para calon pasangan berkeluarga, nampaknya banyak nasehat terselip. Akhirnya, film ini bila berhasil menyentuh inti rasa Anda. Anda akan menyadari atau merindukan peran Ayah dalam hidup. Lalu esoknya ingin Lebaran lagi, minta maaf ke orang tua. Sekian.
“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan”