Mau Berhasil Bangun Startup? Belajar dari Kegagalan Ini

Sepandainya tupai melompat, pastinya akan terjatuh juga. Begitu juga dalam bisnis. Pasti ada masanya terjatuh dan gagal.

Pertanyaannya, setelah mengalami masa kegagalan apakah ada kesempatan Anda untuk bangkit?

Yuk kita perhatikan fenomena startup yang terjadi beberapa tahun belakangan ini.

Startup adalah perusahaan yang berdiri di tengah resiko dan dibangun atas inisiatif dengan tipikal baru muncul, dengan bisnis yang cepat berkembang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan mengembangkan atau menawarkan produk, proses, atau jasa inovatif. Sebuah startup biasanya adalah perusahaan seperti bisnis kecil, sebuah partner atau organisasi yang merancang model bisnis terukur.

Apa saja startup lokal yang gugur selama 2016? Sebagian ada yang menyerah di industri seperti Tulungin, Zimee, Shopius, HaloDiana, Antar, Fragmentor, dan DevArta Kencana Bandung dan sebagian lainnya menutup proyek startupnya untuk membuat proyek yang baru seperti YesBoss atau seperti Foodpanda yang berencana menjual bisnisnya di negara Asia Tenggara lain.

Berani ambil resiko?

startup itu tidak selamanya indah. Tak semulus rencana di awal. Itu hal biasa dalam bisnis.
Mereka yang pingin sukses juga harus berani gagal. Amazon pernah kehilangan banyak uang beberapa tahun lalu, tetapi kemudian mereka bisa ngatasin masalahnya untuk menciptakan bisnis yang besar dan berkelanjutan.

Amazon pernah ngalamin masa ketika harga sahamnya jatuh dari $106 pada bulan Desember 1999 ke hanya seharga $6 di bulan Oktober 2001, yaitu penurunan sebanyak 94% di nilai pasar. Mereka harus mengurangi karyawannya sejumlah 1300 orang, sekitar 15% dari total karyawannya. Tidak ada satupun startup bergelar unicorn yang berpikir akan mengalami hal ini.

Intinya, apabila Anda tidak mengikuti pertarungan, Anda tidak akan pernah menang, kan?

Kebijakan pengurangan karyawan juga pernah diambil oleh dua startup yang bergerak di bidang fashion di Indonesia. Pertama, startup Sale Stock. Dilansir Tech in Asia (23 Sept, 2016)- Sale Stock udah ngelepasin 220 orang karyawannya. Mayoritas dari divisi customer service. Co-Founder Sale Stock, Lingga Madu, mengonfirmasi hal ini. Ia mengiyakan ada sekitar 200 orang karyawan kena dampaknya dan perusahaan tersebut juga harus memangkas gaji keseluruhan sekitar 13%.

Sale Stock tak sendiri. Startup fashion lainnya yang ngurangin karyawannya adalah Berrybenka. CEO Jason Lamuda mengatakan bahwa layoff tersebut minor, tetapi dia gak menjawab berapa banyak karyawan yang kena dampaknya. Berdasarkan informasi dari dailysocial, Berrybenka sudah mengurangi karyawan sebanyak 40-an orang.

Bahkan Zalora juga menghadapi masa-masa sulit. Perusahaan induk Rocket Internet ngalamin kerugian sebanyak $ 700 juta tahun lalu. Menurut mereka, kerugian ini karena fashion group globalnya banyak yang kurang perform, termasuk Zalora. Banyak e-commerce lokal yang punya alasan buat lebih baik dari Zalora, melalui manfaat dan strategi mereka yang lebih paham sama keinginan pasar. E-Commerce lokal pun bisa tetap gesit dan fokus di masa-masa sulit.

Gak selamanya kisah startup berakhir manis. Di tahun 2016, ada sederet nama startup terpaksa gugur dari pertarungan. Tanggal 3 Oktober, Foodpanda resmi hentikan layanan di Indonesia dan berpikir untuk menjual bisnisnya ke negara-negara Asia Tenggara lain. Tanggal 12 Oktober, startup live streaming Indonesia Zeemi menghentikan layanannya. Selanjutnya tanggal 31 Oktober 2016, asisten pribadi YesBoss menghentikan layanannya. CEO YesBoss Irzan Raditya menjelaskan kalau penutupan layanan YesBoss karena mereka tengah mempersiapkan sebuah proyek baru yang akan membawa ‘angin segar’. Startup lainnya yang gugur tahun 2016 adalah DevArta Kencana Indonesia, Fragmentor, HaloDiana yang merupakan rival YesBoss, Shopius, Antar, dan Tulungin. Beberapa startup yang memberi jasa antar dan asisten virtual gugur seiring berkembangnya Gojek.

Untuk menghindari kegagalan yang masif, seorang founder harus menghindari kesalahan berikut ini:

  1. Euforia berlebihan saat mendapat pendanaan baru

Uang yang diberikan investor bukanlah buat berpesta pora dihabiskan begitu saja. Dana dari investor adalah uang milik para investor yang dalam jangka waktu tertentu harus dikembalikan.

Setelah mendapat pendanaan, seorang founder seharusnya langsung menganalisis segala hal dalam startup yang ia dirikan. Bila ada suatu produk yang terlihat bisa menghasilkan keuntungan besar, gunakanlah dana yang anda miliki untuk mendukung produk tersebut.

Investor juga gak serta merta membuang-buang uangnya untuk startup yang tidak punya sense of responsibility dalam menghasilkan profit. Alfred Sloan, pebisnis otomotif Amerika, pernah mengatakan “tujuan utama dari sebuah perusahaan adalah untuk menghasilkan uang.” Peter Ducker, seorang konsultan asal Australia yang juga selaku pendidik dan penulis di bidangan manajemen, mengatakan kalau profit bukan tujuan bisnis, melainkan justru sebagai tes atas keabsahan bisnis tersebut. Dari dua pandangan yang sedikit berbeda tersebut kita bisa ngambil kesimpulan, tanpa profit apalah arti sebuah bisnis.

2. Tidak cermat mengalokasikan dana untuk marketing

Gunakan dana untuk marketing dengan cermat. Bila produk Anda merupakan sesuatu yang umum dan punya banyak kompetitor, seperti produk makanan, fashion, maka Anda harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk marketing. Sebaliknya jika produk Anda niche, maka tidak perlu banyak uang untuk marketing, karena produk Anda sudah punya peminatnya dan menjawab kebutuhan pasar dengan produk yang unik.

3. Gak gercep (gerak cepat) dalam melakukan perubahan

Ada tiga kunci menemukan ide bisnis: mengkopi, inovasi, atau reinventing (memperbaiki inovasi sebelumnya).

Gojek gak hanya melakukan inovasi, tapi juga reinventing dari ide bisnis para kompetitornya. Gojek mampu menjawab kebutuhan pasar. Awalnya Gojek di tahun 2010 menggunakan layanan call centre, lalu di tahun 2015 Gojek merilis aplikasi iOs dan Android seiring maraknya penggunaan smartphone. Layanan pun berkembang dari yang awalnya terbatas pada jasa antar manusia dan barang, berkembang menjadi bermacam jasa menjadi Go-Food, Go-Mart, Go-Massage, Go-Box, hingga merambah kendaraan roda empat yaitu Go-Car mengikuti jejak kompetitornya Uber. Kini, Gojek pun termasuk dalam daftar startup bergelar ‘unicorn’, yaitu startup yang memiliki valuasi senilai 1 miliar dolar Amerika (sekitar 13,1 triliun rupiah) atau lebih.

Banyak fakta yang menunjukkan bahwa bisnis gak akan bertahan bila tidak cepat beradaptasi terhadap pasar dan berhenti menciptakan inovasi baru. Kita bisa mengambil pelajaran dari jatuhnya Nokia. Sebelumnya Nokia adalah perusahaan dengan reputasi tinggi. Mereka tidak gagal dalam bisnisnya, tetapi tuntutan dunia teknologi begitu besar dan dunia berubah dengan cepat. Kompetitor mereka terlalu kuat. Mereka ketinggalan dalam hal inovasi dan kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup dan berkembang.

Pelajarannya adalah, bila bisnis Anda tidak berubah seiring waktu, Anda akan menjadi kuno dan organisasi Anda perlahan akan berhenti beroperasi.

Selain modal yang besar, kekuatan startup itu bertumpu pada talenta karyawannya. Hire talenta berpengalaman di bidangnya dan jangan segan bertanya pada para profesional. Sekarang ada banyak training-training yang mendatangkan para ahli yang bisa Anda ikuti untuk meningkatkan hard skill dan soft skill.

Jadi apakah Anda berani mengambil tantangan?

(Tulisan ini bisa ditemukan di KASKUS, The Largest Indonesian Community)