tulisanku selalu lahir di malam hari

ia lupa bahwa ia bukan Tuhan

tulisanku hampir selalu lahir di perjalanan

ia lupa bahwa jalanan hanya membesarkan orang-orang yang mengerti tentang kehidupan. orang-orang yang menyalakan api untuk membunuh dingin yang tajamnya nyaris merobek lukisan di karung-karung mereka, lukisan yang juga terlahir dari air dan tanah yang bersetubuh.

lampu merah di sudut kota berdiri tanpa satupun pesan namun melahirkan beribu kesan di mata para penjarah jalanan.

pertokoan yang hampir semua tutup sengaja tidak mematikan lampu terasnya mungkin untuk mereka budak sepi yang terlunta dibalik remang berpura-pura puas sebelum klimaks.

tulisanku kulahirkan saja bukan untuk kubesarkan lalu kusekolahkan dan mengharuskan ia bekerja untuk menghidupiku. aku membiarkan mereka lahir lalu mati dalam sela sela buku yang kusembunyikan di balik mimpi tadi malam.

tanpa harus menjadikan mereka menangis lalu tertawa lalu menangis lagi, itu hanya menyakitiku berkali kali.

seperti berulangkali ku tekankan bahwa asal diriku baik baik saja tak mengapa aku tak bahagia.

siapalah kalian?

mampu terbiasa berbaju tak sempurna di siang hari tengah keramaian?

atau terbiasa ditinggalkan ketika berpendapat?

aku di tertawakan tulisanku, lagi.

Bogor, 02.02 1 Januari 2018

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.