*Mempersiapkan Generasi AqilBaligh dari Masjid (Bagian 1)*

Oleh: Ust. Harry Santosa

Ada sebuah teguran bagi kita semua dalam mendidik generasi, "buat apa kita ajarkan anak Taklif Syar'i, namun tidak kita siapkan mereka untuk Mukalaf (kemampuan memikul beban syariah, dari menyeru kepada Tauhid, Ibadah, sampai kepada Nafkah, Jihad dan Menikah) ketika AqilBaligh tiba".

Ya, umumnya kita sangat concern mengajarkan berbagai kewajiban agama kepada anak anak kita ketika usia 7 -12 tahun bahkan lebih dini, namun kita tidak menyiapkannya pada usia 12 - 15 tahun untuk menjadi pemuda sejati (arrijaal) yang mandiri, punya peran peradaban spesifik yang memberi manfaat bagi ummat dan memiliki kemampuan untuk mengemban syariah itu sendiri dalam makna yang lebih luas sejak berusia 15 tahun.

Kita lihat sepanjang sejarah peradaban Islam, sejak zaman Rasulullah SAW, dari generasi ke generasi selalu muncul para pemuda belasan tahun yang sudah memiliki peran peradaban yang dibutuhkan ummat dan zamannya, yang menebar rahmat dan manfaat.

Lihatlah Usamah bin Zaid RA, telah dinikahkan Nabi SAW di usia 15 tahun dan telah ditunjuk menjadi panglima perang di usia 16 tahun. Lihatlah Imam Syafi'i telah menjadi mahasiswa di usia 11 tahun dan menjadi mufti di usia 16 tahun. Lihatlah Alkhawarizmi telah menjadi pakar matematika di usia 10 tahun dan menjadi guru besar matematika di usia 18 tahun, lihatlah Muhammad alFatih telah memulai ekspedisi penaklukan Konstantinopel sejak usia 16 tahun dan menaklukannya di usia 21 tahun.

Hal ini berlangsung terus sampai abad 20, lihatlah Hasan al Banna di Mesir, Abul A'la Maududi di Pakistan, Muhammad Natsir di Indonesia dll mereka telah memulai debut peran peradabannya ketika berusia belasan tahun.

Mereka bukan Generasi yang hanya pandai dan hafal ilmu agama, namun mereka telah memiliki peran peradaban terbaik untuk menyeru Tauhidullah sesuai peran spesifik yang mereka pilih secara sadar dan dibutuhkan ummat pada zamannya ketika berusia 15- 19 tahun.

Abad ini, generasi seperti di atas tidak lahir kembali. Ummat mengekor habis habisan kepada sistem persekolahan barat, yang diakui oleh peradaban barat mereka sendiri sebagai sistem yang merusak fitrah manusia, sistem yang melakukan pembocahan (infantization) yang melambatkan kemandirian dan kedewasaan sampai usia 25-26 tahun, sistem yang hanya mengantarkan generasi muda Muslim untuk menjadi kuli dan pekerja yang mengais ngais upah di kota kota besar, sistem yang menyibukkan anak anak kita pada persaingan semu yang tak menuju kemana mana (race to no where) tanpa peran peradaban yang jelas.

Maka munculah generasi yang "tidak beradab" pada Allah, pada dirinya, pada keluarganya, pada desanya, pada alamnya, pada zamannya, pada masyarakat dan ummatnya dstnya. Mereka tercerabut dari akar agamanya, akar dirinya, akar keluarganya, akar masyarakat dan ummatnya.

Dari mana Kita memulai kembali melahirkan Generasi AqilBaligh?

Di Indonesia, sesungguhnya para Ulama dahulu telah meninggalkan sistem pendidikan yang luarbiasa. Sebelum sistem pendidikan kolonial dicangkokan di bumi nusantara, para Ulama telah mentradisikan model pendidikan berbasis Masjid atau berbasis Jamaah, seperti Model Pendidikan Surau dan Merantau, Meunasah, Dayah, Rangkang, Langgar, Pesantren dll yang kesemuanya berbasis jamaah atau komunitas dengan pusat pembinaan di Masjid.

Maka mari kita mulai kembalikan peran Masjid sebagai sentra untuk melahirkan generasi AqilBaligh, generasi yang memiliki peran peradaban terbaik, generasi mandiri dan mampu menjadi mukalaf yang mampu mengemban syariah dengan baik, generais yang menebar rahmat dan manfaat bagi ummat pada usia belasan tahun.

Generasi yang tidak memiliki peran peradaban ketika aqilbaligh karena tidak tumbuh aspek fitrahnya, ibarat sungai yang tidak mengalir, menjadi sarang hama penyakit dan sampah yang menebar wabah dan keburukan.

Masjid walau dipenuhi anak anak TPA, namun kering dan sepi dari pembinaan anak anak muda untuk persiapan AqilBaligh. Masjid seolah bukan pusat mempersiapkan anak anak kita menjadi pemuda yang Mukalaf, yang memiliki peran peradaban yang dibutuhkan ummat ketika AqilBaligh tiba.

Masjid kini hanya tempat belajar agama secara terbatas, terlepas dan tidak relevan dengan realitas sosial dan problematika masyarakat sekitar, terlepas dari potensi lingkungan dan alam sekitar, terlepas dari proses mendidik generasi peradaban untuk melahirkan para pemuda sebagai pemeran peradaban dengan kepemimpinan dan karya solutif bagi ummat.

Jika demikian maka Masjid akan sulit diharapkan untuk menjadi pusat dan agen perubahan, terutama jika tidak ada proses mendidik pemuda di dalamnya yang mengantarkan mereka pada peran peran terbaik peradaban.

Kurikulum Pendidikan Generasi AqilBaligh

Berikut adalah prinsip dan asumsi asumsi untuk mendidik generasi AqilBaligh yang menjadi landasan penyusunan Kurikulum Pendidikan generasi AqilBaligh.

(Bersambung)

đź•Ś *Mempersiapkan Generasi AqilBaligh dari Masjid (Bagian 2)*

Oleh: Ustadz Harry Santosa

Kurikulum Pendidikan Generasi AqilBaligh

Berikut adalah prinsip dan asumsi asumsi untuk mendidik generasi AqilBaligh yang menjadi landasan penyusunan Kurikulum Pendidikan generasi AqilBaligh, menurut ustadz Adriano Rusfi .

Pendidikan AqilBaligh ini mulai intensif ketika anak berusia 10-12 tahun sampai usia 15-19 tahun, namun perlahan merawat fitrah ketika usia dini. Umumnya kita menggegas ketika usia dini sehingga banyak fitrah yang rusak, lalu sibuk memperbaikinya ketika menjelang aqilbaligh.

Prinsip Pendidikan Generasi AqilBaligh

1. Anak adalah manusia aqil-baligh dan mukallaf.

Anak berhak mengambil keputusan sendiri atas dirinya
Anak bertanggung jawab atas perilaku sadar dan bebasnya
Anak berhak memiliki ruang pribadi (privacy)
Anak telah terkena hukum-hukum sosial dan syariah

2.Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna, mulia, dan berdaya

Anak harus diberikan kepercayaan untuk mengatasi masalahnya sendiri
Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang bermoral dan mencintai kebenaran
Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang memiliki kelengkapan dasar yang memadai dalam menjalani kehidupan

3.Allah telah menjadikan kehidupan ini sempurna dan mudah, dan tak akan membebani hambaNya kecuali sesuai dengan kadar kesanggupannya

Harus diyakini bahwa tak ada aspek kehidupan yang terlampau sulit untuk dijalani oleh Anak
Harus diyakini bahwa tak ada tantangan, tekanan, dan cobaan hidup yang terlampau berat untuk diatasi Anak.
Harus diyakini bahwa kehidupan itu sendiri telah menyediakan fasilitas yang cukup untuk menjalaninya.

4.Kesuksesan di dunia merupakan salah satu indikator kesuksesan di akhirat

Anak harus dirangsang untuk membangun ambisi kehidupan yang maksimal dan realistis, di genggaman tangan, bukan di dalam hati
Anak harus memiliki perencanaan hidup yang matang sesuai dengan bakat dan kapasitasnya
Anak harus memiliki kinerja yang optimal sesuai standard kuantitas, kualitas dan waktu.

5. Allah itu hidup, berdiri, dan mengurusi makhlukNya

Harus diyakini bahwa Allah tetap terlibat dalam memberikan pertolongan kepada manusia, khususnya Anak, dalam memikul beban kehidupan.
Harus diyakini bahwa Allah telah memberikan bekal khusus kepada hamba-hambaNya dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan yang khas, sesuai dengan ruang dan waktu yang dihadapi

6.Kehidupan adalah guru yang terbaik

Anak harus diberikan kesempatan seluas mungkin untuk menjalani dan belajar dari kehidupan.
Anak perlu dilibatkan secara optimal dalam permasalahan-permasalahan kehidupan di lingkungannya.
Perlu disediakan sebuah model kehidupan yang realistis sebagai wahana pelatihan dan pembelajaran hidup nyata bagi Anak.

7. Allah telah menjadikan kehidupan ini sebagai ladang, permainan, dan cobaan

Anak harus dikembangkan untuk menjadi manusia yang aktif dan produktif
Anak harus diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang menggembirakan.
Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima dan menjalani permasalahan dan cobaan hidup secara alami

8. Keterlibatan dalam realita kehidupan di dunia dengan segala konsekwensinya merupakan prasyarat keimanan dan surga

Anak harus diberikan kesempatan untuk mengalami dan merasakan hukum-hukum kehidupan secara wajar.
Anak harus dihadapkan pada realita kehidupan yang terjadi pada ruang dan waktu kehidupannya.
Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima ujian-ujian kehidupan, baik material, maupun mental

Untuk menjalani Prinsip Prinsip di atas maka berikut adalah beberapa aktifitas yang dapat dimasukkan ke dalam program pendidikan generasi AqilBaligh.

Dalam pembinaan Pemuda di Masjid, maka peran komunitas harus terlibat secara penuh termasuk para orangtua Jama'ah Masjid.

1. Mencari nafkah

Ingatkan jauh-jauh hari : saat baligh, kamu harus menghidupi diri sendiri
Sekali lagi : belajar tega
Jangan penuhi 100 % permintaan
Berbisnis mulai dari rumah
Sharing pekerjaan pada anak
Mulai dari mencari uang jajan

2. Latihan berorganisasi

Berorganisasi adalah berkehidupan
Organisasi : manajemen, kerjasama, kepemimpinan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dsb.
Mulai dari mengorganisir rumah
Menjadi EO acara keluarga
OMIS : Organisasi Murid Intra Sekolah

3. Pendidikan yang berani dan tega

Jaman memang sudah berubah, namun berubah lebih keras
Di luar sana makin tak aman, namun anak jangan disembunyikan
Mewariskan jalan sukses, bukan hasil sukses
Hadirkan si Raja Tega

4. Membangun Tanggungjawab

Anak tak selemah yang dibayangkan
Consequential learning
Tangan mencencang – bahu memikul
“Membalas” perlakuan
Merasakan (sebagian) akibat dari perbuatan
Berikan kebebasan
Serahkan amanah dan tanggungjawab

5. Memecahkan masalah

Anak bukan makhluk bodoh
Jangan sembunyikan masalah
Saling berbagi masalah
Menekan percepatan baligh
Bawa masalah kehidupan ke rumah
Rajinlah berdiskusi
Ajarkan problem solving

(Bersambung)

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikamberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Bagian 1 
https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10211811678117524

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikamberbasisfitrah dan akhlak 
#fitrahbasededucation

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Nurul Aini Irawati’s story.