”Mereka berkata,”Hai Syu’ayb, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah diantara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.” (Hud : 91)
ketika saya menuliskan artikel ini, saya sedang dalam masa orientasi kampus. meskipun banyak pihak yang pendapat bahwa orientasi lebih bersifat negatif, akan tetapi dampak orientasi tak seburuk yang kita stigmakan. Orientasi sendiri merupakan suatu masa kaderisasi agar terciptanya kader-kader yang siap berbaur dengan sekelompok orang dalam organisasi. Orientasi di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Karena bangsa Indonesia berawal dari jajahan para elit Belanda serta Jepang, maka nilai-nilai yang diajarkan dalam kaderisasi tersebut banyak bersifat kepahlawanan serta perjuangan antara pribumi yang ingin merebutkan hak atas dirinya dengan para penjajah yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang semena-mena. Dari atas itulah kita bisa merdeka karena perjuangan dari para kakek-nenek kita yang sanggup melewati rintangan tersebut. Tentunya kita perlu berbangga diri karena negara kita sudahlah merdeka, namun apakah spirit akan “cinta negara” mampu terus diwariskan hingga cucu-cucu kita?
Selain itu, dalam surat Hud:91 juga menegaskan pentingnya meneruskan perjuangan dakwah khususnya kepada generasi yang akan datang, karena fase hidup kita memang seperti roda berputar dan tak selamanya kita berada dalam titik torsi yang sama. Tanpa nilai-nilai dan ilmu yang kita wariskan yang cukup serta pengalaman yang mumpuni, maka generasi masa depan akan teragukan tuk diteruskan perjuangannya. oleh karena itu, yuk kita manfaatkan masa-masa kaderisasi yang kita punyai untuk saling mengenal potensi yang ada pada diri kita, kelompok kita serta lingkungan kita agar mampu menancapkan perjuangan-perjuangan yang linear.
untuk cerita selanjutnya, yuk kenali orientasi kampus lalu bagaimana orientasi tersebut disiapkan, hehe,…..