Masalah Riset Kita

Irfan Mas’udi
Nov 6 · 4 min read

Sempat sebelum beberapa waktu yang lalu cuitan Mas Zaky CEO Bukalapak perihal anggran riset ramai diperbincangkan, Presiden Jokowi dalam kesempatannya pada Sidang Kabinet Paripurna, 9 April 2018, mengeluarkan pertanyaan.

“Rp 24,9 triliun anggaran penelitian per tahun, mana hasilnya?”.

Pertanyaan ini sempat membuat kepala BAPPENAS melakukan kajian ulang terkait lembaga-lembaga riset yang dinilai tidak kontributif, dan jika perlu akan dilakukan tindakan ekstrem dengan membubarkannya. Di lain pihak, dari kacamata peneliti dan perekayasa mengeluh soal kecilnya anggaran riset kita menurut hasil riset terbaru dari UNESCO Institute for Statistics, R&D Magazine, Februari 2019 masih sebesar 0,3 persen dari produk domestik bruto (PDB), jika dibandingkan bahkan menggunakan data lama, China 2,1 persen dan USA 2,7 persen.

PricewaterhouseCoopers (PwC) telah melakukan rilis data riset yang menyebutkan bahwa Indonesia diprediksi menjadi negara berpendapatan tinggi, dan menjadi kekuatan empat besar dunia pada 2050, jika memiliki konsistensi dlam pelaksanaan program jangka panjang untuk memacu produktivitas dan kualitas sumber daya manusia dengan penguasaan teknologi. Menurut PwC, Indonesia akan berada di peringkat 5 di tahun 2030 dengan estimasi nilai GDP US$5.424 miliar dan naik menjadi di peringkat 4 di tahun 2050 dengan estimasi nilai GDP US$10.502 miliar berdasarkan nilai GDP dengan metode perhitungan Purchasing Power Parity (PPP). Posisi tersebut akan menjadikan Indonesia dengan perekonomian big emerging market mengingat posisi Indonesia merupakan negara dengan perekonomian terkuat di Asia Tenggara.

Jika berkaca pada negara-negara asia timur yang telah berhasil menjadi negara maju berkat teknologi, China dan Korea Selatan adalah contoh negara yang mampu menjawab bagaimana linearitas tingginya penguasaan teknologi sebanding dengan tingginya pendapatan perkapita suatu negara, no quid pro quo. Kedua negara tersebut telah berhasil menjadi negara berpendapatan tinggi (high-income country). Karena selain memiliki anggaran yang tinggi terhadap penelitian dan pengembangan teknologi, mereka memiliki blueprint program jangka panjang yang sustainable serta konsisten menjalankan programnya meskipun terjadi pergantian pemerintahan.

Dalam rangka menjawab masalah riset kita, ada bebarapa hal penting yang perlu dilakukan perbaikan. Soal minimnya anggaran. Adalah hal yang tidak masuk akal, dengan alasan minimnya anggaran yang kita miliki kemudian membenarkan lembaga-lembaga riset kita tidak produktif dan seolah-olah tidak ada hal yang bisa dilakukan. Terkait minimnya anggaran, saya pikir hal ini hanya masalah sudut pandang serta keberanian lembaga-lembaga riset kita dalam melihat peluang-peluang yang ada. Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, memiliki luas perairan dengan kandungan sumber kekayaan laut didalamnya, keindahan alam, dan keragaman budaya, adalah sebuah potensi besar bagi Indonesia dalam rangka menarik peneliti-peneliti dunia dari negara-negara maju untuk melakukan kegiatan penelitiannya di Indonesia. Selain menghasilkan luaran seperti publikasi dan jurnal ilmiah yang bersekala internasional, hal inipun juga akan mendongkrak hasil publikasi kita yang masih tergolong rendah, nama peneliti-peneliti kita juga akan masuk sebagai author di lembaga publikasi dan jurnal ilmiah top dunia. Tidak hanya itu, dengan adanya kerja sama dengan peneliti-peneliti profesional dari negara-negara maju, secara tidak langsung akan terjadi knowledge and technology transfer. Hasil dari penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan rujukan dan rekomendasi bagi pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan strategis. Namun juga perlu diperhatikan, bahwa akan banyak sekali kebutuhan-kepentingan dari pihak lain, maka dari itu diperlukan regulasi yang baik dari pemerintah.

Pak Indroyono Soesilo berpendapat bahwa salah satu peran badan Litbang suatu kementerian yang sangat penting, yaitu memberikan rekomendasi suatu proyek dengan memerhatikan adanya proses alih teknologi, pemberian nilai tambah, dan peningkatan kandungan lokal. Menurutnya ada tiga contoh program nasional yang dapat digunakan sebagai rujukan lembaga litbang lain. Pertama, penggunaan radar ADS-B BPPT untuk sistem navigasi via satelit di 320-an bandara Nusantara tanpa radar bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan dan Airnav. Lalu program kerjasama Indonesia-Korea untuk pembangunan kapal induk mini mini landing platform dock (LPD), dengan dua LPD dibangun di Korea melui proses alih teknologi dan dua LPD lainnya berhasil dibangun di Surabaya. Kemudian Indonesia maju bersaing dan memenangi tender internasional dengan membangun LPD versi AL Filipina yang beralih nama menjadi strategic sealift vessel (SSV). Yang ketiga, pengadaan 11 pesawat tempur Sukhoi SU-35 TNI AU 1,14 miliar dollar AS, yang dibagi menjadi tiga pola, salah satunya dalam bentuk offset sehingga Indonesia bisa mendapatkan kontrak untuk membuat komponen Sukhoi dengan skema alih teknologi.

Perihal hilirisasi riset, banyak lembaga riset kita yang tidak serius dalam melakukan kajian, penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena tidak adanya grand-design rancangan yang jelas, road-map proses penelitian sampai dengan timeline penerapan teknologi. Kemudian mengakibatkan hasil luaran penelitian kita yang cenderung tidak terarah, bahkan saling tumpang tindih. Maka perlu adanya seorang manager yang mengatur secara detail arah riset kita kedepan, dengan tugas utama melakukan plotting kebutuhan riset, pembagian lembaga riset, bekerja sama dengan kampus-kampus yang memilki bidang spesifikasi khusus. Sehingga tidak adal lagi riset bersarkan keinginan sepihak, baik dari individu atau lembaga tertentu. Sehingga masukan dari penelitian adalah rekomendasi dari manager kemudian luarannya pun dapat diuji dan terukur. Maka pola riset kita akan jauh lebih tertata sesuai dengan grand-design penelitian sampai dengan penerapan teknologi.

Dengan demikian, dari penataan kembali sampai dengan memperbaiki pola pikir dan sudut pandang kita tentang penelitian dan pengembangan teknologi, hasilnya tidak hanya soal penguasaan teknologi-teknologi canggih luar biasa saja, tetapi dengan menjawab tantangan iptek dan inovasi pada lingkungan startegis era industri 4.0 bukan tidak mungkin Indonesia benar-benar melompat menjadi negara maju.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade