POLEMIK

Apa itu polemik? Secara bahasa, polemik mengandung makna perdebatan terbuka tentang suatu masalah, baik tertulis ataupun terucap.

Di akhir 90-an, pernah terjadi polemik di antara para intelektual dan cendekiawan muslim tanah air. Temanya cukup menarik dan relevan dengan kekinian: “Mencari Kepemimpinan Umat di Tengah Pluralitas Masyarakat”. Pesertanya para jawara yang ahli di bidangnya, semisal: Gus Dur, Jalaluddin Rakhmat, Din Syamsuddin, Cak Nun, Malik Fadjar, Haedar Nashir, dll. Dimuat di sebuah surat kabar secara berturut-turut lalu dibukukan oleh sebuah penerbit.

Karena bersifat terbuka, penontonnya bisa beragam. Namun sebagai penonton kita cukup menikmati saja sembari mengendapkan nilai-nilai untuk memperluas cakrawala pengetahuan kita.

Tapi lain dulu lain sekarang. Di era medsos ini polemik bisa terjadi di ruang yang sangat telanjang. Siapa saja bisa ikut nimbrung. Misalnya profesi Anda sebagai penjual seprei, siapa pula yang bisa larang jika Anda turut berkomentar dalam sebuah polemik ihwal sesat tidaknya suatu mazhab? Atau si Fulan yang ngajinya saja masih belepotan, tiba-tiba berfatwa haram memilih pemimpin tertentu, siapa yang bisa cegah?

Karena itulah wajar kiranya jika media sosial ini nampak begitu gaduh, bergulir dari satu polemik ke polemik berikutnya. Perdebatan yang sejatinya ditujukan untuk menampung sebanyak-banyaknya perspektif menjadi kehilangan maknanya. Bukan lagi kebenaran yang dicari, tidak lagi horizon yang diperluas, namun masing-masing terlihat bernafsu menampilkan egonya: inilah aku dan pendapatku yang benar.

Pertanyaannya, kok kita masih betah saja? Jawabannya: karena siapapun kita boleh ikut nimbrung.[]

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.